Senandung Kebun #3: Singgah Sebentar di Konser Musik Intim, Magis, dan Kontemplatif

Pertunjukan Senandung Kebun ketiga, hadirkan konser intim Bagus Mazasupa dan Iksan Skuter.

Tak banyak konser musik yang mampu membuat penonton betah duduk di atas tikar rotan, menikmati langit malam, dan tenggelam dalam suasana selama 150 menit penuh. Namun, konser musik mini akustik Senandung Kebun di Pelataran Kebun Yabbiekayu Restaurant, Desa Tembi, Sewon, Bantul, berhasil melakukannya. Pada 22 Februari 2025, pencinta musik dari berbagai penjuru datang untuk menikmati ruang yang menghadirkan pengalaman emosional yang intim.

Yabbiekayu kerap mengadakan berbagai aktivasi, salah satunya Senandung Kebun. Senandung Kebun sudah terselenggara tiga kali. Konser kali ini mendatangkan dua penampil yang dipastikan bisa memuaskan kerinduan penggemar konser intim: Bagus Mazasupa dan Iksan Skuter. Keduanya punya karakter dan ciri khas masing-masing, tapi kesamaan yang terasa adalah nuansa musik sederhana dan kontemplatif.

Malam itu, pukul 20.00 acara baru dimulai. Saya sudah mengamankan posisi di tikar belakang. Setelah mengambil posisi nyaman, saya menengok ke kiri, kanan, depan, belakang, lalu menghitung jumlah orang yang singgah sebentar ke acara ini. Sejauh mata memandang, ruang ini terlihat ramai namun tetap intim, hanya sekitar 20 orang, termasuk anak-anak.

Lokasi konser sempat diguyur hujan dan menyebabkan acara terlambat satu jam dari jadwal yang dijanjikan. Namun, para penonton tetap antusias dengan apa yang akan terjadi dalam konser malam itu. Tak jauh dari tempat saya duduk, saya melihat seorang pria dewasa berbaju putih dengan desain baju koko Ip Man, benar atau tidaknya saya tak yakin, tapi begitulah kesannya, melakukan pemanasan dengan lompat-lompat kecil, lalu berlari menuju panggung begitu namanya disebut.

Bagus Mazasupa adalah seseorang yang dahulu bermain bersama Orkes Barock. Ia juga merupakan pianis andal sekaligus komposer yang piawai menerjemahkan perasaannya ke dalam sebuah sajian musik instrumental. Dua trek pembuka malam itu menusuk tepat di relung hati penonton, salah satunya berjudul The Real Maya. sebuah komposisi yang menghadirkan rasa kagum dan rasanya sulit mengungkapkan kekagumanku dengan kata-kata.

Di semester akhir 2024, Bagus Mazasupa merilis album solo berjudul Past yang memuat musik kontemplatif dan semacamnya. Deretan lagunya merupakan kumpulan karya yang diciptakannya sejak era 2000-an. The Real Maya adalah salah satu bagian dari album tersebut.

Bagian kedua atau sekuel dari The Real Maya menjadi salah satu favorit saya, yaitu Gabrielle of Love. Malam itu, secara kebetulan deru pesawat memenuhi langit, membaur dengan melodi bernada rendah yang dimainkan Bagus di atas tuts hitam putihnya, dan menambah kesan muram lagu tersebut. Selama 5 menit lagu itu dimainkan, saya tak tahu apa yang terjadi, yang saya tahu di depan mata saya ada seseorang memancarkan energi begitu kuat hingga semua orang terisolasi dalam dunia yang diciptakannya. 

(dok. Gilbert Natanael Pardosi)

Permainan Bagus Mazasupa malam itu menyadarkan saya bahwa tanpa sepotong dua potong lirik, atau berapa pun potongannya, musik tetap mampu berbicara melalui rajutan nada. Sebagai penonton dan pendengar, saya membayangkan bahwa musik yang dimainkan malam itu seperti sedang berkata-kata dengan sekujur jiwanya yang penuh duka. Maka, ketika harmoni itu dibunyikan, ia mulai dengan lembut merasuki perasaan pendengarnya. Begitulah sekiranya kesan saya terhadap lagu Santa Florida dalam album Past

Lagu ini memiliki durasi paling panjang dari album tersebut. Selama waktu yang panjang itu, permainan piano dan gestur Bagus mampu memancing perhatian penonton. Dalam hentakan jemarinya, terdapat kekuatan yang mampu mengalihkan pikiran. Rasanya begitu mencemaskan, muram, dan sedih. Dalam pikiran saya, “apa yang sebenarnya terjadi di balik Santa Florida ini? Tidak adakah akhir yang bahagia?”

