Pasti kalian sering menonton video meme orang marah-marah yang diiringi petikan gitar khas American Football atau melihat frasa “wong kalahan” yang bahkan sudah ada playlist musiknya sendiri. Fenomena di atas tak bisa dilepaskan dari kegandrungan anak skena musik di Indonesia akan musik emo, khususnya midwest emo.
Sejak beberapa tahun lalu, perbincangan mengenai genre emo tak pernah ada habisnya. Apalagi sejak konflik antara hardcore vs emo, yang memunculkan banyak perdebatan di forum-forum seperti Kaskus, Facebook, Twitter, dan Instagram. Selain “perseteruan” antara emo dan hardcore, persoalan definisi juga tak pernah tuntas dibahas. Apa itu emo, apa itu emotive hardcore, post-hardcore, midwest emo dan sejenisnya, akan selalu berulang-ulang.
Bagi sebagian orang yang sudah kenyang dengan perdebatan soal genre ini sejak dulu, mungkin akan terasa membosankan atau berulang-ulang. Tapi, setidaknya lewat tulisan ini, saya menyadari bahwa generasi akan terus berganti. Akan selalu ada pendengar-pendengar baru yang mulai penasaran dan mencoba untuk mencari tahu. Bukankah begitu?
Lahir dari Rahim Hardcore Punk
Mari kita mulai dan kembali pada tahun 1980-an. Era itu, skena hardcore punk di Washington, D.C. mengalami kejengahan akibat banyaknya sifat maskulin, agresif, dan kecenderungan melakukan kekerasan alih-alih menikmati musik sebagai kesenangan dan kebersamaan. Ditambah lagi, framing media yang memosisikan anak-anak harcore punk sebagai kumpulan preman pengacau.
“Ada situasi di mana pertunjukkan menjadi semakin banyak dan semakin bodoh dengan kekerasan,” ujar Ian Mackaye dalam sebuah wawancaranya yang dikutip dari The Guardian. Hal itu, membuat semakin banyak orang merasa terasing dari komunitasnya sendiri, hingga pada akhirnya banyak yang memilih mundur dari skena hardcore punk.
Berangkat dari kebosanan dan kegusaran itu, lahirlah konsep bernama Revolution Summer pada musim semi tahun 1985. Gerakan ini muncul sebagai anti-tesis atas skena hardcore punk di Washington, D.C. yang dianggap terlalu maskulin dan patriarkis.
Revolution Summer memberi ruang bagi orang-orang untuk mengekspresikan perasaan emosional yang seringkali personal, serta merespon atas meningkatnya apatisme terhadap isu sosial-politik di dalam skena. Di saat itulah genre musik bernama emo lahir, yang diawali dengan istilah emocore (emotive hardcore).
Dampak adanya Revolution Summer tak hanya sebatas pada lahirya genre musik emo saja, melainkan juga memunculkan berbagai gerakan lain. Diantaranya adalah kesadaran akan hak-hak hewan, dengan menguatnya gerakan straight edge hardcore (sXe), hingga aksi-aksi kladestin yang dilakukan Earth Liberation Front (ELF) dan Animal Liberation Front (ALF). Namun, beberapa gerakan itu mungkin akan saya bahas di tulisan lain.
Mark Adersen dan Mark Jenkis mencatat peran penting band Rites of Spring dan Embrace sebagai pelopor emocore dalam bukunya yg berjudul Dance of Days. Kedua band itu memperkenalkan pendekatan baru dalam bermusik, yakni menekankan ekspresi emosional ketimpang ekspresi fisik (slam dancing). Lirik yang mereka tulis dan nyanyikan lebih personal, reflektif, dan melankolis.
Kemunculan musik emo sejak beberapa dekade silam, tentu saja telah membubuhkan ciri khasnya sendiri, dari segi musikal, lirik, dan artistik. Dalam buku berjudul From the Basement: A History of Emo Music and How It Changed Society karya Taylor Markarian, dijabarkan bahwa dalam perjalanannya dari awal hingga kiwari, emo telah membentuk berbagai elemennya sendiri seperti lirik yang personal, perpaduan kegarangan hardcore punk dan melodi cengeng, tempo musik yang tiba-tiba berubah dari pelan nan melankolis menjadi agresif dan keras.

Pada awal-awal kemunculan emo, perdebatan tentang definisi dan kategori menjadi pembahasan yang ramai dibicarakan. Meskipun emocore menjadi istilah yang mendeskripsikan gelombang musik baru, tapi kebanyakan penggemar bahkan pelaku menolak label tersebut. Namun, pada akhirnya, istilah emocore dipakai dan tak lagi dipersoalkan. Mengutip Guy Picciotto, personil Rites of Spring, tak jadi masalah apapun label yang disematkan, yang paling penting adalah dampak yang ditimbulkan.
