“Saya di kompleks dosen UI, No. 113. Rumah Pak Sapardi Djoko Damono.”
SMS itu masuk pada hari Rabu, pukul 09:21, 25 Oktober 2023. Saya masih menyimpan percakapan isi SMS tersebut ketika catatan ini ditulis. Si pengirim pesan, Kiai Faizi, mengabari posisi real time-nya saat itu. Sehari sebelumnya, kami memang sudah ‘janjian’ bertemu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kebetulan, ia kebagian menjadi narasumber dalam Pekan Kebudayaan Nasional. Namun, saya rupanya urung hadir siang itu sebab ada keperluan mendadak di pesantren.
Malam harinya, Kiai Faizi menginap di rumah Pak Makyun Subuki, Ketua Jurusan PBSI periode itu. Dalam SMS berbeda, ia mengabari lagi keesokan harinya, tempat dan waktu akan dikabari kemudian. Saya mengiyakan sampai pada akhirnya satu pesan, masuk dalam inbox saya.
Namun sebentar, alamat itu sungguh tidak asing.
Terakhir saya mendengar kabar, sepeninggal Sapardi Djoko Damono (SDD), rumah itu telah beralih fungsi menjadi museum pribadi. Kabar tersebut kemudian saya verifikasi di akun Instagram SDD sendiri dan beberapa media daring. Terus terang, saya belum pernah mengunjunginya sama sekali selama menjadi museum.
Berselang 3 tahun, dalam momen ‘ajaib’ ini, saya akan datang ke rumah itu lagi.
Saya disambut hangat oleh Kiai Faizi di rumah itu. Rumah yang tidak banyak mengalami perubahan, selain letak sofa di ruang tamu yang sebagian dipindahkan. Kami berbincang banyak hal. Membicarakan topik apa saja di pertemuan ‘unik’ ini secara detail, akan saya ceritakan dalam catatan lain.
Untuk pertama kalinya juga, saya bertemu Atiqotul Fitriyah, dosen muda PBSI UIN Jakarta. Umur kami rupanya sebaya. Ia bercerita kalau baru beberapa bulan menempati rumah tersebut bersama suami dan putrinya, Mas Azzam dan Aisha. “Atas permintaan Bu Sonya,” ungkapnya.
Atiqoh dan suaminya berasal dari keluarga pesantren yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Kiai Faizi. Terjawab sudah mengapa Kiai Faizi mengajak saya bertemu di sini. Menariknya, Atiqoh turut membawa santri-santrinya untuk tinggal di rumah sebelah. Jadilah rumah SDD beralih fungsi menjadi pesantren rumahan yang lazim seperti pesantren di beberapa wilayah Jawa Timur. Mereka menghafal, mendaras, dan mengkaji Al-Quran di rumah itu.
Saya kemudian meminta izin kepada Kiai Faizi dan Atiqoh untuk pamit sebentar. Ada satu urusan di pesantren yang mesti saya selesaikan saat itu juga. Saya sempat mengunggah foto bersama di Facebook dan menulis takarir bahwa saya dan Kiai Faizi sedang berada di rumah SDD. Hairus Salim (Ka Salim) mengomentari unggahan tersebut: “Kawa kah aku handak ka situ jua.”
Percakapan berlanjut via Whatsapp. Ka Salim rupanya sedang berada di MRT menuju Lebak Bulus. Siang itu, tepatnya pukul 13:00, ia akan menjadi pembicara dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional di UIN Jakarta. Temanya menarik, membicarakan seputar karya-karya Danarto.
Setibanya di Stasiun Lebak Bulus, Ka Salim meminta alamat lengkap untuk melanjutkan perjalanan dengan ojek daring. Seusai salat zuhur, kami pun berjumpa di pelataran Masjid Al-Irfan, tidak jauh dari rumah SDD. Terakhir kami bertemu dalam sebuah diskusi di Galeri Nasional, tahun 2015.
Siang hari itu, menjadi salah satu pertemuan paling berharga dalam hidup saya. Saya menyimak orang-orang yang bertungkus lumus dalam dunia pesantren ini bertukar kisah dan pengalaman. Kiai Faizi, sebagai penyair dan pengasuh An-Nuqayah yang melahirkan banyak penyair nasional dari pesantren dan Ka Salim, Ketua Lakpesdam NU Yogyakarta sekaligus salah satu pendiri LKiS yang masyhur itu.
Selain berbincang-bincang, kami menyusuri seisi rumah SDD, melihat buku-buku, beberapa lukisan dan plakat penghargaannya. Tak lupa kami mengabadikannya dalam foto. Rumah sang maestro, siang itu menjadi titik kumpul orang-orang pesantren yang menggeluti dan mencintai satu hal yang sama: Sastra.
Tanpa terasa, jam sudah mendekati pukul satu siang. Pada akhirnya, kami mesti berpisah. Saya dan Atiqoh ikut mengantarkan Ka Salim ke UIN Jakarta. Sedangkan Kiai Faizi, setelah memastikan rute bus yang akan ia tumpangi, turut mempersiapkan diri untuk bertolak menuju Bandung.
Perasaan saya kembali ke rumah itu, sampai hari ini, membawa kesan mendalam.

