
Curhat Colongan dari Lantai Pameran Biennale Jogja 18 di Monumen Bibis
Sebuah catatan berproses di Biennale Jogja 18 tentang infrastruktur yang tak pernah benar-benar siap.

Dari Kios Diorama ke Omah Samin: Melepas Bentuk dan Tumbuh Bersama
Dalam perhelatan Biennale Jogja 18, kami berusaha membuka kemungkinan karya seni “untuk” dan “bersama” publik—sebuah lelaku yang mungkin tak tampak secara visual, tetapi justru membuka pintu pengetahuan lebar-lebar untuk dirayakan dan dialami bersama.

Film ‘Pangku’ (2025): Kelambu yang Melindungi Sartika dari Tatapan Maskulin dan ‘Saru’
Walaupun ditempatkan dan dipertemukan dalam tradisi patriarki, rasanya mudah melihat bagaimana perempuan menggerakkan cerita film ‘Pangku’ melalui keputusan-keputusannya.

Kami Generasi Z Mengeja Mia Bustam
Pameran Arsip Mia Bustam di Biennale Jogja 18 mengajarkan kami generasi Z mengeja sejarah Mia Bustam yang terlewat.

When Noise Feels More Human than Pop: Romantika Kegelapan Pelteras dalam ‘Krisan’
Lewat album ‘Krisan’, Pelteras meyakinkan kita bahwa kebisingan juga bisa menjadi bentuk cinta, cinta yang tidak butuh algoritma untuk terasa nyata.

Last Living Ceremony: Ritual Terakhir Sebelum Punah?
Last Living Ceremony memiliki potensi untuk memulai kembali perbincangan sebagai upaya “kelahiran kembali” atas heningnya skena musik rock.

Manifesto Kejujuran Holden Caulfield: “The Catcher in the Rye” Sebagai Kritik Sosial dan Budaya Modern
Dalam novel “The Catcher in the Rye”, Holden Caulfield mengajarkan bagaimana seharusnya manusia berlaku sewajarnya sebagai manusia yang jujur.

A Safe Space for Unsafe Ideas – Cendera Mata #5 Sudut Kantin Project
Beberapa waktu terakhir, kami sering memikirkan soal ruang. Selama lima tahun menyebut diri sebagai media komunitas (atau alternatif) semacam ini, kami bersepakat: tidak ada ruang yang benar-benar aman jika ide-ide di dalamnya takut berisik. “A Safe Space for Unsafe Ideas” frasa yang kami racik sebagai semboyan untuk cendera mata babak #5. Sudut Kantin Project, kami…

Orang-Orang Pesantren dan Semaan Puisi di Rumah Sapardi Djoko Damono
Di rumah Sapardi Djoko Damono siang itu, jadi salah satu pertemuan paling berharga dalam hidup saya: menyimak orang-orang yang bertungkus lumus dalam dunia pesantren, bertukar kisah, dan pengalaman.

Teater Manekin: Ketika Tubuh-Tubuh Bebas itu Mati di Ruang Rias
Lakon “Ruang Rias” Teater Manekin dapat dimaknai sebagai potret suram citra diri kita serupa manekin-manekin cantik yang diam.

Copet Itu Berengsek dan Gigs Tak Butuh Sampah Sepertimu!
Copet di gigs adalah bentuk yang menjijikkan dari manusia yang kehilangan arah.

Titik-Titik: Kumpulan Puisi Faza Nugroho
Kumpulan puisi ini: Titik Balik, Titik Tolak, dan Titik Temu ditulis oleh Faza Nugroho. Seseorang yang sedang belajar bahasa di Yogyakarta. Sudah lama kita berkawan,sekian puluh purnama berlalu Kita pilih untuk pulih bersama Esok pagi kau pergi berlabuh,tiada lagi cangkir kuseduhdiiringi cerita sedih semalam utuh Wediombo tinggal rencanaDieng dan Andong tinggal renjanaKita pasti bertambah tuatanpa benar-benar bertumbuh Sehimpun tawa tak…
Dukung Sudut Kantin Project tetap ada.











