Sudah tiga malam berturut-turut saya mendengarkan tiga album Hindia: Menari dengan Bayangan, Lagipula Hidup Akan Berakhir, dan Doves, ’25 on Blank Canvas. Namun, sampai sekarang saya tidak sedikit pun berpikir untuk menyembah setan. Saya masih salat lima waktu, berdoa, pusing mikirin skripsi, dan menjalani hidup. Saya percaya bahwa sepelik apa pun kehidupan ketika dijalani, tetap layak diperjuangkan.
Hindia berhasil mengubah satu hal: kepala saya kini semakin penuh—penuh oleh kekhawatiran akan masa depan yang entah mau dibawa ke mana.
Belakangan ini, ramai di jagat maya tentang penolakan konser Hindia di Tasikmalaya oleh sejumlah organisasi masyarakat dan aktivis di sana. Alasannya? Hindia dianggap menyebarkan paham satanisme yang dikhawatirkan bisa mengganggu keyakinan seseorang. Penolakan ini didasari oleh lirik yang ditulis oleh Baskara pada lagu “Matahari Tenggelam.” Dalam lagu itu terdapat lirik yang kontroversial: “Kudoakan kita semua masuk neraka.” Selain itu, penolakan ini juga dipicu oleh beberapa konser Hindia yang mengusung tema analog horor.
Lirik “Kudoakan kita semua masuk neraka“ memang terdengar ekstrem di telinga yang tidak terbiasa mendengarkan sarkasme. Namun, jika kita tarik napas sesaat dan mendengarkan keseluruhan lagu tersebut, kita akan menemukan bahwa lirik itu bukanlah sebuah doa, apalagi ajakan untuk menyimpang. Lagu “Matahari Tenggelam” justru menceritakan tentang bullying, dan lirik itu adalah kiasan dari seseorang yang berharap orang-orang yang merundungnya dengan kejam bisa merasakan “neraka” yang sama saat ia disakiti.
Sebagai seseorang yang juga sedang bergulat dengan kekhawatiran akan masa depan yang tak pasti, bagi saya, lagu-lagu Hindia justru menjadi semacam mantra penolong, bukan penyesat. Musiknya, alih-alih memperlemah iman, justru menguatkan saya lewat luka-luka yang didengarkan, kegagalan yang dimaafkan, dan rasa bersalah yang tak lagi menyakiti, tapi mulai diterima dengan tenang.
Saya masih ingat betul lima tahun lalu, saya mendengarkan lagu “Secukupnya” untuk pertama kalinya sambil memeluk lutut sendiri. Dunia di dalam kepala terasa bising, tapi suara Baskara terdengar seperti pengakuan yang tulus: bahwa tak semua hal harus dimenangkan, beberapa cukup diterima, dipeluk perlahan, dan dilepas jika memang tak bisa digenggam.
Lagu-lagu Hindia tak hanya saya dengarkan lewat headphone. Saya pernah dua kali berada di tengah kerumunan penonton, menyaksikan Hindia secara langsung: pertama pada konser “Ekspectanica 2024” dan terakhir di “CRSL Concert #5: The Euphoria”. Saya datang dengan penuh harap dan pulang dengan perasaan lega. Di sana, saya tak menemui ritual pemujaan setan, ajakan sesat, atau simbol-simbol gelap seperti yang ramai diperbincangkan. Justru yang saya temui adalah ribuan orang yang sama-sama mencari ruang aman untuk berteriak dan mengenyahkan beban yang lama dipendam.

Beberapa penonton bernyanyi sambil tersenyum, ada yang berteriak sekuat tenaga, dan sebagian lainnya menunduk sambil sesekali mengusap air matanya. Momen ketika lagu “Cincin” dinyanyikan bersama terasa lebih seperti doa yang diteriakkan secara massal, ketimbang pemujaan pada hal yang sesat. Sebab kami memang datang bukan untuk meninggalkan iman, tapi sebatas ingin bertahan sebagai manusia.
Saya tidak pernah merasa lebih dekat dengan sisi paling rapuh dari kemanusiaan saya, selain dari momen-momen seperti itu, ketika lagu bukan lagi sekadar hiburan, melainkan jadi perpanjangan dari doa yang seringkali terasa bingung bagaimana harus diucapkan. Di antara dentuman musik dan nyanyian, saya merasa dimengerti, dikuatkan, dan pelan-pelan pulih. Maka terdengar lucu ketika mereka menyebut kami sesat.
Padahal musisi yang kami nikmati karyanya—yang mereka tuduh sesat—adalah orang yang berulang kali menyuarakan krisis kemanusiaan di Palestina dengan lantang.
Lewat media sosial dan panggung-panggungnya, Baskara kerap mengingatkan kami untuk tidak diam saat rakyat Palestina sedang menderita akibat genosida yang dilakukan oleh penjajah Israel. Selain bersama Hindia, lewat lagu-lagunya bersama .Feast, Baskara juga sering menyuarakan isu-isu sosial, menunjukkan keberpihakannya kepada kaum marjinal dan kemarahannya atas ketidakadilan, serta mengajak kami untuk terus peduli.
Bersama .Feast, Baskara sering menampilkan bendera Palestina lewat layar latar panggung dan menyuarakan seruan “Free Free Palestine!” di sela lagu-lagunya. Terutama dalam lagu “Berita Kehilangan,” terselip harapan agar tak lagi terdengar kabar kehilangan dari tanah Palestina.
Ironis, Baskara yang dituduh menyesatkan justru adalah seseorang yang berdiri di sisi yang sama dengan kita: melawan genosida, memerangi penjajahan, mendukung kemerdekaan Palestina, dan menyuarakan keadilan.
Sayangnya, pada saat yang sama, ia dituduh sesat oleh orang-orang yang seharusnya tahu betul apa arti dari ketidakadilan.
Namun begitulah yang terjadi sekarang. Saat seseorang yang membela Palestina seharusnya didukung, justru dianggap menyesatkan oleh segelintir orang yang sibuk mengurusi citra kesalehan dari luar saja. Mereka lebih takut pada lirik lagu dan mengabaikan kabar terkait penderitaan nyata dari Gaza.
Kami yang ingin menikmati karyanya dicap mengikuti aliran sesat. Seolah iman kami bisa luntur hanya karena satu tiket konser. Seolah kebaikan hanya boleh disuarakan lewat pengeras suara di rumah ibadah, bukan lewat mikrofon yang mengajak pada kebaikan dengan cara yang lain.
Barangkali, iman memang tak selalu ditunjukkan lewat larangan atau tuduhan. Sesekali, iman justru tumbuh saat kita memilih untuk tidak membenci dan mulai menghargai orang lain. Lagu-lagu yang ditulis oleh Baskara tidak menyesatkan kami. Kami memang tak fasih berdoa, tapi kami percaya bahwa Tuhan tak pernah tuli mendengar jeritan dari hamba-Nya yang sedang berusaha bertahan.
Jika lantang menyuarakan kebebasan untuk Palestina masih dituduh sesat, maka biarlah kami berdosa di atas kemanusiaan.
Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto sampul: Instagram/wordfangs

