Di awal film, terjadi sebuah kerusuhan di pinggiran kota Paris sambil diiringi musik reggae dari Bob Marley “Burnin and Lootin’. kemudian film beralih pasca kerusuhan, kamera menyoroti Said dan polisi yang berbaris menggunakan senjata dan tameng, berkeliaran dan saling berjaga, disusul oleh tagging dari tangan Said bertuliskan “BAISE LA POLICE” sebagai kalimat anti polisi.
Pada tahun 1995, sutradara Prancis Mathieu Kassovitz membuat film La Haine untuk menyoroti diskriminasi rasial yang dilakukan oleh kepolisian Prancis, terutama di wilayah Banlieue (pinggiran kota). Film ini muncul di tengah kontroversi, karena pada akhir 1980 hingga awal 1990-an, Prancis memang sedang dilanda demonstrasi besar-besaran. Tepatnya pada tahun 1993 pemuda kulit hitam berusia 17 tahun Makomé M’Bowole ditembak mati polisi saat berada dalam tahanan. peristiwa inilah yang menginspirasi pembuatan film La Haine yang menyoroti kebrutalan polisi.
Multikulturalisme yang Menentang Mitos Homogenitas di Prancis
Film ini berkisah tentang kehidupan tiga pemuda keturunan imigran di pinggiran kota Paris selama 24 jam, serta menyoroti diskriminasi, kebrutalan polisi, ketegangan sosial, dan frustasi yang mereka hadapi. Salah satunya adalah Vinz, seorang pemuda keturunan Yahudi, mungkin tidak terlalu terlihat tertekan karena warna kulitnya yang putih, namun ia merasakan kesulitan yang sama dengan kedua temannya.
Lalu kemudian ada Hubert, seorang pemuda kulit hitam, berusaha menjalani hidup dengan normal, menabung, dan berharap suatu saat bisa meninggalkan Banlieue. Sedangkan Said, pemuda keturunan Arab yang paling muda, ia masih mencari arah dan pendirian dalam hidupnya. Dapat dikatakan bahwa Vinz dan Hubert merupakan sebuah antitesis, karakter Vinz yang keras, emosional, dan mudah terpancing amarah terhadap aparat, sedangkan Hubert lebih reflektif, selalu berusaha menghindari masalah. Said berada di tengah-tengah, kadang mengikuti kemarahan Vinz, kadang meniru sikap hati-hati Hubert.
Sepanjang film, La Haine menggunakan visual hitam putih sesuai dengan pilihan sutradara. Sinematografi film juga tergambarkan dengan sangat detail, menunjukkan keadaan di sudut-sudut Banlieue saat itu. Kamera menyoroti taman bermain yang terlihat gersang dan tidak terurus, banyak gedung yang terbengkalai dan rusak akibat kerusuhan yang terjadi, juga terlihat bangunan-bangunan seperti rumah susun padat di kota tersebut. Singkatnya, wilayah Banlieue tidak terlihat seperti wilayah yang dapat mendukung fasilitas hidup yang baik untuk pencapaian di masa depan bagi masyarakat urban.
Tempat tinggal ketiga tokoh tersebut juga memperlihatkan ruangan yang sempit, seperti Vinz yang berbagi kamar dengan saudara perempuannya. Hubert dengan dapur dan ruang makan yang menyempit dan sulit untuk bergerak. Banlieue digambarkan hampir seperti penjara terbuka yang padat, tertutup, dan sulit ditinggalkan. Dialog antara Hubert dan ibunya tentang keinginannya untuk keluar dari Banlieue memperlihatkan kebuntuan itu. Ibu Hubert hanya bisa mengangguk pasrah, menyadari bahwa tanpa perubahan drastis, mimpi tersebut juga hampir mustahil terwujud.
Satu-satunya celah harapan yang pernah dimiliki Hubert adalah tempat gym miliknya, sebuah ruang yang ia bangun dengan kerja keras dan kebanggaan. Gym yang ia miliki bukan sekadar tempat olahraga, melainkan simbol usaha keluar dari lingkaran kekerasan dan kemiskinan. Namun, seperti banyak mimpi lain di Banlieue, gym tersebut hancur terbakar pada kerusuhan yang terjadi dalam semalam. Kassovitz seolah menegaskan bahwa upaya paling positif pun rentan dihancurkan oleh kondisi struktural yang lebih besar dari individu tersebut.
