Yanuar Sastra adalah sebuah proyek solo folk yang lahir di celah-celah pusat industri Kabupaten Magelang, tepatnya di Kecamatan Tempuran. Di punggawai oleh Yanuar, atau akrab dipanggil Chuwel. Yanuar Sastra melahirkan extended play (EP) pertamanya dengan menyemat tajuk ‘Jalan Pintas’ pada 3 Oktober 2022 lalu, yang direkam dan dirilis bersama Repertoire Records Indonesia, dengan artwork yang digarap oleh Dauy, seorang kawan yang bermukim di Jakarta.
Aku dan Chuwel sudah beberapakali bertemu, dan seingatku dalam proses produksi EP ‘Jalan Pintas’ ini, ia mengaku telah menjual sepeda motor satu-satunya berjenis Honda Supra series miliknya. Semua dilakukan demi melengkapi seluruh keperluan rekaman dan perilisan debut EP nya. Edan! Totalitas!
Setelah aku mendengar EP ‘Jalan Pintas’ untuk pertama kalinya, ini adalah rangkaian celoteh dan nada segar dari seorang pemuda yang lahir dan tumbuh beriringan dengan ugal-ugalannya pertumbuhan industri, dengan deru mesin yang kian hari kian menggelegar. Semacam niatan untuk berseteru dengan keseharian, segala macam limbah dan ruang hidup yang pelan-pelan dikuras habis oleh kemarukan pemodal di daerahnya.
Yaaa, mirip kata Hank Williams lah ya“Folk songs express the dreams and prayers and hopes of the working people”. Asyekk.
Sudah setahun belakangan kiranya EP ‘Jalan Pintas’ Yanuar Sastra masuk dalam rentetan daftar putar andalanku. Sebuah mini album yang mengemas hal-hal yang nampak remeh temeh, tapi sebenarnya begitu dekat dan lekat dengan apa yang ada di sekitar–mulai dari pencarian diri, romansa, harapan, keluh-kesah, pertemanan, semangat untuk tetap bertahan, hingga kecintaan atas tanah kelahiran–dengan lirik yang gamblang, jujur dan kadang puitis semuanya termanifestasi dalam mini album ini.
Secara olah nada, Chuwel menjembatani lirik-lirik yang ia buat dengan getar gitar akustik, juga getar bilah harmonika yang sederhana. Ditambah ia memiliki karakter vokal yang khas–aku bingung harus menjelaskannya seperti apa, coba dengerin aja ya. Ehehe.
Syahdan, atas kesederhanaan itu pula, enam track dengan durasi kurang dari 16 menit dalam EP ‘Jalan Pintas’ ini menjadi sebuah rangkuman rasa yang mampu terhubung dengan pendengarnya.
EP ‘Jalan Pintas’ dibuka dengan lagu berjudul Bukan Hiburan Semata. Dimulai dengan sedot tiup harmonika dan petikan gitar yang langsung menarik perhatian, kemudian muncul nada-nada yang membuat hati terpontang-panting. Lagu ini bercerita tentang pemaknaan cinta yang berbeda antara sang tokoh dan perempuan yang dicintainya. Sang tokoh meyakini bahwa cinta itu tak pernah berdasar, cinta itu selalu sederhana, tak pernah meminta lebih, cinta adalah kemewahan itu sendiri. Hal ini secara gamblang disampaikan di bagian reff pada lagu ini.
“Aku percaya cinta itu sederhana // Aku percaya cinta juga kemewahan
Terserah mau di kata apa tentang cinta // Yang penting aku cinta”
Sebuah pesan yang tepat untuk memulai segala hal, bahwa segala hal yang murni tak pernah ternodai oleh apapun. Termasuk cinta. Cinta memang selalu tanpa sebab bukan?
Lagu kedua berjudul Magelang Dini Hari. Masih sama seperti lagu pertama, lagu kedua ini memilih memulai lagu dengan petikan dengan tempo yang sedikit agak ngebut, nada sederhana, dan harmonika yang memperkuat suasana musiknya yang reflektif. Di bagian outro, harmonika solo yang dimainkan, kemudian disusul petikan gitar memunculkan perasaan sendu dan rindu kampung halaman.
Secara lirik, lagu ini bercerita tentang seorang tokoh yang berasal dari Magelang asli. Stigma Magelang sebagai second city nampak sekali dalam lirik awal lagu ini, tentang Magelang yang selalu sepi setelah lewat tengah malam hari.
“Sepi sekali // Jalan Magelang kini
Mertoyudan dan sekitarnya, ada berita apa?”
Kemudian muncul juga sebuah satiran terhadap simbol wakil rakyat. Memangnya kenapa dengan simbol wakil rakyat masyarakat Magelang yang disebut dalam lirik ini? Tidak becus? Yah, sayang, si tokoh tidak terang-terangan dalam perihal ini. Teman-teman pembaca silahkan menerka-nerka saja ya. Hehehe.
“Lewati depan Gedung DPRD
Say something aku tetap PD”
Kemudian muncul juga ekspresi kemarahan terhadap tanah kelahiran si tokoh, disebutkan dalam lirik “Tempuran” yang sejak masa Orba, di tahun tahun 1990-an sampai sekarang– masif sekali terjadi pembangunan dan pembukaan lahan industri di sana, dan sekiranya 5 tahun kebelakang ini dampaknya pun mulai masif pula dirasakan masyarakat Kecamatan Tempuran.
