Di Bawah Bayang Ulin: Kumpulan Puisi Oktavius Ekapranata

Kumpulan puisi ini: Di Bawah Bayang UlinNeptunus, Tarian Ngerangkau, dan Seperti dalam Suatu Masa. Ditulis Oktavius Ekapranata, seorang penyair muda dari Kalimantan.


Di Bawah Bayang Ulin

Di antara tungku batu yang tinggal bara, 
seorang ibu memintal sunyi 
seperti mengenang kekasihnya
di dalam keluasan desir rimba 
aku tak dapat menjelajahi kesedihannya.

Ibu genggamlah mandau tua itu, 
bukan untuk perang,
tetapi untuk menahan gemetar hatimu
yang rapuh seperti akar menjelang kemarau.
Ibu di mata anak-anakmu, 
hari-hari ini engkau menjadi kayu ulin—
keras dari luar,
tapi menyimpan retak-retak kecil
yang hanya malam benar-benar mengerti.

Lepaskan Bu burung tingang itu 
biarkanlah ia terbang bebas
di langit terdalam kita,
sembari mengepakkan sayapnya 
dan menggoreskan nada paling klasik,
seolah berbunyi: 
“Setiap kehilangan adalah pintu yang tak bisa tertutup,
hanya bisa dilewati”.

Dan pada akhirnya Bu, 
mari bersama membiarkan duka menjadi asap 
yang perlahan hilang 
namun tetap berbau rumah.

Entogong, 2025

Neptunus

: tempat rindu tak punya gravitasi

Di planet yang kami tinggali ini, rindu berubah menjadi benda cair
yang mengalir ke segala arah, mencari telapak tangan yang tergenggam
mungkin tak lagi dapat menampungnya.

Aku merunduk pejamkan mata, tapi biru jauh terasa lebih sunyi
seakan menguji apakah ingatan masih mampu berdiri
tanpa harus kembali menjadi air mata.

Pada biru yang jauh dari pada doa yang lupa pulang ini.
Neptunus, berputar perlahan menyembunyikan sebuah luka
yang tak lagi berbentuk tubuh.

Jika benar kau telah larut menjadi serpihan badai biru itu, 
maka biarkanlah aku percaya bahwa setiap dingin
yang menyentuh pipiku adalah sentuhan paling samar
yang masih mampu kau kirimkan.

Aku masih berjalan di sini, di permukaan yang berdubu ini dan tak pernah memutuskan
apakah ingin menjadi tanah atau hanya sekumpulan gema yang membeku.
Dan setiap langkah mengajarkan padaku bahwa kehilangan
adalah cara lain semesta bertanya tanpa pernah mengharapkan jawaban.

Sebab di Neptunus, cinta tidak benar-benar hilang—
ia hanya berubah menjadi angin yang mengikutiku diam-diam
membuat hidup tanpamu terasa seperti mencoba terbang
dengan sayap yang telah disayat oleh takdir
yang terlalu tenang untuk dimengerti.

Entogong, 2025

Tarian Ngerangkau

Tarian Ngerangkau datang juga, melenggokkan tubuh yang terkulai
di antara punggung waktu. Tubuh yang tak pernah memilih
antara hidup yang masih mencari atau mati yang enggan pergi.

Lihatlah para penari itu hanyalah tubuh yang dipinjam malam,
dikembalikan pagi tanpa kepastian
apakah semua jejaknya masih milik mereka sendiri.

Hentakan kaki demi kaki menggema seperti panggilan tua
yang tak lagi mempunyai nama, dan tanah menjawab pelan-pelan
samar, namun cukup membuat langit menangis sebentar.

Di tenggah lingkaran, waktu mengerutkan wajahnya:
terdengar mantra tua, dilantunkan bukan oleh mulut, 
melainkan oleh bayang-bayang yang merindukan bentuknya kembali.
Ia melafalkan gerak-gerak yang tak tertulis manusia,
dan tak akan diulang lagi meski satu detik saja melesat.

Tarian Ngerangkau datang juga, menghidupkan keheningan
yang tak berani disentuh hari-hari dan saat irama terakhir jatuh,
segala kembali seperti bermula.

Entogong, 2025

Seperti dalam Suatu Masa

Malam adalah gangguan yang sulit disingkirkan
Mengelak untuk apa
Tabuhkan saja awan hitam biar menggumpal
Lalu turunkan petir dan hujannya

Sesaat memejamkan mata
pun semakin jelas, 
pikiran masih saja bergemuruh.
“Sebuah pengakuan yang menganggap
cita-cita di kota lebih mudah diraih.”

Pada langit-langit kamar
bekas keinginan semakin tampak jelas.
Mereka menempel seperti benalu
dan aku seperti pohon mati
Hidupkan inginmu di sana
jalan kembali satu-satunya ialah
uluran tanganmu pada dirimu sendiri
dalam tangis yang menenangkan
seperti dalam suatu masa

Nanga Tebidah, 2022


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Bima Chrisanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Curhat Colongan dari Lantai Pameran Biennale Jogja 18 di Monumen Bibis

Next Article

Srawung Sastra: Merayakan Puisi di Piwulang Padepokan Sastra dan Seni

Related Posts