Di sini juga aku ingin mengulas sedikit tentang bahasa sehari-hari yang ia gunakan dalam dialog film ini yang sarat dengan bahasa gaul, percakapan sehari-hari yang seringkali tampak tidak bermakna. Di sinilah terlihat seperti letak kekuatan sebuah obrolan. Obrolan adik Said tentang Candid Camera, lelucon-lelucon yang terasa kosong, dan percakapan ringan lainnya bukan sebagai pengisi ruang semata, sama halnya dengan obrolan yang sering kita gunakan dalam tongkrongan sehari-hari. hal inilah yang menampakan kejeniusan kassovitz bahwa hidup tidak selalu bergerak menuju klimaks dramatis, seringkali ia berjalan lebih datar, repetitif, dan absurd. percakapan itulah yang menjadi sebuah cerminan langsung kehidupan pinggiran sebuah kota di Paris untuk sekadar bertahan.
Kematian Vinz dan Kebrutalan Aparat

Foto Vinz di atas terinspirasi oleh Travis Bickle dari Taxi Driver (1976) karya Martin Scorsese, di mana Vinz berlatih di depan cermin, berpose dengan tangan seolah memegang pistol sambil menirukan monolog terkenal Travis, “You talkin’ to me?“
Scene ikonik ini menunjukkan keinginan Vinz untuk menjadi pria tangguh dan siap melakukan kekerasan dalam menghadapi ketegangan sosial di lingkungannya. Representasi polisi dalam La Haine menjadi salah satu poros konflik utama film ini. Bias rasial polisi dapat membahayakan dan mengekang keturunan imigran di Prancis yang hanya berusaha untuk memiliki kehidupan normal.
Bukan hanya melalui tindakan kekerasan saja, tapi aparat polisi dan pemerintah juga membatasi ruang gerak mereka. Yang sudah kami bahas di awal, film ini terinspirasi oleh peristiwa nyata pada April 1993, ketika seorang remaja berusia 17 tahun ‘M Bowole’ ditembak persis di kepala secara brutal oleh polisi dan meninggal. Sama halnya seperti sosok Abdel di film ini yang mengalami kekerasan aparat saat terjadi kerusuhan kemarin malam (film ini adalah kisah 24 jam pasca kerusuhan). Abdel seorang remaja berusia 16 tahun yang menjadi korban kebrutalan polisi, hingga membuatnya dalam kondisi kritis antara hidup dan mati. Dampak dari peristiwa tersebut yang memicu kemarahan dan ketegangan diantara ketiga sahabatnya.
Peristiwa kebrutalan aparatlah yang mengajak kita untuk melihat beberapa adegan seperti di mimpi Vinz, saat ia membayangkan menembak seorang polisi, ia mengaburkan batas antara fantasi dan realitas. Suara tembakan membuat saya percaya, bahkan juga yang menonton, bahwa adegan itu seperti nyata, sebelum disadarkan kembali kalo adegan itu hanya hanya imajinasi Vinz. Adegan-adegan ini dapat dibaca sebagai bentuk pelarian psikologis.
Kebrutalan aparat juga terlihat jelas dalam berbagai adegan seperti yang terjadi di atap gedung, ketika Vinz dan teman-temannya mengadakan pesta barbekyu. Walikota dan polisi tiba-tiba mendatangi kegiatan tersebut sebagai kekuatan represif yang memasuki ruang personal dengan intimidatif seolah perkumpulan tersebut dapat menghancurkan batas-batas kehidupan dan merusak sistem yang ia bawa. Saudaranya Said mencoba berbicara dengan tenang, tetapi suaranya diabaikan tidak didengar. Adegan lain juga terjadi di rumah sakit, saat Vinz, Hubert, dan Said hendak menjenguk Abdel. Polisi kembali bertindak otoriter. Said, yang paling berusaha bernegosiasi dengan aparat agar bisa menjenguk abdel, justru malah ditangkap dan dilabeli sebagai pemimpin kerusuhan. Peristiwa diskriminasi yang sewenang-wenang namun sangat amat sarat makna politik.
