Pada Minggu Pon, 24 Agustus 2025 malam, Sangkring Art Space yang biasanya tenang sebagai ruang pameran seni rupa, menjelma gua gelap penuh gema. Sorot lampu menerabas celah kelir, membuka jalan antara lorong, halaman, dan panggung. Orang-orang berpakaian serba hitam berbondong-bondong datang lalu menggumpal dalam kerumunan. Digelar oleh Jogjakarta Corpse Grinder dan Raung Parau, sebuah malam bernama Demonight vol. 2 menjadi tonggak penting bagi Vortex of Hatred dengan peluncuran album debutnya, Galat.
Pergolakan Sejarah
Vortex of Hatred tidak lahir di ruang hampa. Semula muncul dengan nama Vortex pada 2021. Motor penggeraknya Kurniaji Satoto a.k.a. Ajx sang vokalis, Dani di gitar, Alex pada bass, dan David mengisi drum. Formasi pertama itu menyalakan dua pemantik api, “Meradang Menerjang”—memetik selarik puisi “Aku” karya Chairil Anwar—dan “Antipati”. Metalcore menjadi bahasa mereka, sebuah pusaran yang melingkar di ruang bawah tanah skena independen.
Ternyata pusaran itu menyeret sekaligus menghempaskan. Alex keluar digantikan Izal. Gitar berpindah tangan dari Dani ke Fajar. Kemudian, tercipta dua demo, “Feared” dan “Sintas”. Namun di tengah arus itu ada aral yang melempang. Sehingga pada 2024 hanya Ajx yang bertahan.
Dari titik nadir itulah, panggung baru dipancangkan. Ajx menemukan sekutu—Defri mencekik gitar, Eva membetot bas, dan Algi menghentak drum. Suatu kelahiran kedua. Memanjangkan usia, memanjangkan nama: Vortex of Hatred. Perubahan itu bukan sekadar soal susunan personel, tetapi juga menggiring pergeseran arah bunyi dari metalcore yang relatif “ramah”, bergerak ke wilayah yang lebih pekat: death metal.
Sejarah yang berliku itu bukan saja menjadi catatan perjalanan, tetapi juga landasan untuk mengerjakan hingga paripurna album perdana mereka, Galat.
Dirilis secara fisik di Parasit dan distribusi digitalnya digarap Polarity Record, album ini menjadi tengaran, bahwa konsistensi lahir dari kegigihan untuk melawan dan menolak tunduk pada pembungkaman.
Ada sembilan lagu yang disodorkan dalam daftar putar Galat, yaitu “Parade Banal”, “Klausul Neraka”, “Strata Taksa”, “Mencekik Doksa”, “Pathos Berhala”, “Mitos Pralaya dan Penggali Celaka”, “Nisbi”, dan “Pusaran Kebencian”. Laiknya death metal lainnya, diksi-diksi keras bersuara tentang duka derita. Masing-masing seperti lintasan yang membawa pendengarnya pada dunia yang porak-poranda. Politik, kemarahan sosial, trauma personal, hingga kerinduan yang muram. Tak ada satu pun lagu yang benar-benar ingin menyenangkan telinga; semuanya adalah cara lain untuk berkata, “inilah sisi kita yang gelap, jangan pura-pura tidak tahu, kita ada di dalamnya!”
Sementara musik menampilkan tarik-menarik antara death metal yang parau, riff progresif berliku, groove berat, dan blast beat yang menghantam deras bagai rentetan tembakan. Sesekali gelombang black metal menyusup, ketika vokal Ajx berdiri di tengah dengan growl rendah menyerupai suara bumi yang retak, scream melengking seperti udara yang terbelah. Galat hadir bukan sekadar album metal, melainkan eksperimen estetik yang menerabas batas normal.