“Lekas ku pulang // Jalan arah Tempuran
Berjejer sawah diganti pabrik-pabrik // Oh sial! Mataku kelilip”
Agar tetap santai, Chuwel sepertinya memang sengaja mengimbangi emosi di lagu ini menggunakan guyonan satir nan melankolis. Memang kecakapanya mempontang-pantingkan hati patut diacungi empat jempol. Betulan.
“Oh ternyata ini dini hari // Tapi mengapa ini sepi sekali
Katanya hidup harus bangun sedari dini // Tapi sayang kini Dini sudah milik orang lain”
Lagu ketiga yaitu Kalkulasi Kemungkinan.Berbeda dengan dua track sebelumnya, track ini hanya memakai petikan gitar tanpa ada harmonika, dengan tempo yang masih sama, dan tetap menggunakan nada nada yang yang melankolis dan reflektif. Uniknya di beberapa bagian lagu, Chuwel menggunakan vokalisasi ekspresif.
Secara lirik, lagu ini bercerita tentang sebuah hubungan manusia yang datang-pergi silih berganti, dengan banyak kemungkinan sebab. Dalam lagu ini juga tertulis doa untuk siapa saja yang pergi dengan alasan apapun, agar tetap menjaga api semangatnya, ataupun tetap konsisten dengan tujuan bersama yang pernah dibangun.
“Mungkin saja sudah tak sepaham, tak sepemikiran
Walau mungkin kini sudah tak sejalan // Semoga tetap, satu tujuan”

Lagu keempat berjudul Jika. Di track ini Chuwel lebih memilih menggunakan genjrengan dari pada petikan, dan dengan tempo yang lebih lambat. Ia benar-benar mampu menentukan nada-nada yang tepat dengan suasana lirik yang tepat pula, menentukan kapan harmonika bermain, yang menjadikan lagu-lagu pada EP ‘Jalan Pintas’ ini mudah terhubung dengan pendengar.
Lirik pada lagu ini bercerita tentang sebuah upaya merawat semangat, merawat harap, dan menjaga api dalam diri tetap stabil. Salah satu cara mewujudkan itu semua dalam lirik ini adalah dengan memahami diri sendiri. Maksudnya adalah kita harus tau kapan saat berlari, berjalan, merangkak, dan menepi untuk sejenak berhenti. Toh, berhenti juga bagian dari perjuangan bukan? Dan yang tak lupa disemat dalam lirik lagu ini adalah tetap percaya akan adanya zat yang maha segalanya. Agak spirituil memang yang satu ini.
“Slalu ada, yang membelenggu // Tapi itu tak apa
Teruskanlah Perjuangan // Jika kau merasa lelah, rehatlah sejenak
Tak usah, dipaksakan begitu // Tenang”
Lagu kelima kita kembali lagi ke Magelang, judulnya Magelang Kembali. Nah, yang ini lumayan istimewa, intro lagu petikan gitar yang biasanya dikawinsilangkan dengan harmonika, kali ini Chuwel mengganti suara harmonika dengan suara yang keluar tanpa bantuan alat, dengan siulan. Ia bersiul dengan nada-nada reflektifnya di bagian intro, dan siulan genit di bagian outronya. Sepertinya ini adalah bentuk ekspresi atas kecintaanya terhadap Magelang itu sendiri. Memilih menggunakan siulan mungkin saja artinya memilih menghadirkan sebuah kemurnian cinta tanpa alat bantu. Benar-benar suara yang keluar dari dalam dirinya.
Secara lirik, track Magelang Kembali ini banyak menyebut nama-nama tempat di Magelang. Tapi ini tidak melulu tentang Magelang saja, setiap orang berhak punya tempat pulang–dimanapun, siapapun–setelah perjalanan panjang menemui berbagai perasaan. Dari track pertama: cinta, track kedua: marah, track ketiga: sedih, track keempat: berhenti dan merenung, dan kemudian pada track kelima ini adalah saatnya menilik ulang lagi–sebenarnya kemana arah yang sebenar-benarnya dicari?
“Kembali di Magelang, riang hati senang
Kembali di Magelang, meluas harapan // Ku kembali pulang”
Lagu terakhir dan menjadi panutup dalam EP ‘Jalan Pintas’ ini berjudul Raya. Setelah melalui perjalanan panjang penuh emosional di lima track sebelumnya, track terakhir ini akhirnya mengambil nada-nada perayaan yang penuh semangat dan keberanian. Ini menjadi semacam rasa syukur atas perjalanan panjang tersebut.
“Semoga esok kan lebih baik // Untuk hari ini
Mari kita rayakan // Rayakan apa saja”
Lagu ini seolah mencoba menarik siapa saja untuk menari dan merayakan apa saja yang telah di lalui–jatuh bangunya, susah senangnya, pengorbananya, dan apa saja yang sanggup-tidak sanggup, berhasil-tidak berhasil, dan tercapai ataupun sama sekali tidak. Semua perlu dirayakan, semua yang telah dilalui adalah bentuk perjuangan. Maka dari itu, lagu terakhir ini adalah dance song.
Mari menari, rayakan apa saja.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: dok. Yanuar Sastra