Meski demikian, Kassovitz seperti memainkan satir sederhana terhadap aparat kepolisian sebagai monolit kejahatan. Ada satu sosok polisi yang tampak kelihatan berakal, tetapi itu sebagian kecil dari tumpukan sistem yang mereka bawa, dan sistem tersebut tidak benar benar sehat dan dapat dipercaya ‘seolah baik padahal itu bagian dari sistem kebrutalan yang ia bangun’.
Polisi tersebut terlihat baik untuk membebaskan Said dan bahkan menawarkan bantuan kepada Hubert untuk membangun kembali gym-nya. Namun kebaikan individual ini tenggelam dalam sistem yang sakit dan brutal, fenomena ini jelas terasa seperti satir yang Kassovitz bawakan. Vinz, yang sejak awal memelihara kebencian mendalam terhadap polisi, menolak tawaran empati tersebut dengan caci maki. Ironisnya, justru Vinz yang akhirnya tewas di tangan aparat, dalam sebuah insiden ceroboh yang menegaskan betapa nyawa di Banlieue begitu murah harganya. Jika peristiwa ini terjadi di pusat Paris, mungkin ia akan memicu skandal besar. Namun di Banlieue, ia terasa nyaris biasa-biasa saja.
Kebisingan sebagai Bahasa Perlawanan: Musik dan Suara Kolektif
Salah satu kekuatan paling ikonik La Haine hadir melalui musik. Kassovitz mengatakan bahwa ia ingin suara-suara kota menjadi semacam musik tersendiri. Adegan DJ Cut Killer di sebuah HLM (habitation à loyer modéré – yang di sini disebut rumah susun atau apartemen milik pemerintah daerah), mencampur Sound of da Police karya KRS-One dengan Non, je ne regrette rien milik Edith Piaf, menjelma manifesto sonik. Kamera melayang keluar jendela, menembus blok-blok beton, sementara musik menggema di seluruh ruang padat Banlieue. Ini seperti menguatkan artikulasi politik rap Amerika tentang kebrutalan polisi dipertautkan dengan suara klasik kelas pekerja Prancis.
Pada tahun 1993 KRS-One menulis Sound of da Police sebagai respons atas kebrutalan aparat di Amerika Serikat. Cut Killer memodifikasinya dengan frasa “assassin de la police”, menjadikan lagu itu tuduhan langsung. Edith Piaf, meski ikon nasional, adalah produk kemiskinan Belleville, sebuah latar yang sama dengan Banlieue. Dengan menyatukan keduanya, film ini menolak hierarki budaya dan menegaskan kesinambungan sejarah penindasan kelas pekerja.

Lapisan kebisingan Banlieue sirene, teriakan, kaca pecah berpadu dengan musik, membentuk lanskap suara yang intens. Fenomena inilah yang pernah mengkritisi atau melawan balik singgungan yang pernah keluar dari mulut mantan presiden Prancis Jacques Chirac yang mengatakan “le bruit et l’odeur” (“suara dan bau”) adalah sebuah komentar kontroversial yang dilontarkan pada tahun 1991 mengenai imigran dan kehidupan di perumahan sosial (HLM ) di Prancis, yang dianggap rasis oleh banyak pihak. Kassovitz justru mengangkatnya sebagai bahasa perlawanan. Rekrutmen kolektif rap Assassin untuk mengawasi musik latar film membuka jalan bagi hip-hop Prancis tampil di panggung global. MC Solaar, NTM, Raggasonic, dan Assassin sendiri mengartikulasikan identitas black-blanc-beur yang artinya ‘Hitam, Putih, Arab’, sebuah slogan multikulturalisme yang populer, untuk menantang mitos homogenitas di Prancis.
Adegan pembuka film, yang diiringi Burnin’ and Lootin’ karya Bob Marley, menegaskan peran reggae sebagai medium kritik sosial. Sirene menembus irama santai, molotov beterbangan, sementara Bob Marley menyanyikan wajah-wajah di balik “seragam kebrutalan”. Pilihan Kassovitz untuk memasukkan lagu ini bukan sekadar estetika, melainkan bentuk jenius naratifnya. Reggae menjadi arsip hidup perlawanan yang menyuarakan ketidakadilan, kemarahan, dan solidaritas komunitas di Banlieue. Musik di La Haine bukan berjalan seperti latar belaka, melainkan medium politik yang menegaskan bahwa kemarahan dan perlawanan sosial adalah pengalaman kolektif, sebuah seruan yang masih tetap relevan hingga puluhan tahun kemudian.
