Banyak lagu yang hanya mampir sebentar di telinga para pendengar, lalu seketika menghilang akibat gempuran rilisan terbaru. Namun, ada pula lagu-lagu yang tidak sekadar terdengar di telinga, ia menetap dan meresap ke ruang hati paling dalam. Saat mendengarnya, lagu itu seolah bisa membuat kita pulang ke tempat yang hangat dan menenangkan.
Bagi saya, “Sampai Jadi Debu” milik Banda Neira adalah termasuk jenis yang kedua: menenteramkan jiwa sekaligus abadi. Lagu ini tak pernah benar-benar pergi sejak hampir satu dekade perilisan, bahkan saat banyak lagu baru datang silih berganti.
Pada 9 Agustus 2025, di salah satu festival musik terbesar di Yogyakarta, Cherrypop 2025 dengan mengusung tema “Gelanggang Musik”, saya akhirnya menandai salah satu wishlist yang sudah bertahun-tahun saya simpan diam-diam, yaitu mendengarkan lagu “Sampai Jadi Debu” secara langsung.
Cherrypop sendiri merupakan festival musik tahunan berskala besar. Festival ini tak hanya menghadirkan sederet musisi ternama Indonesia, tetapi turut memberikan ruang kreativitas dalam berbagai bentuk seni, seperti karya seni visual serta record store yang menjual rilisan fisik musik, mulai dari kaset, vinyl, hingga merchandise—termasuk rilisan fisik dari Banda Neira yang dapat dibawa pulang oleh pengunjung.
Pada tahun keempat penyelenggaraannya ini, Cherrypop menghadirkan 58 musisi lintas genre yang tampil selama dua hari di empat panggung berbeda. Dari sederet nama besar dan penampilan energik yang memadati jadwal, Banda Neira menjadi salah satu yang paling kutunggu.
Ketika lagu “Sampai Jadi Debu” dimulai, panggung seolah berubah menjadi ruang yang sunyi dan sakral. Lagu ini berdurasi sekitar enam menit dengan tiga menit awal hanyalah intro. Di tiga menit pertama itu, Banda Neira hampir tidak menyajikan vokal, hanya ada alunan nada yang perlahan masuk ke dada para penonton. Mungkin memang inilah kekuatan tersembunyi dari lagu “Sampai Jadi Debu”, ia mengajak pendengarnya menunggu, menarik nafas, dan meresapi setiap denting yang jatuh.
Pada sore itu, di hari pertama Cherrypop berlangsung cuaca cerah, senja nyaris sempurna ketika dentingan piano Ananda Badudu menjadi semacam mantra. Jemarinya menyetuh tuts dengan tempo yang indah sekaligus lembut, seolah setiap pergantian nadanya sengaja diberikan ruang untuk bernafas. Penonton menikmati dengan berbagai macam cara, ada yang khusyuk mendengarkan, ada yang mengabadikan penampilan mereka dengan merekam, dan mungkin ada pula yang menangis dalam diam. Sepanjang intro berjalan nyaris mengubah panggung menjadi altar untuk menyuarakan doa bersama.
Selanjutnya, ketika Saron “Sasha” Sakina akhirnya membuka suara, seperti ada yang “robek” di dalam dada penonton. Suaranya menembus sunyi yang sudah dibangun sedemikian lama, membawa lirik-lirik itu langsung ke inti hati.
“Badai tuan telah berlalu / Salahkah kumenuntut mesra.”
Sasha berhasil menyanyikannya dengan pelan, tulus, dan tanpa pretensi. Semua yang berdiri di depan panggung paham: mereka bukan hanya sekadar menyaksikan penampilan musik. Lebih dari itu, mereka menyaksikan lagu yang secara tidak langsung menyentuh bagian rapuh dari seseorang dengan cara dan saat yang sama.
Walaupun nyawa lagu ini dulu hidup bersama Rara Sekar, tetapi kehadiran Sasha sebagai penggantinya tidak membuat rasa magisnya lantas pudar. Bagi saya, Banda Neira tetaplah Banda Neira. “Sampai Jadi Debu” tetap membuat saya jatuh cinta pada konsep kesetiaan, janji abadi, dan cinta yang tak gaduh.