Bagus Mazasupa terlalu hebat dalam memainkan dinamika, jeda, dan ekspresi. Ia membuat saya mengalami berbagai perasaan dalam 9 menit tersebut. Ia seakan menggegam panggung itu sepenuhnya. Untungnya, seekor nyamuk menggigit saya dan membuyarkan ilusi itu. Di waktu yang sama, saya pun kembali mengatur nafas. Akhir dari durasi yang panjang itu disambut riuh tepuk tangan dan sorakan dari penonton.

Beberapa lagu lainnya juga punya daya magis serupa. Rasa magis itu mengikat para penonton melalui kombinasi musik indah, permainan yang lihai, lampu sorot yang menambah kesan dramatis, serta suara jangkrik di antara pepohonan. Adegan itulah yang melahap saya dan orang-orang di sekeliling saya. 

Saya melihat Bagus tenang saat berada di panggung. Jari jemarinya berlarian dari nada rendah hingga tinggi dalam memainkan musik bergenre kontemplatif dengan bumbu tragedi romantis. Hal itu memperlihatkan kepiawaiannya sebagai pianis sekaligus komposer berpengalaman.

Tepat pada lagu berjudul Exploded Heaven, lagu ini membangun nuansa penuh kekhawatiran. Dibuka dengan unsur musik pentatonis yang menciptakan nuansa negeri dari timur, diikuti nada-nada diminished yang diaksentuasikan untuk menandai runtuhnya tembok kedamaian dalam negeri itu, serta notasi yang semakin rapat dan dinamika yang meningkat yang memunculkan puncak kekacauan. Dari menit panjang dan penuh gemuruh itu diakhiri dengan suasana mereda.

Karya itu begitu menegangkan hingga membuat seekor katak terdiam sesaat di atas tikar. Musiknya mampu mengunci perhatian makhluk lain. Bagus Mazasupa bercerita bahwa karya ini merupakan respons terhadap tragedi Bom Bali I.

Entah disengaja atau mengalir begitu saja, deretan musik yang dimainkan Bagus Mazasupa disusun rapi, seolah membentuk satu kesatuan cerita. Awalnya dibuat dengan latar yang bersusah hati, bertahap menuju musik yang penuh kegelisahan, dan ditutup dengan “semitone”, musik lincah dengan nuansa yang terang, pertanda happy ending. Karya ini termuat dalam album barunya yang akan segera rilis. 

Akhir penampilan itu menandakan saatnya bagi Iksan Skuter mengambil alih panggung. Namun, terselip penampil lain yang memeriahkan konser itu: Bagus Mazasupa, Iksan Skuter, dan Hasnan Hasibuan menyatu sebagai sebuah band BAGAVA dalam format trio. 

Di bawah lampu sorot berwarna kuning, di balik selonya, Hasnan berkelakar, “dua orang ini menculik saya, dan saya juga sukarela untuk diculik. Iksan juga bercerita bahwa BAGAVA merupakan sebuah kelas belajar dengan memanfaatkan musik sebagai wadahnya.

“Tentang BAGAVA sebetulnya kita ada enam orang, saat ini kita versi setengahnya,” tambah Hasnan. Setelah jeda lima detik, Iksan menimpali perkataan Hasan dengan berkata, “ini bukan ‘efisiensi’, bukan, tapi memang hanya bertiga.” Candaan itu dibalas dengan tawa yang lepas. Hangat dan melegakan.

(dok. Gilbert Natanael Pardosi)

Kelas belajar yang mereka dirikan memperlihatkan hasil yang mengagumkan. Hal ini tercermin dari karyanya yang belum rilis berjudul TANPA RENCANA. Dengan sederhana lagu ini merespons perkara kehidupan manusia yang penuh rencana tapi pada akhirnya tidak sesuai dan mengecewakan. Maka, ia memilih menjalani kehidupan secara mengalir dengan semestinya dan sepatutnya. “Kayak bikin lagu kalau gak booming ya bikin lagi, sampai Tuhan kasihan sama kita”, tutur Iksan ketika selesai bernyanyi.

Nuansa folk dalam format kecil-kecilan itu punya daya pikat yang kuat. Di awal lagu, perpaduan selo dan piano yang bermain unisound dengan nada-nada repetitif menciptakan emosi yang mendebarkan. Rasa debar itu ditunaikan dengan lega pada bagian chorus yang memperlihatkan bentuk deklarasi melalui vokal lantang milik Iksan. Momen malam itu cukup menyentuh dan meyakinkan saya hingga tercipta kata-kata dalam kepala, “Hari ini, terjadilah sebagaimana adanya. Hari besok, biar kuserahkan pada diriku yang esok hari.” 

