Kumpulan puisi ini: Attitude Hilang dari Radar, Gegana, dan Mata-Mata Prasangka. Ditulis oleh Febriana, seorang ibu satu anak dan penulis narasi event musik arus pinggir di Solo Raya dan sekitarnya.
Attitude Hilang dari Radar
Aku datang bersama hujan
Deras menderu di satu petang
Kuparkir kendaraan roda duaku
berdampingan dengan sebuah motor buatan negeri Paman Sam..
Dari kota tempatku tinggal, hanya berjarak satu jam.
Memasuki area sebuah helatan sedikit terhenyak
Betapa tempat itu telah ramai khalayak
Pemuda-pemudi kiranya ratusan memadati
tempat yang kurasa tak lagi memadai.
Dalam gegap gempita aku merasa sepi
Tak satupun wajah jua jiwa kukenali
Siapa aku? Tak terbaca oleh siapapun di sana
Pemuda-pemudi entah dari mana
Begitu massal menikmati nuansa
Berbungkus trendi, laku dansa-dansi unjuk gigi berhasrat diakui
Aku masuk ke kamar kecil, memenuhi panggilan alam
Jelas kututup pintu sebab aku ingin berhajat
Sedetik berlalu, kudengar pintu digedor keras dari luar
Aku keluar setelah hajatku purna
Dua pemuda duduk di depan pintu
hanya melototkan mata padaku
hingga terpaksa aku melompati mereka,
tampak padaku mata-mata melotot namun tak ber-asa dalam tubuh-tubuh lesu
Seketika aku berpikir “tempat apa ini?” Begitu nir rasa
nir simpati, nir empati..
semua rasa lumrah manusia tak terdeteksi radar hidup
Dan aku menjelma menjadi tak terlihat, sekali lagi..
Saat aku telah tersudut berdiri di pojok ruang,
sepasang muda-mudi memaksa diri duduk di atas kakiku!!
Di atas kakiku!
Dalam hati aku memaki, “Tempat apa ini?!
Salahkukah di tempat yang salah?”
Oh, Deejay selamatkan aku!
Tapi tak jua ia dengar
Lalu, dan selalu..
kepada puisi aku berlari
Aku pulang beriring hujan deras menderu
Kembali ke kota peraduanku.
Surakarta, Oktober 2024
Gegana
Kumpulan air menguap di udara
Sinar mentari tertutup elegi
Pirau, abu-abu
Mendung membisikkan pesan
Antisipasi atas presipitasi
Merangsang reaksi-reaksi manusiawi
Terus meracau tak henti-henti
Rinai merinaikan suluk intuisi
Rapalan-rapalan melaju kepada sang bayu
I’ve put a spell on you
Janganlah resah wahai engkau..
Ya, itu mantraku padamu
Surakarta, Maret 2024
Mata-Mata Prasangka
Retak jiwa-jiwa manusia
Terekam pada mata berprasangka
Mata yang membelalak menjatuhkan salah
Kebencian pada pandangan pertama
Melucuti tampilan dari mata turun ke kaki
Kembali dari kaki
terus ke mata
Batin-batin deras menghakimi
Mata-mata penuh prasangka
Mencari-cari cela di antara celah-celah sempit nan terbelah
karena hembusan angin,
yang di dalamnya bersemayam kata-kata
Awas mengharap seorang terpeleset dalam diksi pilihannya
Terjerembab dalam sempitnya waktu berbincang
dan menjatuhkan aniaya kepada batin lain manusia
lalu terlihat sumringah di wajahnya
Mata-mata penuh praduga memutus bersalah
Menang atas hasutan hasrat ingin menjatuhkan ia
Orang sebangsanya, tak peduli ia sedarah dengannya
Memancung jiwa tak tahu apa-apa
atas jalan culas pilihannya,
menang di atas segalanya
Surakarta, Agustus 2024
Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Febriana