Semaan Puisi: Membaca dan Membicarakan Puisi Sapardi
Bertempat di Kafe Adakopi, setiap hari Kamis, pukul 20:00, diadakan diskusi secara rutinan yang membahas ulasan biografi dan pembacaan puisi-puisi penyair Indonesia dan dunia. Tokoh-tokoh yang dibahas, berlainan di setiap pekannya. Belakangan, diskusi rutinan juga kerap berpindah tempat, sesekali di rumah para penyair senior seperti Putu Wijaya, Taufiq Ismail, dan Jamal D. Rahman.
Mahwi Air Tawar dan Angin Kamajaya adalah dua nama penggagas diskusi rutinan yang dinamakan Semaan Puisi ini. Peserta yang hadir datang dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, seniman, hingga mahasiswa. Pada akhir sesi—inilah yang paling khas dari komunitas ini—setiap peserta diberikan kesempatan untuk membacakan puisi secara bergantian. Saya pernah cukup aktif serta mendapatkan pengalaman baru dari mengikuti diskusi ini sejak akhir tahun 2023 sampai pertengahan 2024.
Memasuki bulan Juni 2024, tokoh yang akan dibahas dalam diskusi pekan berikutnya adalah Sapardi Djoko Damono. Alasannya tak lain, SDD belum pernah dibahas dalam diskusi sebelumnya dan demi menangkap momen bulan Juni yang menjadi khas karena Hujan Bulan Juni.
Saya mengusulkan, bagaimana jika diskusi tersebut dilaksanakan di rumahnya saja, agar feel-nya lebih dapat sekaligus menjadi pengalaman baru bagi mereka yang belum pernah ke situ. Ini pasti akan menjadi sesuatu yang menarik. Saya juga masih mengingat pesan Atiqoh di tahun sebelumnya, “Kami di sini merasa senang, kalau ada teman-teman yang berkenan datang main ke rumah Bapak.”
Maka, saya rasa inilah momentumnya. Lagi pula, hampir setahun saya tak lagi berkunjung ke rumah itu. Dengan mempertimbangkan jarak, biaya konsumsi, dan peserta yang akan hadir, peserta diskusi pada malam itu akhirnya menyetujui usulan tersebut. Saya merasa senang sekali. Keesokan harinya, saya mengirimkan pesan ke Atiqoh, menyampaikan usulan yang telah kami sepakati.
Gayung pun bersambut. Atiqoh menerima usulan kami.
Malam diskusi pun tiba. Saya datang lebih awal untuk memastikan kesediaan konsumsi, menggelar karpet, serta hal-hal lain yang dirasa perlu. Saya mengerjakannya sembari mengedarkan pandangan ke setiap detail seisi rumah yang, saat catatan ini ditulis, belum saya kunjungi lagi.
Atiqoh juga rupanya sudah mempersiapkan kudapan selama diskusi berlangsung. Elis, salah seorang anggota Semaan Puisi yang datang tak lama setelah saya, turut sibuk mempersiapkan ini dan itu. Semula, kami membatasi jumlah peserta yang akan hadir dengan mewajibkan konfirmasi terlebih dahulu. Di luar perkiraan, peserta yang datang justru melampaui jumlah ekspektasi kami.
Diskusi pun dimulai. Saya berlaku sebagai moderator dadakan—tak biasanya ini dilakukan dalam diskusi-diskusi sebelumnya. Fotokopi ulasan riwayat hidup tentang SDD yang ditulis Angin Kamajaya diedarkan kepada seluruh peserta dan ia pun mulai menjelaskan isi ulasan tersebut. Setelahnya, Bu Novi, Mas Mahwi, dan para peserta lain turut memberikan respons dan komentar. Setelah diskusi dirasa cukup, masuklah kepada sesi berikutnya, pembacaan puisi-puisi SDD secara bergantian oleh seluruh peserta.
Pembacaan puisi berjalan khidmat. Satu peserta membaca dan peserta lain menyimak dengan tekun. Puisi-puisi yang dibacakan silih berganti dengan emosi dan intonasi yang stabil, nyaris tanpa entakan, sebagaimana yang lumrah dijumpai dalam karya SDD. Ada juga pembacaan dengan sedikit modifikasi yang disepakati di tempat: satu puisi panjang dibacakan bergantian oleh dua orang.
Sepanjang berlangsungnya diskusi dan pembacaan puisi, sesekali saya terkenang sosok si empunya rumah. Sosok yang dahulu saya jumpai di penghujung usianya. Barangkali ia tengah menyaksikan kami malam ini dari alam sana dan merasakan cinta yang dikirimkan dari rumah itu. Jejeran rak buku dan ruang tamu, beserta pigura foto dan lukisan-lukisannya, membuat saya semakin emosional.
Setiap siapa pun yang pernah mengenalnya, terlebih orang-orang terdekatnya, mestilah mempunyai kesan dan kenangan mereka sendiri. Sebagai ‘orang jauh’ yang pernah bertemu dan berinteraksi secara episodik menjelang akhir hayatnya, saya pun membagikan kisah ini kepada pembaca sekalian.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto Sampul: Imam Budiman
