Brain Motel: Lagu Psikedelik KRONG yang Menghilang dari Dunia Nyata

KRONG, dalam dunia “Brain Motel”, keajaiban tidak datang dengan penuh keutuhan, tapi tampil dalam bentuk yang ganjil dan setengah jalan.

KRONG barangkali berhasil menyuguhkan suasana psikedelik yang mengabur di dunia musik bawah tanah Yogyakarta. Mereka bukanlah kelompok penghibur. Mereka justru hendak mengacaukan kesadaran para pendengar. Melalui single kedua mereka bertajuk ”Brain Motel”, mereka membuktikan bahwa musik bisa menjadi alat untuk membongkar batas antara mimpi, kenyataan, dan absurditas. Lagu ini tidak bisa kamu dengarkan sambil bekerja. Hati-hati, lagu ini akan membuatmu kehilangan arah. 

Dirilis pada 21 Januari 2024 di Spotify, “Brain Motel” pernah menghuni dunia digital seperti deretan single lainnya. Namun, lagu ini tak lagi bisa ditemukan. Lagu ini menghilang seolah ikut tenggelam dalam dunia bawah sadar para pendengarnya. Meski begitu, jejaknya masih ada. “Brain Motel”  masih meninggalkan sebuah visual artistik pendukung yang ganjil, surreal, dan penuh kode imajinatif. “Brain Motel” tak mudah untuk ditafsir.

Sampul untuk single “Brain Motel” menghadirkan dunia yang aneh, lucu, dan sedikit mengganggu. Di tengah lanskap yang tenang, berdiri sebuah bangunan berbentuk otak raksasa dengan mata, pintu, dan cerobong asap. Mata-mata di bangunan itu mengintip keluar, mengamati dunia seperti mimpi yang waspada. Ini bukan sekadar tempat fisik, tapi ruang mental tempat segala bentuk bisa datang dan pergi tanpa harus dimengerti. “Brain Motel” tak terpetakan oleh GPS. Ia tidak terletak di mana pun, karena ia hidup di dalam kepala.

Di sekitarnya muncul para kurcaci dengan ekspresi kosong. Salah satu dari mereka terbaring di tanah. Di sisi lain, topi sulap besar menyembulkan kepala kelinci tanpa tubuh diawasi dua kurcaci yang tampak bingung. Dalam dunia “Brain Motel”, keajaiban tidak datang dengan penuh keutuhan. Keajaiban malah tampil di sini dalam bentuk yang ganjil dan setengah jalan.

Ada juga jamur merah bertotol putih bertumbuh liar bagaikan pintu-pintu kecil menuju pengalaman psikedelik yang menjungkirbalikkan logika. Semua elemen ini bekerja bersama membentuk dunia yang tidak pernah benar-benar nyata, tapi juga terlalu kuat untuk sekadar disebut fantasi. Ini adalah lanskap dari bawah sadar berupa cair, lucu, mengganggu, dan penuh simbol primitif yang terasa dekat dengan alam mimpi.

Artwork oleh Boni @nekrobonbon

Lagu ini dibuka dengan penyangkalan: I won’t blue myself / I won’t chrome my soul

Boni, sebagai penulis lirik, tak ingin membuat para pendengar KRONG larut dalam kesedihan saat melantunkan potongan lirik di atas. Sepenggal lirik ini seperti menolak untuk berpura-pura menyembunyikan luka dengan tampilan luar yang mengkilap. Pada akhirnya, “Brain Motel” hendak membawa para pendengar ke pengalaman yang lebih jujur dan nyata.

Kemudian, dilanjut oleh lirik batas antar indra yang mulai kabur: set me liquid spring / fly me reptile skin

KRONG seperti menggambarkan kondisi musim semi sebagai tanda akan munculnya awal baru yang lentur dan tidak berbentuk. Sedangkan kulit reptil terbang menjadi simbol transformasi yang bersisik, liar, dan purba. Dengan begitu, KRONG membayangkan akan terciptanya manusia modern yang menolak segala bentuk kekakuan. Manusia menjelma seperti sesuatu yang lebih dekat dengan alam bawah sadar, dengan bentuk-bentuk awal dari identitas.

Penggalan lirik “set me liquid spring”  begitu menarik karena mengingat dalam konteks cuaca Indonesia, musim semi bukanlah bagian dari keseharian kita. Kita yang tinggal di Indonesia hanya mengalami siklus dua musim, yaitu musim kemarau dan hujan. Penyebutan spring dalam karya lokal terasa asing, seolah kita diajak ikut merasakan musim yang bahkan tidak pernah tiba.

