Keluarga adalah Tempat Belajar

Foto: Andi Afro

Keluarga menjadi salah satu tempat untuk pulang, merebahkan tubuh sejenak hingga beradu argumen paling romantis. Buktinya saja film Captain Fantastic (2016). Kejujuran yang coba dibangun sejak dini menjadi alasan cara orang tua mendidik anaknya. Pelajaran itu akan terbawa hingga mereka melanjutkan pendidikan atau cara bergaul dan berbicara dengan alam.

Apakah punya rumah, harta, dan pendidikan yang bagus bisa dikatakan keluarga idaman? Atau bahkan popularitas nama ibu yang seorang pengusaha muda lantas jadi dambaan keluarga lainnya? Memilih hidup yang sedikit berbeda adalah pilihan Ben (Viggo Mortensen) untuk mengajari anak–anaknya cara memaknai hidup ini.

Memang akan sangat bertentangan dengan pakem keluarga pada umumnya, tetapi bisa jadi keluarga harus menjadi guru paling baik. Contohnya, mengambil keputusan atas kemauan sendiri. Tentu saja sejak anak–anak kita tidak bisa menentukan apakah akan bersekolah atau menjadi seorang penyanyi, atau bahkan menjadi petani.

Mungkin kita tidak banyak punya pilihan sejak kecil dan setelah terlanjur melakukan itu dari kecil lantas menjadi budaya yang harus diselesaikan. Lalu setelah semuanya selesai barulah kita memulai apa yang dulu pernah terpikirkan. Tata bicara dan berprilaku kita akan menjadi contoh bagaimana orang memandang keluraga kita. Saat kita melakukan hal yang salah di mata orang lain, yang pertama keluar dari mulutnya pasti, “Keluarganya saja seperti itu. Tidak kaget kalau dia juga begitu,” atau “Ayah yang tidak becus mengurus anaknya, ya begitu hasilnya,” tutur kata seperti itu menjadi budaya untuk memandang orang sebelah mata.

Keluarga Ideal 

Siapa yang tidak mau terlahir sebagai anak pejabat zaman sekarang? Semua pasti akan merasa iri karena memiliki rumah yang mewah dan alat make-up terbaru dari brand terkenal. Semuanya itu menjadi contoh keluarga yang baik pada umumnya.

Sekolah yang rajin, kuliah di kampus terkemuka, menggunakan mobil, dan makan di restoran yang mewah. Lalu setelah itu mengikuti jejak ayahnya yang seorang pejabat juga. Apakah itu bisa dikatakan sebagai keluarga yang ideal?

Melakukan hal yang kadang tidak kita inginkan hanya karena melihat ayah atau keluarga yang baik dan nyaman. Hidup di kota yang penuh kemajuan dengan fasilitas yang ditawarkan di sana menambah keyakinan bahwa tidak salah memilih jalan hidup ini. Saat pergi rekreasi ke desa atau alam merasa heran karena jarang sekali menemui pemandangan yang indah.

Sama seperti keluarga fantastic ini, yang memutuskan untuk pergi makan di kafe dan terkejut dengan makanan kota seperti hotdog, french fries, milkshake, dan Coca-cola, lalu berkata tentang asal usul minuman bersoda ini walaupun akhirnya mereka memutuskan untuk pergi karena merasa tidak cocok dengan semua menu yang ada.

Bagian yang menarik saat mereka mengetahui apa yang akan dikonsumsi. Ini pelajaran tentang keluarga ideal, bagaimana agar kita memahami apa yang kita “konsumsi”, bagaimana asal usulnya, dan mengapa kita harus “mengonsumsinya”.

Keluarga adalah Tempat Belajar

Beranjak dewasa menjadi tanggung jawab setiap anak ketika ingin merancang masa depannya. Misalnya, ingin kuliah di universitas apa dan mengambil minat yang akan dipelajarinya. Keluarga mampu membimbing seorang anak untuk menentukan pilihannya atau berusaha memberikan bekal untuk mencapai pilihannya.

Tidaklah mudah untuk memutuskan semuanya bahkan kadang ada penolakan–penolakan di awal. Tetapi, proses akan memberinya jalan atas apa yang akan dipilihnya. Keluarga tetaplah keluarga dan tempat untuk belajar. Semuanya bisa terjadi dalam keluarga. Belajar tentang rasa marah, senang, sedih, hingga kasih sayang, bukan sesuatu hal baru bagi kita. Satu hal yang perlu disimpan dalam hati, bahwa keluarga akan selalu ada dan takkan pernah hilang sekalipun zaman terus berubah tapi keluarga tetap setia di saat semuanya datang silih berganti.

 

Editor: Arlingga Hari Nugroho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts