Mencari Tawa di Tengah Reruntuhan: ‘That Time, Again’ dan Kegelisahan Generasi Kini

Eksperimen minimalis Merpati Performance Laboratory pada pertunjukan “That Time, Again” yang intens dan personal.

Di dunia teater absurd, Samuel Beckett dan mahakaryanya Menunggu Godot bagai dua sisi koin yang tak terpisahkan, terutama bagi penikmat teater Indonesia. Namun, di balik “gemerlap” Godot terselip sebuah permata lain dalam khazanahnya yang jarang tersentuh, yaitu naskah drama pendek berjudul That Time. Hal inilah yang membuat pentas That Time, Again oleh Merpati Performance Laboratory di Gedung Teater Bulungan, Jakarta, terasa sebagai sebuah tawaran yang berani dan segar. 

Mereka tak hanya mengadaptasi naskah yang jarang ditampilkan di panggung Indonesia, tetapi lebih jauh lagi menafsir ulang dan menjanjikan kehadiran sebuah perjalanan artistik yang menggugah. Perjalanan yang “memantulkan kekacauan perang, memori yang terpecah, dan cara generasi kini mencari tawa di tengah kehancuran” lewat improvisasi, humor gelap, dan interaksi media.

Sebelum membahas bagaimana presentasi Merpati Performance Laboratory dalam mempersembahkan karya ini, ada baiknya kita menyelami sekilas bentuk asli naskahnya. That Time ditulis Beckett khusus untuk aktor Patrick Magee dan pertama kali dipentaskan pada 1976. Karya ini adalah sebuah eksperimen minimalis yang intens dan personal.

Bayangkan sebuah panggung yang gelap gulita, hanya ada satu sorotan cahaya yang menyinari kepala seorang lelaki tua, melayang tiga meter di atas tanah. Wajahnya tetap statis, tak bergerak, hanya napasnya yang terdengar menggema di kesunyian. Dari kegelapan, tiga suara (A, B, dan C) bergantian menyapa. Ketiganya adalah suara dalam kepalanya yang masing-masing mewakili fase berbeda dalam hidupnya. Ada masa kecil yang penuh pelarian (A), masa dewasa dengan hubungan yang gagal dan kesepian (B), hingga masa tua yang dihantui refleksi kegagalan dan kehampaan (C).

Frasa “that time” (waktu itu) berulang seperti mantra, sekitar 35 kali, menegaskan kaburnya batas antara memori dan imajinasi. Suara-suara itu saling tumpang tindih, bertabrakan, dan gagal menyusun narasi yang koheren, persis seperti cara kerja pikiran kita yang kacau. Pada akhirnya, semua memori itu “datang dan pergi … dalam sekejap”, meninggalkan kesan mendalam tentang waktu yang berlalu dan hidup yang sia-sia. Beckett sendiri konon membayangkan naskah ini sebagai alegori dari mimpi, di kepala yang terbaring di atas bantal.

Dengan durasi hanya 15 menit dan struktur yang begitu rigid, naskah orisinal ini adalah tantangan besar bagi siapa pun. Lalu, bagaimana Merpati Performance Laboratory menghidupkan kembali karya yang begitu personal dan minimalis ini menjadi sebuah pertunjukan yang kontekstual untuk penonton masa kini? 

Adaptasi yang Beresonansi

Di panggung Teater Bulungan malam itu, kesan minimalis Beckett sengaja dibongkar. Meski tidak megah, tata panggung yang disajikan terasa lebih “ramai” dan multiinterpretasi dibandingkan dengan keheningan visual yang disyaratkan naskah aslinya. Sebuah sofa dengan hiasan balon-balon putih seperti simbol kerapuhan dan kesemuan perayaan, berada di satu sisi.

Di dekatnya, set meja-kursi kayu yang sederhana ikut hadir. Elemen paling mencolok adalah sebuah masker oksigen dengan selangnya yang menjuntai dari atas, bagai tali pusar atau suplai kehidupan dari dunia lain. Di baliknya, sebuah proyektor menampilkan cuplikan para aktor yang bersiap di belakang panggung, seolah mengaburkan batas antara yang tampak dan yang tersembunyi, antara pertunjukan dan prosesnya.

Kemudian, seorang aktor yang telah lama berada di panggung mendekati masker oksigen itu. Saat dia mengenakannya, suara napasnya diamplifikasi hingga menggema ke seluruh ruangan, memecah kesunyian. Inilah momen pertama yang menautkan kita kembali ke That Time-nya Beckett, napas sebagai penanda kehidupan sekaligus kecemasan. Suara itu menjadi jembatan antara yang teatrikal dan yang intim.

Dari speaker, sebuah rekaman suara narator mulai menggema, melantunkan potongan monolog, “Waktu itu, kau datang kembali untuk melihat apakah reruntuhan itu masih di sana…”. Sebuah kalimat pembuka yang langsung membenamkan penonton ke dalam lorong memori yang rusak.

Satu per satu, aktor lain memasuki panggung. Ritual mereka seragam, mendekati masker, menghirup napas keras yang terdengar, seakan-akan mengisi ulang “nyawa” atau menerima sebuah perintah untuk mulai bernarasi. Tanpa dialog verbal, mereka lalu “bermain” dengan properti yang melekat pada masing-masing tubuh. Seorang dengan jubah yang membuatnya limbung, seorang lagi dengan dasi yang seakan mencekik, yang lain dengan sepatu dan koper yang terasa asing tapi mengikat. Benda-benda ini bukan sekadar properti pasif, melainkan tuas penggerak narasi fisik.

Metafora visual dari bagaimana kenangan, trauma, dan identitas melekat dan menggerakkan manusia.

Sementara tubuh-tubuh itu bergerak dalam situasi absurd, suara narator terus saling sela dan bertumpuk. Mereka tidak lagi bercerita tentang kenangan personal, tetapi meluas menjadi gambaran suasana dan kengerian perang, ledakan, kekacauan, dan ketakutan kolektif yang menghancurkan ingatan. Di sini, adaptasinya memperluas cakrawala naskah Beckett dari interior pikiran seorang tua menjadi suara generasi yang terperangkap dalam sejarah konflik yang berulang. Lalu, tiba-tiba, suara ledakan!

Suara menggelegar itu memekakkan telinga, menghancurkan segala kontemplasi yang terbangun. Keempat aktor yang sedari tadi larut dalam permainan benda dan ingatan, serta-merta berubah menjadi figur-figur yang ketakutan. Tubuh mereka gemetar, setengah meringkuk di sekitar meja, mencari perlindungan yang tidak ada. Suara ledakan itu kembali bergema, beberapa kali, menghantam ruang teater. Asosiasi pun terbang langsung ke berita-berita terkini. Ini adalah bayangan dari adegan peperangan di Gaza, Palestina, atau di mana pun konflik bersenjata merenggut rasa aman.

dok. Rusydi Jamil Fiqri

Kesan itu bukan lagi sekadar tafsir, melainkan pernyataan yang sengaja dihadirkan. Sebuah drone kecil, dingin, dan mekanistik, melayang di atas panggung. Kehadirannya mengubah dinamika ruang secara instan. Ia adalah mata yang mengintai, ancaman yang tak terelakkan, dan mesin pembunuh yang impersonal. Setiap helikopter kecil itu bergerak mendekat, para aktor semakin menciut, gestur ketakutan mereka menjadi lebih liar dan putus asa. Puncaknya, mereka berhamburan meninggalkan panggung dengan langkah tergesa-gesa, dikuasai oleh panik yang nyata.

Drone itu tidak pergi. Ia justru bergeser, perlahan, hingga “wajahnya” yang dingin dan tanpa emosi itu menghadap langsung ke arah penonton. Untuk sesaat yang mencekam, penonton tidak lagi menjadi pengamat, tetapi bagian dari adegan itu. Kita diajak untuk merasakan tatapan mesin itu, untuk ikut merasakan kerentanan yang sama, dan diingatkan bahwa dalam perang modern, tidak ada pihak yang benar-benar menjadi penonton. Kita semua potensial menjadi target di layar sebuah monitor.

Jika naskah Beckett asli berkutat pada perang batin dalam kepala satu individu, adaptasi ini dengan lantang menyatakan bahwa “waktu itu”, that time, adalah juga waktu sekarang. Kekacauan perang bukan lagi sekadar kenangan yang terpecah, tetapi realitas brutal yang dihadapi generasi kini, di mana ancaman datang dari langit dan disiarkan langsung ke gawai kita.

Setelah kepergian mereka, suasana mencekam itu tiba-tiba terpotong oleh sebuah penanda yang muncul pada layar proyektor: “Makan Malam”. Sebuah judul yang ironis, mengisyaratkan sebuah rutinitas normal yang mustahil di tengah kobaran kekacauan.

Namun, sebelum adegan inti dimulai, sebuah kehadiran lain menyapa penonton. Seorang anak kecil, polos dan riang, menaiki sebuah kotak. Di tangannya, ia membawa pistol mainan, bukan yang mengeluarkan peluru, tetapi gelembung-gelembung balon air yang berkilauan. Dengan tingkahnya yang ceria, ia bermain seolah dunia di sekitarnya adalah taman bermain yang aman. Kehadirannya bagai oase di tengah panggung yang masih menyisakan rasa mencekam dari adegan drone dan ledakan sebelumnya. Ia adalah personifikasi dari kepolosan yang belum tersentuh trauma.

dok. Rusydi Jamil Fiqri

Kemudian, adegan “Makan Malam” pun berlangsung. Para aktor, yang baru saja dilanda kepanikan, terburu-buru menyantap hidangan. Yang mereka makan adalah semangka, buah yang dagingnya merah merekah dan seketika mengingatkan pada bendera Palestina. Sebuah simbol perlawanan dan perjuangan yang kuat dan universal. Mereka melahapnya dengan cepat, di sela-sela suara ledakan yang masih sesekali mengintai, seakan usaha untuk mempertahankan normalitas dan kekuatan di tengah teror.

