Kumpulan puisi ini: Toko Buku, Bebatuan Sungai, dan Bunga Ilalang. Ditulis oleh Rizqy Saiful Amar, seorang pemuda yang menghabiskan waktu dengan berpikir dan berkhayal. Merupakan jurnalis lepas dan mantan anggota Persma yang kabur.
Toko Buku
Seseorang berjalan, pergi. Tanpa melihat sekelilingnya, ia terus maju.
Dalam kemelut hatinya, ia menangis.
“Apakah aku dapat seleluasa melewati malam-malam itu?”
Malam di mana dia tetap bersamaku, mendengar, dan memeluk erat hatiku. Gumamnya.
Lalu ia berhenti di sebuah toko buku. Tangannya yang lentik membolak-balikkan lembaran kertas-kertas magis berisi untaian puisi.
Sungguh indah untaian bait-bait di dalamnya. Bait yang merekam roda masa saat mereka masih bersama.
Bebatuan Sungai
Siang itu, Si Pria tengah duduk termenung menatap sungai. Melihat ombak yang menyibak rangkaian batu.
Dalam kemelut pikirannya, ia berharap roda waktu berjalan mundur. Menebas derita yang ia tancapkan dulu.
Namun, aliran sungai itu terus mengalir. Tak mengindahkan angan Si Pria Kecil. Roda waktu takkan kembali melalui batu yang sama.
Bunga dan Ilalang
Bunga itu telah layu dimakan deru mesin waktu. Aromanya memudar dalam renda sinar matahari.
Rasa yang pupus terluka, lalu disiram air derita. Apakah ia akan terus pergi atau berjalan menolak hari?
Seperti rimbun akar ilalang yang menghujam ke tanah. Rasa sakit itu merontokkan jiwanya.
Sungguh kejam pohon ilalang. Dialah yang menancap luka, membuat bunga tak jadi mekar.
Penyelaras aksara: Hifzha Aulia Azka
Foto sampul: Akwila Chris Santya Elisandri
