Tiga tahun lalu, pada malam setelah waktu salat Isya, saya dan puluhan warga duduk bersila di pinggir jalan raya, lebih tepatnya di persimpangan jalan yang menghubungkan Kelurahan Tanah Baru di Kota Depok dengan Kelurahan Ciganjur dan Cipedak di Jakarta Selatan.
Dengan bermodalkan tikar pandan dan penerangan seadanya warga menggelar acara ‘Selametan’ untuk pemindahan Tugu Tanah Baru yang akan digeser beberapa meter karena posisinya kerap menjadi biang kemacetan. Kehadiran Overpass Tol Cijago, salah satu proyek infrastruktur yang digadang-gadang sebagai solusi konektivitas Depok–Jakarta, justru membuat persimpangan ini kian semrawut. Ruang jalan menyempit, arus kendaraan saling berebut, dan tugu yang dahulu menjadi penanda wilayah perlahan berubah menjadi hambatan lalu lintas.
Tak ada yang berbeda dari tugu yang sudah berdiri sejak sekitar tahun 1960-an ini. Namun, ikatan warga Tanah Baru dengan tugu tersebut bisa dikatakan cukup erat, terlebih karena pada masa awal pembangunannya, semuanya adalah hasil inisiatif dan gotong royong dari warga Tanah Baru kala itu, ditambah di puncak tugu juga tersimpan replika dari Gong Si Bolong yang merupakan kesenian khas wilayah tersebut dan sekarang menjadi ikon dari Kota Depok. Maka dari itu, banyak juga orang-orang yang menyebutnya dengan Tugu Gong Si Bolong.
Depok sendiri adalah kota yang tumbuh cepat, nyaris seperti tergesa. Perubahan status dari kota satelit menjadi kota mandiri membawa gelombang pembangunan, seperti jalan diperlebar, tol yang membelah kampung, dan apartemen yang tumbuh di bekas kebon. Di tengah laju itu, penanda-penanda lama kerap terdesak. Tugu Gong Si Bolong adalah salah satunya, penanda yang berdiri di antara ingatan agraris dan realitas urban.
Cerita tentang tugu ini mengingatkan saya pada kisah kakek saya, Baba Miran. Ia pernah mengatakan bahwa pada awal berdirinya, tugu tersebut hanyalah susunan batako sederhana menyerupai pos kecil. Bangunan itu menjadi titik kumpul warga Tanah Baru sebelum berangkat membawa hasil tani, seperti bayam, singkong, pisang, atau sayur-sayuran segar hasil perkebunan sendiri, sebelum mereka menuju pasar-pasar tradisional di Jakarta, seperti Pasar Minggu, Pasar Palmeriam, atau Pasar Senen dengan gerobak, sepeda, atau sekadar dipikul di bahu. Tugu itu menjadi penanda awal perjalanan sekaligus penanda pulang.
Tugu Sebagai Memori Kolektif Masyarakat

Hal tersebut selaras dengan apa yang pernah dirumuskan Maurice Halbwachs: memori manusia tidak pernah berjalan sendirian. Ia memerlukan ruang untuk menempel, titik untuk kembali, sesuatu yang tetap ketika manusia bergerak dan melupakan. Monumen atau tugu kemudian menjadi tempat yang paling cocok, tidak terlalu penting ukuran dan kemewahannya karena esensinya adalah untuk menjadi jangkar bagi ingatan kolektif warga Tanah Baru.
Fenomena pembangunan tugu sebagai monumen di Indonesia memang sudah terjadi bahkan sebelum Jakarta diputuskan secara formal sebagai Ibukota Negara di tahun 1962. Di beberapa kota di Indonesia sudah berdiri pembangunan tugu monumen antara lain: Tugu Pahlawan di Surabaya (1952), Tugu Alun-Alun Bunder Malang (1953), dan masih banyak lagi.
Namun, puncak pembangunan monumen berupa tugu adalah ketika Bung Karno ingin membangun Tugu Nasional (Monas). Lewat cara muhibah ke mancanegara, Bung Karno menjelajahi hampir seluruh kota termasyhur di belahan Eropa pada tahun 1956. Bung Karno memahami peran monumen itu sebagai sebuah identitas nasional serta “nation pride”. Tugu Nasional akhirnya dirancang oleh Arsitek Soedarsono, di bawah kendali Bung Karno usai mengalami dua kali sayembara di tahun 1956 dan 1960.
Meski demikian, tidak semua monumen berbicara dengan suara negara. Sebagian, seperti Tugu Tanah Baru, berbicara dengan bahasa kampung, sebagai bahasa ingatan, kerja kolektif, dan kehidupan sehari-hari. Ia tidak dibangun untuk dikenang oleh buku sejarah, melainkan oleh warga yang mengingat dan melintasinya setiap hari.
Memori Budaya yang Ditakuti Rezim Totaliter
Jan Assman, seorang peneliti budaya dari Universitas Konstanz punya pandangan yang menarik dalam sebuah forum “Memori Komunikatif dan Budaya” pada tahun 2013. Ia menyoroti bahwa dengan kekuatannya sebagai pemersatu kolektif, seringkali memori budaya dianggap sebagai ancaman oleh rezim totaliter. Lihatlah bagaimana kasus perang Bosnia, ketika artileri Serbia menghancurkan Perpustakaan Sarajevo dalam upaya untuk merusak ingatan orang Bosnia dan minoritas di wilayah tersebut.
Dalam kasus lain, Assmann juga menyinggung bagaimana Revolusi Kebudayaan di Tiongkok (1966–1976) mengubah kota-kota menjadi ladang penghapusan memori. Kuil-kuil diruntuhkan, nisan leluhur dihancurkan, dan artefak tradisi dibakar. Di banyak desa, warga dipaksa melupakan silsilah keluarga dan adat istiadat yang telah diwariskan lintas generasi. Dalam peristiwa mengenaskan itu yang diserang bukan hanya bangunan fisik, melainkan ingatan tentang masa lalu yang tidak sejalan dengan narasi kekuasaan.
Hal ini menjadi semacam ‘senjata rahasia’ rezim totaliter untuk menaklukkan masa lalu dan memulai identitas baru dari awal. Jika seseorang mengendalikan masa kini, masa lalu juga akan terkendali, dan jika seseorang mengendalikan masa lalu, masa depan juga akan terkendali.
Tugu Gong Si Bolong memang tidak sampai dihancurkan dan dilupakan. Namun, diskusi tentangnya memperlihatkan bagaimana ruang-ruang memori selalu berada dalam posisi rentan, terlebih ketika harus berhadapan dengan logika pembangunan yang mengharuskan jalan-jalan lancar, kota harus bergerak, dan penanda lama kerap dianggap bisa disesuaikan, digeser, bahkan dihancurkan.

Malam itu, jalan raya Tanah Baru yang terkenal hampir selalu ramai setiap harinya, tidak kenal siang ataupun malam, seakan terhanyut dalam lantunan doa-doa yang dipanjatkan para warga, baik laki-laki maupun perempuan, orang tua ataupun muda. Semuanya berdoa untuk para leluhur yang telah tiada. Momen seperti itu jadi harapan serta pembuktian bahwa warga Tanah Baru ‘ogah’ melepaskan ingatan mereka.
Setelah doa ditutup, acara dilanjutkan dengan menyantap sajian ringan, berupa risol, kue lapis, wajik, dan tape uli yang dipersiapkan warga dari rumah secara bersama-sama.
Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto Sampul: dok. Afrizal

Yihaaa… Asiiik eeuy