Di tengah-tengah adegan yang sarat ketegangan ini, anak kecil itu kembali muncul. Ia bernyanyi dengan riang, menari dengan bebas, matanya berbinar tanpa beban. Dunia baginya masih merupakan tempat yang ajaib dan menyenangkan. Ia tidak, atau belum, memahami kekacauan yang melanda orang-orang dewasa di sekitarnya.

Para aktor pun menyambutnya dengan senyuman. Mereka tersenyum kepadanya, berusaha menirukan keriangan si anak, mencoba melindungi dunianya yang masih murni. Namun, di balik senyuman itu, raut wajah mereka tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dan kekhawatiran yang mendalam. Sebuah kontras yang begitu menyayat. Kepolosan yang masih bermain di tengah reruntuhan dan kedewasaan yang terpaksa tersenyum sambil menahan nestapa.

Adegan ini menangkap dilema universal para orang tua di zona konflik, bagaimana melindungi anak-anak mereka tidak hanya dari bahaya fisik, tetapi juga dari luka psikologis dan bagaimana mempertahankan secercah kegembiraan manusiawi ketika segala sesuatu di sekitar hancur berantakan. Inilah “cara generasi kini mencari tawa di tengah kehancuran” seperti yang dijanjikan poster pertunjukan. Sebuah tawa yang getir, penuh kasih sayang, dan sangat menyentuh.

dok. Rusydi Jamil Fiqri

Ceritanya Persis Seperti Cara Kerja Pikiran Kita yang Kacau

Setelah babak “Makan Malam” yang penuh kontras itu, Merpati Performance Laboratory melanjutkan perjalanan absurd penonton melalui dua pembabakan lagi: “Reruntuhan” dan “Rumah dan diri yang hilang. Siapakah waktu?”. Struktur tiga babak ini bukanlah narasi linear, melainkan sebuah mosaik yang sengaja dikacaukan. Cerita bergerak tak beraturan, bagaikan kliping-kliping ingatan yang tiba-tiba muncul dan saling berteriak meminta perhatian. Konsep ini seakan ingin menautkan lakon adaptasi dengan jiwa naskah asli Beckett. Suara-suara narator, adegan, dan visual saling tumpang tindih, bertabrakan, dan gagal menyusun satu kisah yang utuh. Persis seperti cara kerja memori dan pikiran kita yang kacau ketika mencerna trauma.

Pada satu adegan di babak “Reruntuhan”, seorang aktor bermonolog di dalam sebuah kotak, menyampaikan kata-kata frustasinya terhadap absurditas perang. Sementara itu, di sekelilingnya, para aktor lain berubah menjadi figur tentara (dikenali dari sepatu lars dan penutup muka loreng) yang dengan beringas bermain “bola”. Namun, bola yang mereka tendang ke sana kemari bukanlah benda sembarangan, melainkan sebuah semangka. Adegan ini adalah metafora viseral yang powerful dan menyakitkan.

Sebuah kritik pedas terhadap cara kekuasaan mempermainkan nyawa dan nasib suatu bangsa (Palestina) layaknya sebuah permainan, di mana kehidupan dihancurkan dengan sikap masa bodoh dan penuh ejekan.

Kekacauan ini lalu berlanjut pada sebuah adegan yang bisa dibilang sebagai satir paling tajam dalam pertunjukan, sebuah fashion show. Para “model” berjalan bak di catwalk dengan gaya yang congkak dan penuh ejekan, seolah-olah perang adalah tren terbaru yang perlu dipamerkan. Ironi ini diperkuat oleh proyeksi di belakangnya yang menampilkan cuplikan-cuplikan nyata dari wilayah konflik dan korban perang di Timur Tengah. Gestur para model yang berpura-pura menembak dan kemudian terjatuh dramatis bukanlah penghormatan, melainkan sindiran yang meledek terhadap para pihak yang mempertontonkan penderitaan sebagai tontonan, atau yang justru berlagak bak pahlawan di atas penderitaan orang lain. 