Pada sebuah kesempatan, saya pernah mendengar sebuah ungkapan dari Sutan Sjahrir: “Jangan mati sebelum ke Banda Neira.” Sebuah kalimat yang terasa seperti panggilan sekaligus tantangan, tetapi bagi saya, pergi ke Banda Neira secara fisik masih sulit bahkan hampir mustahil terwujud.
Untuk itu, saya mengganti sedikit ungkapan milik Sjahrir menjadi: “Jangan mati sebelum selesai mendengarkan lagu Banda Neira.” Meskipun saya belum mendapatkan kesempatan pergi ke Banda Neira, setidaknya saya bisa mendengarkan lagu-lagu milik Banda Neira, terutama lagu “Sampai Jadi Debu” sudah cukup membawaku pada sebuah perjalanan batin yang tak kalah mengesankannya.
Saya pernah, bahkan mungkin sering, membayangkan lagu “Sampai Jadi Debu” ini akan menjadi milik saya dan seseorang. Saya membayangkan ketika lirik, “Sampai kita tua/ sampai jadi debu / ku di liang yang satu / ku di sebelahmu” dilantunkan, saya akan tatap matanya begitu lekat. Betapa indahnya jika mendengarkan lagu ini bersama seseorang yang aku sayangi di tepi laut, di antara megahnya pegunungan, atau hanya sekadar di atas motor sambil mengelilingi kota. Saya pikir momen itu akan menjadi sebuah kenangan sederhana yang tak tergantikan.

Ternyata, tidak ada orang yang berhasil mewujudkan mimpi itu. Orang yang pernah kuanggap tepat untuk menemaniku mendengarkan “Sampai Jadi Debu” pada akhirnya pergi, dan lagu ini tetap tinggal bersama saya dengan utuh, suci, tanpa kenangan apa pun bersamanya. Dengan kata lain, lagu ini telah menjadi bagian dari hidup saya sendiri baik dari kesedihan, penerimaan, hingga doa-doa yang tak pernah dirapalkan secara keras.
Lagu ini memberikan saya pelajaran bahwa tidak semua orang yang kita harap akan berjalan bersama hingga ditakdirkan untuk menua di sisi kita. Cinta tak selalu menetap dalam bentuk manusia, kadang ia bisa tetap hidup dalam lagu, dalam puisi, atau dalam diam.
Mungkin jika suatu hari nanti Tuhan memberikan waktu dan takdir yang lembut, “Sampai Jadi Debu” akan saya pilih sebagai alunan yang mengiringi resepsi pernikahan. Tentu akan saya putar pertama sebelum lagu “Akad” milik Payung Teduh, “Amin Paling Serius” milik Sal Priadi, bahkan mungkin sebelum lagu “All of Me” milik John Legend dan “Can’t Help Falling in Love”-nya Elvis Presley. Sebab bagi saya, lagu ini bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang ikhlas untuk tetap tinggal meski dunia perlahan memudar.
Lagu ini layaknya sebuah doa yang dinyanyikan dengan lembut, tak perlu menyebut nama tetapi selalu membawa harapan. Bahwa kelak akan ada seseorang yang ingin duduk di sebelah saya ketika lagu ini kembali diputar, entah di depan sebuah panggung, di ruang resepsi, di dalam mobil yang melaju pulang, atau di rumah saat waktu tengah malam yang sunyi. Seseorang yang tidak datang dengan gemuruh, tapi datang sepreti lagu ini, tenang, tulus, dan bertahan lama.
Maka, ketika hari itu tiba saya akan tahu semua waktu yang saya lewati sendirian, semua bait yang saya simpan rapat-rapat, tidak berakhir sia-sia.Cinta yang saya tunggu akan hadir dengan wujud yang sederhana, lembut, dan tak terburu-buru. Layaknya doa yang dikabulkan perlahan, seperti lagu ini, yang tetap hidup bahkan setelah semua pergi.
Lagu yang akan selalu saya dengarkan,
sampai saya,
dan dia,
jadi debu.
Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto sampul: Official Dokumentasi Cherrypop 2025
