Ada dua revolusi yang mampu membantai habis semua hantu.
Satu, jangan buat anak.
Satu lagi bunuh diri.
Keduanya hanya akan tuntas jika dilakukan atas kehendak bebas yang sejati.
Saat pertunjukan akan dimulai, empat pemeran memberi salam pembuka kepada penonton. Cahaya kembali meredup menandai pertunjukan telah dimulai. Terdengar suara perempuan menjerit, lalu hening sejenak. Jun Tsutsui memberi salam hormat lalu membuka dengan kalimat pembuka di awal paragraf.
Seorang perempuan Vietnam dibunuh oleh seorang pria Jepang. Tidak cukup sekali, adegan mencekik hingga mati itu dilakukan beberapa kali. Tubuhnya yang mati kembali hidup, kembali lagi dibunuh lalu mati. Sampai pada jasad matinya yang terbungkus plastik bergerak pelan merangkak berdiri. Meraih gagang bingkai jendela lalu membuka, menggesernya. Bingkai jendela menjadi cermin yang memantulkan sebagian wajah penonton.

Kisah kematian perempuan Vietnam menjadi premis utama dari The Ego and His Loss, sebuah pertunjukan dari Dracom, kolektif seni pertunjukan kontemporer dari Osaka, Jepang. Dimainkan oleh empat pemeran, yakni Yukiwo Okamaru, Minori Sumiyoshiyama, Reiko Takayama, dan Jun Tsutsui yang sekaligus menjadi penulis naskah dan sutradara. Pertunjukan digelar pada 31 Juli 2026 di Pendopo Diponegoro, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) menjadi rangkaian dari program Asia Playwrights Meeting 2026 di Yogyakarta.
The Ego and His Loss terinspirasi dari sebuah peristiwa nyata, perempuan Vietnam dibunuh pria Jepang di Osaka pada April 2022. Melalui catatan yang diberikan kepada penonton, Dracom melalui pertunjukan ini ingin mengajukan sebuah pertanyaan tentang bagaimana masyarakat kontemporer melahirkan kekerasan, keterasingan, dan kehilangan. Dracom berupaya menghasilkan bentuk dramaturgi yang menghadapkan penonton pada persoalan-persoalan kontemporer.
Kapitalisme global menjadi salah satu penyebab yang jauh namun mendasar, melatari persoalan yang semakin nyata dengan dampak naluri yang keji. Manusia membunuh manusia. Menebalkan apa yang ditandai sebagai abad kecemasan kemanusiaan. Seorang pria Jepang paruh baya yang bekerja sebagai sopir truk membunuh perempuan Vietnam yang bekerja sebagai karyawan toko.

Jasad mati perempuan menghantui pria yang membunuhnya, ”Maukah Bapak ikut mengiringi prosesi pemakamanku? Bila aku terlahir kembali, aku akan menghadiri pemakaman Bapak”.
Hubungan antara Jepang serta Vietnam ditebalkan sebagai bingkai wacana, merujuk pada kematian dua juta warga Vietnam akibat kelaparan pada awal tahun 1945. Jepang yang saat itu menduduki Vietnam membeli beras dalam jumlah besar dengan harga di bawah biaya produksi. Kondisi kelaparan hebat dialami masyarakat Vietnam. Karyawan toko yang merupakan perempuan Vietnam itu menyampaikan,
Ini kisah musim semi di Vietnam, yang kudengar dari nenek buyutku.
Di tengah bencana kelaparan,
tentara Jepang melahap habis semua persediaan beras Vietnam yang memang sudah langka.
Dua juta orang Vietnam mati kelaparan.
Anggota keluarga yang telah mati kelaparan dikeluarkan dari rumah,
dijajarkan di tepi jalan. Karena musim semi akan membusukkan jenazah.
Melihat pemandangan itu, orang-orang Jepang,
Prancis memuntahkan nasi yang mereka makan.
Orang-orang Vietnam yang tinggal tulang berbalut kulit,
mengerahkan sisa tenaga mereka untuk menyeruput nasi yang telah dimuntahkan itu.
Mereka tak lagi punya tenaga untuk menggali liang kubur.
Mereka membakar orang-orang tercinta
yang sebenarnya ingin dikembalikan ke tanah. Air mata pun tak lagi tersisa.
The Ego and His Loss masuk dalam daftar nominasi Kunio Kishida Prize, penghargaan bergengsi di Jepang untuk penulisan naskah drama kontemporer. Dracom mendapat banyak dukungan serta kesempatan, termasuk menggelar pertunjukan ini di luar Osaka, setidaknya di tahun ini terselenggara di Yogyakarta dan Jakarta (Djakarta International Theater Platform).
Isu lokal yang terjadi di Osaka mengalami perluasan makna atas pertemuannya dengan publik penonton serta masyarakat media. Hubungan negara-negara terbangun melalui panggung seni kontemporer yang menandai setiap identitas pada arena wacana dengan ketegangan yang terus berlangsung. Misalnya Jepang (sedang) memilih Vietnam.
Pertunjukan tidak berhenti saat cahaya berlarut padam dan tepuk tangan panjang penonton menyambutnya. Kisah itu terus bergulir. Kematian perempuan Vietnam menjadi lebih hidup sebagai realita sejarah serta hubungan antar negara. Cerita kematian terus dihidupkan menjadi identitas dari bingkai wacana yang terus dikembangkan. Tentang kemanusiaan dan pertanyaan yang lebih mendasar tentang manusia, bagaimana akan bertahan dan memenangkan pertarungan?
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto Sampul: Kai Maetani



