Saya curiga album baru Barmy Blokes, Blong, hendak mengecoh para pendengarnya. Sebagai pendengar, saya mengartikan Blong bukan sekadar “tanpa isi” atau “tidak berfungsi”. Lewat pengertian yang tumbuh di sepanjang Jalan Lawu, penghubung Surakarta dan Karanganyar, Blong adalah keberanian.
Menyambung pengertian leksikal dan kultural sebelumnya, tanpa membebankan makna apa pun kepada Blong, senyatanya menjadikan album ini semakin kuat. Bayangkan ketika keberanian tumbuh tanpa kontrol, tidakkah di sana berkelindan arti yang bisa menyengat siapa pun? Dalam artian lain: pendorong, pemantik, atau bahkan peringatan.
Di tengah gelombang standarisasi pelekatan kata paripurna pada sebuah penciptaan, Barmy Blokes memilih jalan yang lebih natural: “inilah kami!” Blong serupa proposal yang diajukan kepada pendengar untuk menggugat batasan terhadap nilai-nilai tertentu. Blong berada di tengah-tengah pedestrian yang tata letaknya berantakan. Karena itu, Blong tidak membutuhkan ruang berpendingin atau keniscayaan arsitektur.

Jika para pemikir menuntut kedalaman makna, Blong tidak ingin berada di posisi tersebut.. Dengan menanggalkan pengertian-pengertian yang muncul dari kelas, diskusi, atau seminar, Blong sepertinya lebih tepat diajukan sebagai gugatan. Pengertian holistik dan konkret sudah terlampau sering muncul dari ruang berpendingin, sementara sesuatu yang lahir dari jalanan sering diabaikan.
Jika masih belum terbiasa dengan pengertian “terasing”, maka Barmy Blokes memberi stimulus lewat jalan berlubang, bergelombang, dan pohon pisang di tengah jalan saat musim hujan. Tanpa perhatian atau riuh riak yang teredam. Itulah yang membuat pengertian keberanian yang melekat pada album ini, sebagaimana sudah saya tulis sebelumnya, menjelma menjadi kenyataan.
Ketika sesuatu butuh pengantar agar semua menjadi jelas, Blong memilih kenyataan di antara titik abstrak. Di sana, warna adalah kebebasan, suara menjelma denting, dan kata benar-benar arbitrer. Maka, Blong justru mengemban persimpangan preposisi. Di mana pertanyaan mengiringi pertanyaan lain yang menuntut sesuatu yang holistik, konkret, dan menuntut kedalaman.
Barmy Blokes menawarkan keriuhan ruang, goncangan terhadap gelas yang sudah terisi, dan tempat yang tidak pernah dipandang, seperti program yang dipaksakan tanpa mencari tahu terlebih dahulu apa yang dibutuhkan. Inilah kenyataan atas nama Blong. Siapa yang sebenar-benarnya “tanpa isi” atau “tidak berfungsi”? Kita semua merasakan dan mengetahuinya, namun terlalu kabur jika mencarinya.
Saya kira begitulah cara Barmy Blokes mencoba mendedah keadaan lewat Blong. Selain itu, Barmy Blokes sepertinya tidak menitikberatkan pada keberhasilan. Mereka seolah lebih memilih mengejawantahkannya lewat pesan khas yang jamak ditemukan di Surakarta: “anane ngene iki, rasakna dhisik.”

Blong layaknya seseorang yang sudah telanjur lapar di tengah malam, tetapi satu-satunya pilihan yang paling mudah ditemukan di Surakarta adalah nasi liwet. Dengan kata lain, ketika tak ada pilihan, satu-satunya keputusan yang mesti ditempuh adalah maju atau kematian yang akan menjemput. Barmy Blokes melepaskan mesin dua tak yang tidak terkendali. Sungguh liar.
Bayangkan saja, alih-alih menerjunkan pasukan pendengung untuk membuat mereka tampak baik dan sempurna, Barmy Blokes memilih menggunakan diri dan karya-karya mereka sebagai bahan serangan. Pada lagu pertama berjudul “Barmy Blong”, tanpa tedheng aling-aling, mereka menunjukkan keberanian hati mereka yang bersinar itu layaknya mengunci semangat para pendekar.
