Setiap hari, lewat berita digital, artikel koran, informasi audiovisual, dan sumber sejenis lain, kita kerap menyerap sesuatu yang disampaikan oleh otoritas. Kita tak bisa menyangkalnya, sebab hal itu adalah fundamen yang berurusan langsung dengan kehidupan kita. Namun, bagaimana dengan sesuatu yang hadir dari antah berantah? Apakah tidak sama pentingnya? Mengingat hal itu justru dekat keberadaannya dengan kita.
“Tagihan kurang sehari, masih belum ada uang untuk membayar, Mas.”
Begitulah, bahasa interaksi yang lebih sering saya dengar setiap bersama tetangga atau teman-teman. Tidak ada bahasa ngayawara yang sundhul langit: “Kita akan menjadi penguasa dunia!”; “Ini semua ulah para perlente yang menghisap kekayaan kita!” Serta, kalimat-kalimat sejenis lain yang bermaksud membesarkan hati kita. Tidak. Hal itu sepertinya sudah sulit dirasakan lagi. Harapan tinggal di awang-awang belaka.
“Makarya saben dina, kok, isine mung nggo bayar setoran.”
Mayoritas tetangga dan teman-teman saya tidak bermain judi online. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan dengan hasil kerja, tapi senyatanya belum mencukupi biaya hidup. Artinya, sambat yang tersampaikan dalam perkumpulan tersebut bukanlah sebentuk refleksi, namun justru kenyataan yang tanpa jalan keluar. Bukankah itu realitas yang kita hadapi sehari-hari?
Saya memiliki teman dekat, seorang guru honorer berdedikasi. Sepulang sekolah, ia masih bekerja sebagai seorang kurir obat kantor pos di malam hari. Mungkin, bagi warga Mojogedang dan Kerjo tampak biasa saja, sebab hampir semua sama kondisinya dengan teman saya. Situasi paling nggrantes adalah mendengarnya bercerita, ketika berkeluh tak ada waktu untuk sekadar menikmati masakane ibuk.
Jika wejangan dapat menyelesaikan masalah, mungkin persoalan ini teratasi. Masalahnya, sulit menemukan penenang di tengah kondisi semacam ini. Kita justru melihat ketidakmampuan komunikasi—bila sulit menyebut kebijakan—subtil dari pihak yang seharusnya mengurus kehidupan kita. Tidak mungkin, kan, kita menggunakan obrolan tongkrongan untuk mengkritisinya: mampune ya mung sak mono kuwi tok.
Kondisi terhimpit ini bisa terjadi di mana saja. Sila buka data para ahli ekonomi yang terus memperingatkan bahwa kondisi ekonomi tidak baik-baik saja. Saya memang kesulitan menafsir pengertian yang disampaikan oleh mereka. Tetapi, saya meyakini apa yang terjadi di sekitar saya adalah bentuk nyata pandangan itu.
Di sini lah kesempatan kita membaca zaman lewat bahasa. Rasan-rasan, sambat kanan-kiri, adalah realitas yang kita dengar sehari-hari.
Kondisi itu sekaligus memberi pengertian bahwa kita pun kesulitan membantu mereka. Lha wong kita berada di titik yang sama. Andai saja mengumpat sah dilakukan di pelbagai tempat, bayangkan, apakah hal itu tidak lebih puitik daripada puisi Pada Suatu Hari Nanti-nya Sapardi Djoko Damono?
Mungkin saat ini pola sambat sudah berubah. Mengingat batasan regulasi yang terlampau jauh sehingga membatasi kejujuran kita akan keadaan. Bisik-bisik. Hanya itu yang mungkin bisa diupayakan hari-hari ke depan. Saat di mana hendak bicara jujur justru mesti menggunakan siasat agar tak terbaca sebagai sebuah kesalahan.
Zaman Bergerak, dalam pandang Takashi Shiraishi. Kita juga setiap hari bergerak untuk hidup. Meski akumulasi pendapatan tetap saja, stagnan. Kesungguhan yang paling disadari setiap dari mereka yang merasakannya adalah keinginan menyampaikannya. Namun, apakah waktu—hari ini—sedang berpihak kepada kita?
Bahasa saat ini sedang dalam situasi kritis. Penggunanya yang tanpa tedheng aling-aling, kini justru penuh dengan aling-aling. Keberanian mungkin tak lagi menyelamatkan, tetapi justru serupa ancaman terhadap diri sendiri. Karena di hadapan kita ada kuasa yang menganggap bahwa keberanian adalah pengganggu stabilitas.
Mulanya kita mengenal bahasa sebagai alat komunikasi. Ia mewakili segala perasaan yang kita emban: bahagia, sedih, kecewa, marah, bahkan kesahajaan pandang. Bahkan, bahasa mengakomodasi sesuatu yang tak kita sukai untuk dicurahkan. Dengan begitu, kita mengerti bahwa bahasa ialah jalan. Ia memberi peluang seseorang menuju sebagaimana rencananya.
Ke depan mungkin kita akan sulit menemukan itu lagi. Rasan-rasan yang mulanya terasa hangat, berubah menjadi dingin. Sambat yang biasanya melegakan, justru tak lebih dari arti sendat. Sebab, di situ bahasa sedang terkontrol. Tak ada kebebasan baginya untuk memproduksi sesuatu.
Ketika kita mendengar seseorang kesulitan membayar tagihan, misalnya. Artinya, pengetahuan sedang kita serap. Apabila kita seorang pembelajar, tentu yang kita pikirkan adalah bagaimana cara mengatasinya. Bukan menandainya sebagai pengganggu.
Yang mahal hari ini adalah kemampuan mendengar, menyerap, dan mengaplikasikan bentuk pikiran sebagai jalan keluar.
Di sisi lain, apabila kita dalam posisi yang sama, jelas akan saling menguatkan dan mendukung. Begitulah seharusnya bahasa berkedudukan. Ia membagikan pengantar pengetahuan sekaligus pemberi kelegaan. Saat bahasa tidak lagi dalam kedua posisi tersebut, kita mesti bertanya: mengapa?
Apa yang lebih arif daripada bahasa kejujuran? Adakah tempat bagi bahasa keberanian? Atau, kita mengingat Rendra dengan …perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Dalam pelbagai literatur sejarah kita terus berupaya menggunakan bahasa untuk bertahan hidup. Apakah kita akan menggunakan bahasa sebagai bentuk pengamanan?
Mungkin, bahasa tanpa kuasa hari ini adalah empati, kepedulian, dan mengingatkan bahwa situasi sedang dalam keadaan hening tanpa nama. Sama persis dengan yang dilakukan Guru Alfonso dalam cerpen Pelajaran Membaca garapan Seno Gumira. Kadang-kadang, bahasa kesunyian yang dapat menjelaskan apa yang terjadi di sekitar kita.
Sementara, apa yang disebut The Jeblogs dengan generasi baru telah tiba, sangatlah mungkin ialah sekumpulan orang yang lekat dengan simbol. Bisa jadi, dalam kisah-kisah wayang adalah gunungan. Atau, bila kita mengingat Ki Seno Nugroho ialah Bagong yang berhasil ia hidupkan: berbahasa jujur, apa adanya, dan berhati lapang.
Mungkin, kini, bagong-bagong di dunia yang kita kenal tinggal pengertian terakhir saja; berhati lapang. Ia sedang dalam mode menahan banyak hal. Karena Bagong mulanya berharap mimpinya dapat tercapai dengan karakternya itu. Namun, ada yang mengingatkannya, bahwa ada kuasa yang lebih besar, ialah batas yang tak tersentuh dan abstrak.
Berkat kisah-kisah yang tumbuh dari tempat antah berantah serupa tempat tinggal Bagong di Karang Kadempel, kita bisa menarik banyak pesan, persis dengan yang dirasakan tetangga atau teman-teman saya. Sayang, kita mesti sadar bahwa tidak bisa berharap kepada siapa pun. Hanya dengan banting tulang, jatuh, habis, dan njlungup adalah siklus yang semestinya kita hadapi.
Konon, kata Mbah Wignyo, tetangga saya yang sudah sepuh, hidup hanyalah upaya kita memproses kekalahan. Optimisme adalah bentuk utopia agar kita bertahan. Maka, benar, coretan besar di kamar teman saya: utangku, semangatku. Ialah sebentuk harapan yang, dalam bahasa Romo Sindhunata, adalah Ratu Adil. Wujudnya bukan manusia, tetapi bahasa kecil yang membuat wong cilik hidup.
Seraya itu, jelas pula yang disampaikan Romo Sindhunata, bahwa sulit melacak data-data tentang wong cilik. Tak ada dokumentasi, pemberitaan, dan kanal informasi yang mencatatnya di setiap zaman. Bahasa yang kita pakai sehari-hari artinya partikelir semata, tak mungkin muncul di mimbar-mimbar. Saat masa kecil dulu kita menyebutnya sebagai mimbar terhormat.
Zaman, kiranya sedang mengarah ke situ. Tandai saja.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Bima Chrisanto