Menit berikutnya BAGAVA memainkan lagu KLANDESTIN. Hasnan dengan selonya memainkan irama genderang perang, disambut piano dengan pattern yang catchy, serta melodi melankolis yang dinyanyikan dengan bulat dan lantang. Di depan saya, istri Iksan Skuter  beberapa kali menaikkan kamera gawainya. Saya yakin bukan tak banyak foto suaminya itu tersimpan, tetapi energi yang dikeluarkan Iksan dan kedua kompatriotnya belum tentu akan terulang lagi.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Semua penonton masih setia duduk di pelataran Yabbiekayu Restaurant. Beberapa tetap pada posisi semula, sementara yang lain mulai mengubah posisi duduk. Saya? Masih dilema antara lanjut menikmati konser atau mencari toilet. Pada akhirnya saya memilih bertahan, keputusan yang tak saya sesali. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan bermusik, Iksan Skuter tampil menggunakan sequencer.

Lagu Cinta Itu Adalah didapuk sebagai hidangan pembuka yang dinyanyikan dalam format sequencer. Jujur saja, saya jatuh hati dengan format ini. Rasanya seperti menonton orang karaoke. Selama lima menit penuh saya menikmati permainan gitar dan nyanyian Iksan, serta musik iringan yang groovy, santai, dan tetap sederhana. Namun, ada sesuatu yang kurang pas, yang membuat ia tampak kurang percaya diri. 

Setelah bermain, dengan yakin ia menyampaikan ada masalah teknis yang terjadi. Tanpa mengambil pusing, ia kembali ke setelan awal dengan gitar akustik andalannya, walaupun hadir kekecewaan dalam rautnya karena tak bisa melanjutkan format sequencer tersebut. Rasa kecewa itu juga dapat saya rasakan. Rasanya saya dan Iksan masih ingin lebih berlama-lama dengan format baru itu. Namun, semesta berkata, “move on.” 

(dok. Gilbert Natanael Pardosi)

Kenikmatan yang hanya bisa didapat dari konser intim seperti ini adalah interaksi yang begitu dekat dengan para penampil, dialog dua arah yang spontan, melihat ketidaksempurnaan musisi secara langsung, bahkan berbagi tikar dengan mereka. Seperti saat Bagus Mazasupa tampil,  Iksan Skuter dan istrinya duduk sebagai sesama penonton. Begitu pula setelah Bagus selesai dengan tugasnya di panggung, kini ia bergabung di barisan penonton bersama keluarga kecilnya dan menyaksikan aksi Iksan Skuter. 

Lagu dengan lirik tentang keseharian rakyat kecil sudah pasti menjadi hal yang dinantikan. Di tengah malam yang semakin larut, para penonton semakin hanyut dalam validasi yang diberikan Iksan melalui lagu Semua Itu Milikmu. Penonton seketika hanyut. Lagu sudah habis dinyanyikan lau Iksan melempar pertanyaan, “mau request?”. Penonton diam. Kenapa? Karena kesadaran mereka masih tertinggal di lagu sebelumnya!

Iksan punya kekuatan menulis lirik dan melodi yang mampu merekam adegan per adegan untuk diantarkan ke dalam imajinasi penonton. Sebuah imajinasi yang terbuat dari realitas. Ini sangat mengagumkan. Meski minimalis, Iksan mampu mengendalikan malam.

Suasana penuh keakraban ini dimanfaatkan Iksan untuk semakin mendekatkan diri dengan para penontonnya. Sebelum melanjutkan, ia berkata, “lagu selanjutnya ini nggak terlalu terkenal. Tapi gapapa, tetap laguku. Kalau terkenal nggak enak, takut dibredel.” Penonton langsung bereaksi, tapi petikan gitar lebih dulu mengambil alih, menandai dimulainya “Yang Selalu Dipuja”.

Konser intim ini sama sekali tidak dihiasi sing along. Padahal, biasanya ketika musisi favorit membawakan lagu-lagu hitnya penonton akan bernyanyi bersama . Baru di konser intim milik Yabbiekayu saya melihat fenomena ini. Penonton justru memilih diam dan larut dalam penampilan Iksan, seolah energi dari sang penampil terlalu kuat untuk disela dengan suara mereka. Sampai akhirnya, di lagu yang kesekian,  Iksan mengajak semua orang bernyanyi.  “Judulnya Sampai Mati, Until F*cking Die”, tutup Iksan.

Tak terasa di pukul setengah sebelas, lagu Angin, Matahari, Rumah, dan Mimpiku menjadi penutup konser intim Senandung Kebun. Penonton pulang dengan tertib dan menggenggam sukacita untuk menghadapi kenyataan lagi.


Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto sampul: Gilbert Natanael Pardosi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

#IndonesiaGelap: Sudah Waktunya Bunga Mekar dan Akarnya Lesak Memberontak

Next Article

Thalasemia.: Kumpulan Puisi Brigitta Globin Angela

Related Posts