Emo Wave
Sejak kejengahan atas skena hardcore punk puluhan tahun lalu, emo muncul sebagai pembawa nafas baru. Diawali dengan emocore, kemudian dalam perkembangannya melahirkan berbagai subgenre baru di setiap gelombangnya. Screamo/skramz, emoviolence, sass, hardcore emo, post-screamo, sass revival, blackened screamo, skramzgaze, midwest emo, emo pop, twinkledaddies, sparklepunk, emo revival, dan turunan-turunan lainnya.
Gelombang Pertama (1985–1991)
Gelombang pertama emo atau yang dikenal sebagai emocore, muncul di Washington, D.C., pada pertengahan tahun 1980-an, tepatnya ketika Revolution Summer pada 1985. Rites of Spring menjadi band yang cukup berperan pada medio ini, dengan menawarkan konsep musikal baru. Beberapa band lain pun mengikuti jejak Rites of Spring, mengekspresikan emosi secara personal, lirik yang puitis, namun karakter musiknya tetap mirip dengan musik hardcore punk. Medio ini, ada beberapa band yang cukup penting untuk dilihat, yakni Moss Icon, Grey Matter, Dag Nasty, dan Fuel.
Gelombang Kedua (1992–2001)
Pada gelombang kedua, istilah emocore atau emotive hardcore telah berubah menjadi emo dan memperluas cakupan ke luar wilayah Washington D.C., diikuti dengan kemunculan subgenre emo seperti screamo dengan band Heroin, Antioch Arrow, dan Indian Summer.
Muncul juga emoviolence yang menggabungkan intensitas screamo dengan powerviolence, dengan nama-nama seperti Orchid, Pg. 99, dan Saetia. Tak berhenti di situ, pada gelombang ini, telah memodifikasi konsep musik dari gelombang pertama, yakni menyaring elemen indie rock yang kemudian membuahkan corak musikal baru. Salah satu bandnya adalah Sunny Day Real Estate.
Meskipun bukan puncak popularitas secara komersial, gelombang kedua dianggap sebagai periode paling berpengaruh dalam perkembangan emo seperti munculnya subgenre midwest emo—meskipun kini istilah midwest emo lebih mereferensikan gaya bunyi ketimbang wilayah geografis—yang dipopulerkan oleh band-band seperti Cap’n Jazz, Boys Life, Braid, The Promise Ring, Cursive, get up kids, Jimmy Eat World, Mineral, Texas Is the Reason, Still Life, dan American Football.
Gelombang Ketiga (2001–2008)
Gelombang ketiga ditandai oleh ledakan komersialisasi emo yang kini dikenal luas sebagai mall emo. Ciri khas pada gelombang ini ialah penampilan fesyen yang mencolok, mulai dari pakaian serba hitam, celana jeans ketat, eyeliner atau smokey eyes, poni lempar, dan gelang yang menumpuk. Tentu hal ini tak bisa dilepaskan dari internet yang berkembang pesat, kemudian diikuti dengan lahirnya situs seperti LiveJournal, MySpace, dan Tumblr.
Pada gelombang ini ada istilah “Emo Trinity” yang merepresentasikan tiga band: My Chemical Romance, Fall Out Boy, dan Panic! At The Disco. Ketiga band itu sedang mencapai puncak popularitasnya, dibuktikan dengan dikontrak oleh major label dan lagu-lagu mereka rutin diputar di radio-radio Top 40.
Band bernama Jimmy Eat World yang berakar dari gelombang kedua, juga mencapai puncak popularitas pada periode ini. Pada gelombang ketiga ini, keragaman band dan musikal muncul, mulai dari pop punk alternatif (Brand New, Fall Out Boy) hingga band-band lebih bawah tanah seperti Life At These Speeds dan Funeral Diner.
Dalam artikel “The Day I Realized My Chemical Romance Wasn’t Emo” Will Whitby menjelaskan ada tiga model pendengar emo pada gelombang ketiga ini. Pertama, ada pendengar yang mendefinisikan emo secara cukup luas untuk mencakup band-band seperti Rites of Spring dan band-band seperti Emo Trinity. Kedua, ada pendengar yang mendefinisikan genre ini hanya untuk band-band Emo Trinity. Ketiga, ada pendengar yang mengabaikan gelombang ketiga dan Emo Trinity sepenuhnya.
Gelombang Keempat (2008–sekitar 2018)
Gelombang keempat dikenal sebagai era emo revival, sebuah upaya untuk mempertahankan keberlangsungan emo—bukan menghidupkannya kembali seolah telah mati—tetapi untuk menjaga agar semangat dan nilai-nilainya tetap hadir. Karena hal ini berkaitan dengan akar-akar yang dianggap esensial dari emo sebagai genre yang berhubungan erat dengan budaya-budaya hardcore punk.