Residu yang Menyuarakan Kegelapan
Di sekitar panggung, asap rokok dan aroma keringat berkelindan menjadi semacam preambule yang merambah ke awal pertunjukan musik bawah tanah. Malam itu Vortex of Hatred menyuguhkan sesuatu yang baru, berbeda, sebuah kolaborasi yang tak lazim, yakni dengan menghadirkan paduan suara SMM Yogyakarta/SMK Negeri 2 Kasihan dan arabic spoken oleh Ilham Gabriall.
Dihantam dari depan dengan serangan brutal Alceena Inside, Paraphernalia, dan Goregota yang membuat lantai bergetar. Gelombang bunyi itu seperti membuka jalan, menyiapkan telinga dan tubuh sebelum kemunculan shohibul hajat, Vortex of Hatred. Setiap dentum menjadi semacam peringatan, “kalian sudah terkepung!”
Lampu meredup, menyisakan semburat merah yang berpendar di balik kepulan asap—tentu saja bukan gas air mata. Kerumunan di depan panggung seperti tengah menahan napas, menunggu dengan harap-harap cemas. Begitu personel Vortex of Hatred melangkah ke atas panggung, sorak menggelegar dibarengi tepuk tangan, kemudian orang-orang berdesakan lebih rapat. Aura malam berubah, seolah dikunci dalam satu ruang gaung, menunggu ledakan pertama dari sang penguasa panggung.
Tanpa basa-basi, Vortex of Hatred menghajar dengan reportoar pertamanya, “Parade Banal”. Lirik dibuka dengan gambaran api rakus yang melahap tanpa henti, imaji itu terorkestrasi lewat melodi gitar yang melesat dengan riff progresif berliku namun tetap terarah. Repetisi dalam lirik, “Parade yang banal, arakan kelaparan / Parade yang banal, arogan dan barbar,” menjelma pukulan drum Algi yang bertubi-tubi. Irama keras itu menghadirkan rentetan dentuman tanpa jeda di hadapan penonton.
“Parade Banal” yang puitis tak lain adalah ironi yang sarat kritik sosial, yang membukakan telinga pada absurditas hidup.
Lagu demi lagu menerjang dan malam bertambah malam ketika penonton bergerak dalam gelombang. Ada yang headbang, ada yang berteriak susul-menyusul, dan ada pula yang memilih mengamati dari pinggir kerumunan.
Setelah menampilkan beberapa reportoar, pada satu momen, Ajx berhenti bernyanyi dan mulai membaca puisi. Ilham Gabrial—mengenakan jubah serta sorban—berbarengan siswa-siswi paduan suara SMM Yogyakarta naik ke atas pentas. Sebuah kolaborasi yang membuat pertunjukan inderground malam itu keluar dari arus utama.
Vortex of Hatred memahat mo(nu)men yang tak gampang terhapus. “Pathos Berhala” lahir bukan dari raung gitar atau dentum drum, melainkan dari Ajx yang medekam, melafal syair seperti mantra, seakan panggung beralih jadi mimbar sastra. Suaranya berat bertekanan, diiringi melodi gitar yang menari-nari di punggungnya.
“Pathos Berhala” hadir dalam tubuh syair yang getir. Abu, debu, tubuh tanpa nama, takdir, dan kutukan.

Tak banyak yang menyangka, Ajx bukan sekadar penggeram di mulut mikrofon. Ia penyair yang menajamkan kata, aktor yang kenyang berdiri di bawah sorot lampu. Dari sana lahir lirik-lirik yang bukan hanya dentum, tapi juga lirih. Maka tak heran, panggung peluncuran album perdana Vortex of Hatred pun dirancang seperti sebuah lakon: dramaturgi yang tak tenang, dinamik, penuh alur.
Lalu, Ilham Gabrial mengumandangkan suluk arabian. Suaranya melayang, seperti doa di malam gelap yang membuat bulu kuduk meremang. Kemudian disusul paduan suara siswa-siswi SMM Yogyakarta, menghadirkan gema yang membuat suasana panggung kian singup. Suara-suara yang lazimnya ada dalam lagu klasik, malam itu ber(p)adu dengan gitar berdistorsi tinggi. Lampu merah berpendar, kegelapan merayap. Serupa ritual dalam cerita-cerita mistik.
Bagi sebagian telinga, mungkin hal itu terasa janggal. Namun, di panggung death metal—kendati tak lazim—pembacaan puisi atau spoken word semacam itu sesekali muncul sebagai bagian dari eksperimental artistik untuk menambah atmosfer teatrikal. Dan di situlah letak daya tariknya—bahwa puisi pun bisa hidup di ruang penuh raung. Meskipun, sebenarnya pertemuan dua dunia itu yang lebih sering telisiban daripada seiring.
Kilatan cahaya berbarengan dengan suara gitar distorsi terdengar seperti tembok yang retak. Orang-orang bersorak. Drum menghentak. Mikrofon berteriak. Malam itu, Sangkring Art Space bukan lagi ruang pamer seni rupa. Ia bergeser menjadi altar bagi suara bising sebuah konser.

Perjumpaan dan Lain-Lain
Harus diakui, musik death metal punya penggemar fanatik dan militan. Orang-orang yang datang malam itu Sebagian besar memang menikmat musik hurug-hurug itu. Mereka tahu kapan harus mengangguk, kapan harus moshing. Dengan kolaborasi choir, pintu untuk audiens baru peluangnya makin terbuka.
Bagi siswa-siswa SMM Yogyakarta, mungkin ini pengalaman pertama tampil di panggung musik berisik begitu. Begitu pun sebaliknya. Ada kejutan. Ada keterkejutan. Tetapi justru di situlah letak nilai pertunjukan ini: mempertemukan yang semula tak terhubung.
Bagi pecinta sastra, kehadiran puisi di panggung metal menjadi pemandangan lain. Puisi biasanya dibacakan di ruang sunyi, di kedai kopi, atau di tengah forum akademis, tetapi di sini, ia berdiri di tengah distorsi.
Ketika konser berakhir, penonton masih berdiri dengan wajah merah, keringat menetes, telinga berdenging. Namun ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar letih. Ada pengalaman baru yang dibawa pulang.
Peluncuran Galat bukan sekadar konser metal. Ia adalah perjumpaan lintas dunia. Kesalahan, residu, distorsi—sesuatu yang semula dianggap penghalang—justru bisa menjadi pintu gerbang ke arah pertemuan, pemahaman, dan keberanian menatap sisi gelap. Malam itu, Vortex of Hatred membuktikan bahwa mereka adalah salah satu band dari Yogyakarta yang patut diperhitungkan di blantika musik metal Indonesia.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: @_stagedoc | @volcano_pro