Barmy Blokes akan selalu bersinggungan dengan Surakarta. Kota itu konon dikenal santun, berbudaya, dan tenang. Namun, Barmy Blokes gambarkan ulang lewat narasi liyan. Blong adalah debu jalan lingkar Surakarta bagian utara yang keras, apa adanya, dan riuh.
Karena itu, jika pendengar berharap menerima irama yang menenangkan, maka tidak dengan Blong; Ia adalah suara glodok-glodok truk tronton atau knalpot brong.
Keadaan semacam itu juga bagian dari identitas kota yang perlu diakui keberadaannya, diperhatikan, dan dirangkul apa adanya. Blong mengambil peran dalam ruang kota yang terlampau dipoles, agar kenyataan dilihat sejujurnya; bukan tabu atau dianggap kekurangan.
Identitas: Barmy Blokes, Blong (2026)
“Kita tidak kekurangan orang pandai dan jujur, tetapi kita enggan memberdayakannya.” Begitulah salah satu celetukan yang saya dengar ketika nongkrong di pos kamling. Bahasan semacam ini tidak lantas berarti penerimaan total atas keadaan, tetapi kita juga harus mampu bertahan dalam kondisi apa pun. Lagu kesembilan Blong, “Mr. Edi”, kira-kira adalah gambarannya.
Bagaimana dengan delapan lagu lain? Barmy Blokes berbicara banyak tentang keberanian. Meminjam semangat Barmy Blokes, Blong menegasikan anggapan bahwa keberanian memiliki batas. Tegas sekali Barmy Blokes uraikan lewat lagu ketiga mereka, “Baja Besi”. Pada satu lirik: “…walau berkarat, ‘kan ada tekad…” memberikan tarikan atas konteks pilihan hidup di Indonesia; jika bukan siapa-siapa, maka ia harus terus bertahan dan melaju. Ia membentuk, membangun, dan merangkul ketetapan untuk hidup, bukan menghargainya dengan kata mati.
Meskipun begitu, Barmy Blokes tidak menjadi impulsif karena keberanian tidak selamanya melekat pada kemenangan belaka. Kekalahan juga sesuatu yang melekat di balik keberanian.
Topik inilah yang dieksplorasi lebih jauh oleh mereka lewat lagu “John Kalahan”. Bahkan, “John Kalahan” menyodorkan permasalahan struktural; kemenangan atau kekalahan berkaitan erat dengan pengambilan keputusan individu yang kadang-kadang lebih sering terjadi karena situasi daripada pertimbangan strategis.
Apa artinya kedalaman jika yang membicarakannya tak pernah menengok permukaan? Apa fungsinya holistik bila temuannya berjarak dengan kenyataan? Bagaimana menerjemahkan arti konkret andai tak sadar bahwa yang satu hanyalah keinginan, sementara di hadapannya justru warna-warni?
Blong bisa dirayakan dengam konfeti atau bahkan jadi bahan refleksi. Andai saja saya saudaranya, atau paling tidak teman lingkarannya, atau paling buruk adalah simpatisan yang kenal temannya Lemmy Kilmister, mungkin akan meminta mereka memutar Blong di hadapan pusara pendiri Mötorhead itu. Sayangnya, saya adalah warga Mojogedang yang lebih sering berkomunikasi dengan Mbah Wignyo.
“Carane nggitar kados ngoten niku pripun, Mas?” Tanya Mbah Wignyo ketika saya perdengarkan album Blong.
“Niku rencang kula, sanes kula, Mbah. Kula mboten ngertos,” jawab saya sekenanya.
Peristiwa dengan Mbah Wignyo mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tetapi idak bagi saya yang memutar Blong dengannya. Album ini membuat saya berani untuk memutar musik yang sama sekali tidak pernah dikenal orang di sekitar saya. “Blong” adalah kata yang digunakan siapa pun dalam hidup, walau lebih kerap jarang pengakuan tentangnya.
*Esai ini digunakan penulis sebagai pengantar moderator dalam acara sesi dengar Blong (2026) di Pagars Backyard, Kota Surakarta. Selasa, 5 Mei 2026.
Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto Sampul: Barmy Blokes