Pelaku maupun pendengarnya pada era gelombang keempat kembali lagi menerapkan budaya Do-It-Yourself (DIY) sebagai bentuk kritik terhadap gelombang ketiga yang dianggap terlalu glamor, komersial, dan jauh dari nilai-nilai hardcore punk. Bukan hanya musiknya saja, tetapi juga nilai-nilai dan gaya hidup yang diasosiasikan dengan “bentuk asli” gelombang pertama emo.
Secara musikal, gelombang keempat kembali mengacu pada estetika gelombang kedua. Banyak band secara langsung meniru gaya bunyi era 1990-an, sembari menggabungkannya dengan math rock atau indie rock kontemporer. Band-band seperti Snowing, Algernon Cadwallader, The Brave Little Abacus, Joyce Manor, dan The Hotelier menjadi ikon penting dalam gelombang keempat.
Salah satu pusat utama dari pergerakan emo revival adalah kawasan Mid-Atlantik, khususnya Philadelphia. Kota yang menjadi rumah bagi banyak band seperti Modern Baseball, Glocca Morra, dan Marietta, yang turut membentuk warna dan arah dari gelombang keempat. Selain itu, pengaruh utama yang paling mencolok dalam fase gelombang ini ialah Cap’n Jazz dan American Football.
Gelombang Kelima (2018–sekarang)
Gelombang kelima merupakan fase paling kontemporer dalam perkembangan musik emo, hal ini ditandai dengan keberanian para musisi untuk melakukan eksperimen melampaui batas-batas genre pada gelombang sebelumnya. Pada era ini pengaruh dari gelombang kedua masih terasa, namun tidak lagi sekedar di duplikasi secara harfiah.
Band-band pada gelombang kelima mulai menggabungkan unsur synth, drum machine, pop, math rock, hingga indie. Band-band seperti Home Is Where, Hey ily, Lobsterfight, Rookie Card, Anxious, dan Origami Angel menjadi representasi penting pada gelombang kelima. Mereka bukan hanya melebarkan batas bunyi, tetapi juga memperluas ranah ekspresi yang selama ini dianggap “bukan emo”.
Dalam konteks kajian musik, fase ini disebut sebagai fase pasca-kebangkitan (post-revival). Mengacu pada pemikiran Livingston mengatakan “dalam situasi lain… inovasi dapat menjadi indikator bahwa kebangkitan telah berpindah ke fase pasca kebangkitan dan keaslian historis tidak lagi menjadi perhatian utama”. Jika gelombang keempat mencoba untuk menetapkan batas estetika demi menjaga “kemurnian” emo, maka gelombang kelima justru membuka kembali segala kemungkinan estetika tanpa takut adanya rasa bersalah.
Salah satu katalisator penting dalam gelombang kelima adalah Home Is Where asal Florida. Band yang menjadi salah satu contoh pencampuran gaya musikal unik—seperti penggunaan harmonika dan gergaji—yang mungkin jauh dari tipikal emo.
Saya sendiri mengenal emo pada masa remaja nanggung. Saat itu, saya mengira emo adalah soal pakaian serba hitam, celana jeans ketat, smokey eyes, poni lempar, dan gelang hitam yang menumpuk di pergelangan tangan. Pandangan ini tak datang begitu saja, saya terbentuk dari paparan MTV dan gelombang internet yang mulai merambah Indonesia. Salah satu pengaruh terbesarnya adalah musik-musik gelombang ketiga yang diwakili oleh My Chemical Romance, Saosin, Sleeping with Sirens, Pierce the Veil, dan lain-lainnya.
Sebenarnya saya sendiri menulis ini hanya untuk bersenang-senang dan memperluas khazanah permuzikan. Selain itu, saya juga menyajikan pemetaan periode gelombang dan subgenre emo yang barangkali lengkap dengan album-album yang relevan pada zamannya. Meskipun sebagian besar pemetaan ini bersumber dari luar Indonesia, tak ada salahnya untuk ditelusuri sembari bersenang-senang melalui tautan berikut ini.
Saya sendiri juga mempertanyakan kondisi skena emo di Indonesia, apalagi sekarang kan midwest emo sedang digandrungi oleh anak anak muda sebagai lagunya wong kalahan. Tentu hal ini menarik untuk kita ulik lebih dalam, karena wong kalahan juga merupakan sebuah fenomena sosial yang mencakup kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, nantikan saja tulisan selanjutnya perihal skena emo di Indonesia, fenomena wong kalahan, dan tren midwest emo.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Jane Bogart