Liquid Spring” tidak bisa diartikan secara literal. “Liquid Spring” adalah fase kebangkitan, pelunakan, dan pembasuhan dalam hidup. Saya seolah membayangkan  hujan pertama setelah musim kering panjang; sejuk, cair, dan tak terduga

Fly me reptile skin” pun memberikan kesan aneh. Kulit reptil adalah simbol klasik dari pergantian wujud. Kulit itu bersisik, kasar, dan purba. Ia bukan hasil dari masyarakat modern, melainkan warisan naluriah kita yang paling dalam. KRONG melampaui batas kemanusiaan yang telah disusun oleh budaya dan struktur. Mereka menolak menjadi manusia modern yang rapi, rasional, dan stabil. Mereka justru lebih tertarik menjadi makhluk  labil, mentah, dan berubah terus menerus.

Akhirnya, “Brain Motel” mengundang kamu secara diam-diam untuk menyelami dirimu sendiri, tempat yang cair dan terlepas dari segala bentuk. Karena ketakberbentukan itulah kemungkinan lahir.

Pada titik ini, kita akan masuk ke pusat lagu: Enchanted subconscious, brain motel 

“Brain Motel” bukanlah sekadar tempat, ia adalah kondisi pikiran. “Brain Motel” adalah sebuah ruang hotel di mana para tamu bernama kenangan, ketakutan, hasrat, dan ide absurd datang dan pergi begitu saja. Pikiran sebagai tempat transien, bukan rumah, bukan pula penjaga. Pikiran hanyalah tempat singgah sementara, sebelum kesadaran kembali tergulung ombak kenyataan.

plug me to your hive babe, let me enter, touch my soul

Lirik di atas memancarkan nuansa erotis, spiritualitas, dan kerinduan akan koneksi sejati yang melampaui tubuh dan logika. Dan akhirnya, ajakan absurd yang penuh warna pun dimulai:  you may have your smoke at any colors 

Di semesta “Brain Motel”, merokok bukan sekadar tindakan, melainkan pengalaman estetika. Rokok tak lagi terbatas dengan warna, bentuk, dan rasa. Asap berwarna-warni. Ia bisa merah, ungu, atau hijau terang. Selanjutnya, realitas disusun ulang untuk memungkinkan segala hal.

dok. KRONG

KRONG tidak sedang ingin menyampaikan sesuatu lewat “Brain Motel”. Mereka menciptakan lagu ini agar kita merasa tersesat. Tersesat adalah satu-satunya cara untuk menemukan sesuatu yang belum pernah kita lihat.

Entah sejak kapan “Brain Motel” tidak lagi tersedia di Spotify. Mungkin ia tersesat di lorong-lorong sempit dalam otak para pendengarnya, atau  ia memang sudah lama check-out dari kenyataan. Beberapa orang mengatakan sistem platform streaming musik mencurigai adanya botstreaming; deretan angka dan algoritma yang panik karena mendeteksi sesuatu yang tidak wajar. Tapi, apa itu wajar dalam dunia KRONG?

Sementara sistem menyusun laporan statistik, para personel KRONG masih sibuk menggali ide di antara sisa-sisa asap dan gema delay pedal mereka. Beberapa dari mereka mungkin tak menyadari lagunya sudah tidak bisa ditemukan di Spotify, atau malah sebenarnya mereka tahu dan memilih diam. Bagi KRONG, “Brain Motel” bukan milik platform mana pun. Semua orang bisa memiliki dan mendengarkannya Ia milik dalam kondisi separuh sadar.

Single hanya pernah berpendar sesaat di antara ketukan lambat dan gitar yang mendengung panjang, lalu menghilang begitu saja, seperti mimpi yang lupa dicatat

Lagu ini memang tidak ditakdirkan untuk tinggal di dunia nyata. “Brain Motel” adalah tamu dalam algoritma, dan kini ia telah check-out. Ia meninggalkan gema dan ingatan. Dan kita hanya bisa berharap mendapatkan kamar lagi, jika suatu hari ia kembali membuka pintu.

“Brain Motel” bukanlah karya yang selesai. Ia adalah pengalaman yang terus berlangsung di kepala kita, bahkan setelah file-nya hilang. KRONG tidak menulis lagu ini untuk dipahami, tapi untuk dialami, dan barangkali dilupakan dengan cara yang indah. Dan jika kamu cukup beruntung pernah menginap di “Brain Motel”, kamu akan tahu bahwa tempat itu tidak benar-benar pergi. Ia hanya pindah ke tempat yang tidak bisa dijangkau Spotify. Inilah saatnya saya menyetel ulang kesadaran sendiri, dan mendengar gema-gema dari dalam.


Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto sampul: Arsip @la_krong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Di Antara Trotoar dan Mimpi yang Terbengkalai: Suara Tunawisma di Sudut Kota Semarang

Next Article

Harapan Music: Menemukan Harapan Toko Rilisan Fisik Musik di Solo

Related Posts