Kumpulan puisi ini: pelarian pascapuisi, pelarian kalcer 3, dan pelarian kotak pos. Ditulis oleh Randy Levin Virgiawan, seorang pemandu sorak kebudayaan, khususnya kebudayaan yang dibikin teman-temannya sendiri.
pelarian pascapuisi
apakah ada hidup pascapuisi? seperti ada cek yang rutin datang, bilang bahwa kata-kata berpinak di hati orang-orang, bahwa mereka ziarahi bangka-bangkai dirimu yang kaukubur di situ, berikut “bahwa-bahwa” lainnya.
seperti itukah hidup pascapuisi? keindahan yang mencekat malammu itu, kini menenggat gelap-gelap mereka; membuat mereka terjaga memandangi langit-langit kamar, sebelum jadi perbincangan pada bar toko kopi. undangan tedtalks di toko buku dan berbagi gerutu? (standar-lah yaw.)
tapi, apakah ada hidup pascapuisi? seperti ada cek beneran. “hi, ini laporan royaltimu kuartal ini.”
hidup sastra indonesia!
pelarian kalcer 3
ada polisi di tiap sedot matcha-mu. dia tak mau kau kikuk meski dompetmu remuk, meski nasibmu beruk. tetapi kenapa kau pelihara dia? seperti aku, dipaksa membayar beceng, gas air mata, juga baja-baja beroda yang siap menggilas kita.
ada polisi di senaraimu. di airpods hasil 6 bulan gaji kota kerdilmu. dia siap menilang, “priiitt!!!!” kau tak mendengar eastcape.
… well, kita semua wong kalahan, kan?
pelarian kotak pos
kotak pos belum diisi. mari kita isi dengan isme-isme-an. temanku belajar banyak, tapi zaman bilang “sartre adalah tuhan. neraka adalah orang.” lain, lainnya bilang kekacauan adalah keniscayaan. sebab artileri tak suka lama-lama berdiam diri (pentungan apalagi). kartel serupa yakuza— meski dai nippon lama beranjak. jangan-jangan, kita tak pernah benar-benar peduli perdamaian?
“indon masih primitif aja.” (cuitan tetangga)
Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Randy Levin Virgiawan