Seperti memori traumatis yang terus menghantui, kekerasan dalam pertunjukan ini tidak berhenti pada konflik di tanah jauh. Dengan pedas, ia beresonansi dan menusuk pada realitas terbaru yang menyentak negeri ini. Layar proyektor yang tadi menampilkan reruntuhan Gaza, kini beralih menunjukkan dokumen “tuntunan 17+8” yang menjadi buah bibir pasca demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Indonesia. Pesan politisnya jelas dan berani, bahwa mekanisme kekerasan negara itu sama di mana-mana.

Kekerasan yang awalnya kita saksikan sebagai fenomena “di sana” (Palestina), tiba-tiba menjadi sangat “di sini”. Nama-nama para korban jiwa yang gugur dalam demonstrasi itu ditayangkan satu per satu, mengubah teater menjadi ruang peringatan yang sunyi dan mencekam. Seorang aktor, mewakili suara rakyat yang terluka, menangisi setiap nama yang terpampang. Suaranya pecah pada sebuah jeritan yang menggema bagi yang telah pergi dan bagi yang masih hidup dalam luka.

Namun, jeritannya tidak sempat menghangatkan udara. Sebelum gema teriakannya pudar, para aktor lain, yang kembali mengenakan atribut militer, bermobilisasi dengan cepat. Mereka mengepungnya, mengeroyok, dan dengan brutal membungkamnya. Seorang warga yang menuntut keadilan diserang oleh sebarisan tentara yang menjadi simbol aparatus kekuasaan yang represif. Adegan ini menyajikan sebuah realitas pahit, di depan hukum dan kekuasaan, suara korban seringkali dijawab dengan pentungan, bukan keadilan.

dok. Rusydi Jamil Fiqri

Adegan ini dengan terampil memperlihatkan bagaimana pola kekerasan terhadap sipil yang tidak bersenjata adalah sebuah script yang berlaku universal. Ia tidak hanya terjadi di daerah konflik seperti Palestina, tetapi berulang dan terjadi di sekitar kita, di jalanan yang kita lewati setiap hari. Kekerasan bukan lagi peristiwa luar biasa, melainkan bagian dari mekanisme kontrol yang mengglobal.

Setelah semua hiruk-pikuk kekerasan itu mereda, yang tersisa hanyalah keheningan yang berat. Kekhawatiran yang dalam, dan trauma kolektif yang akan berakar, diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pertunjukan ini menyisakan sebuah pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban. Sementara kita masih terperangkap dalam lingkaran kekerasan dan penyakit cepat lupa.

Jika Samuel Beckett dalam naskah aslinya menjadikan That Time sebagai ruang geladi bagi monolog batin yang sunyi, maka Merpati Performance Laboratory justru membukanya dengan keras, menjadikannya ruang resonansi bagi teriakan kolektif generasi masa kini. Adaptasi mereka bukan lagi sekadar tentang ingatan seorang individu yang menua, tetapi tentang ingatan dunia yang sedang patah-patah.

Pertunjukan ini mengambil inti dari teater absurd Beckett, yaitu kegagalan bahasa, kekacauan narasi, dan sensasi absurditas kehidupan lalu menanamkannya dalam konteks kekinian yang nyaris tak terbantahkan. Apa yang dalam naskah asli digambarkan melalui tiga suara yang saling serobot di dalam satu kepala, dalam pentas ini diwujudkan sebagai teriakan berlapis dari banyak korban: korban perang di Gaza, korban kekerasan negara di jalanan Indonesia, dan korban trauma yang tersenyum di hadapan anak-anak mereka.

That Time, Again dengan demikian bukan sekadar adaptasi, melainkan sebuah translasi. Mereka menerjemahkan ‘waktu itu’ (that time) menjadi ‘waktu sekarang’ (this time), dan ‘dia’ (sang narrator tua) menjadi ‘kita’. Pada akhirnya, pertunjukan ini membuktikan bahwa karya Beckett memang bukan museum artefak. Ia adalah sebuah cermin yang bisa dibawa ke mana-mana. Merpati Performance Laboratory telah membawa cermin itu dan mengarahkannya tepat ke wajah kita sendiri, ke wajah Indonesia tahun 2025, dan membiarkan kita melihat semua retakan dan noda darah di sana. 

Mereka tidak memberikan jawaban, karena memang tidak ada. Seperti halnya Godot yang tak kunjung datang, keadilan dan perdamaian pun sering kali hanya jadi ilusi. Namun, dengan membangunkan kita dari tidur nyaman, pertunjukan ini sudah menjalankan tugasnya dengan mengingatkan bahwa dalam kesunyian, yang tersisa mungkin hanya napas kita. Dari sanalah kita harus memilih. Tetap diam atau berteriak.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: dok. Rusydi Jamil Fiqri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Peringatan dari Vortex of Hatred, "Negara sedang Gawat!"

Next Article

Terapi Minor: Dari One Piece, Sudah Waktunya untuk Marah

Related Posts