Kepadatan Ruang, Kerja Kolektif, dan Budaya Jalanan sebagai Perlawanan
Bagaimana perlawanan kolektif bisa terbentuk begitu kuat di ruang yang secara material begitu menekan? Bagaimana kota yang sesak, miskin, dan penuh kekerasan justru melahirkan solidaritas, bukan hanya keputusasaan? La Haine tidak menjawab pertanyaan ini secara retoris, melainkan memperlihatkannya melalui gestur-gestur kecil, relasi antar tubuh, dan praktik budaya sehari-hari yang perlahan membentuk kesadaran bersama. Dari Banlieue yang digambarkan sebagai ruang terkurung, muncul jejaring perlawanan yang tidak selalu terorganisir secara formal, tetapi hidup melalui kebersamaan, keberulangan, dan praktik kolektif.
Kepadatan ruang di Banlieue, seperti blok-blok beton yang saling berhimpitan, halaman sempit, atap-atap yang menjadi ruang komunal dadakan, memaksa kehidupan dijalani secara kolektif. Tidak ada jarak aman antara satu tubuh dengan tubuh lain. Dalam kondisi seperti ini, pengalaman penindasan jarang terasa individual, ia segera berubah menjadi pengalaman bersama. Vinz, Hubert, dan Saïd bergerak hampir selalu sebagai satu kesatuan, bukan karena ikatan ideologis yang matang, melainkan karena realitas sosial menuntut kebersamaan sebagai mekanisme bertahan. Banlieue, dengan segala keterbatasannya, memproduksi solidaritas bukan sebagai pilihan moral, tetapi sebagai kebutuhan eksistensial.

Budaya jalanan menjadi medium utama artikulasi solidaritas ini. Grafiti yang menutupi dinding-dinding perumahan bukan sekadar vandalisme visual, melainkan penanda keberadaan eksistensial bahwa kami ada di sini. Ia bekerja sebagai arsip kemarahan sekaligus klaim ruang, sebuah perlawanan simbolik terhadap kota yang secara sistematis menyingkirkan penghuninya. Kamera Kassovitz kerap berhenti pada grafiti, poster usang, dan tembok-tembok kotor, seolah menegaskan bahwa bahasa politik Banlieue tidak ditulis di koran atau parlemen, melainkan di beton usang dan aspal kotor.
Kerja kolektif ini juga terlihat bagaimana cara film ini menolak narasi pahlawan yang tunggal dalam setiap karakternya. Tidak ada satu tokoh pun yang benar-benar menjadi pusat moral atau solusi. Hubert mungkin lebih reflektif, Said lebih cair, Vinz lebih meledak-ledak, tetapi ketiganya saling melengkapi dalam satu ekosistem perlawanan. Bahkan kegagalan mereka, seperti kerusuhan, kekerasan, dan kematian Vinz, ditampilkan sebagai kegagalan struktural, bukan semata kegagalan individu. La Haine menegaskan bahwa perlawanan di Banlieue bukanlah suatu hal heroik, melainkan proses kolektif yang penuh kontradiksi, risiko, dan luka bersama.
Hal inilah yang menjalin letak geografi yang padat menjadi ruang kolektif yang bising. La Haine menunjukkan bagaimana budaya pop dan budaya jalanan seperti musik, grafiti, gaya berpakaian, bahasa keseharian bergeser dari sekadar ekspresi identitas menjadi alat perlawanan. Musik juga ikut bekerja sebagai medium kritik sosial yang menghubungkan pengalaman individual dengan solidaritas komunitas di Banlieue. Dari kota yang padat dan terpinggirkan, lahir sebuah jalinan solidaritas yang kuat, berisik, dan penuh pembrontakan yang menjadi perlawanan kolektif dalam film ini. La Haine dan Banlieue adalah sebuah respons kolektif dengan penuh energi mentah untuk memalingkan kehidupan terhadap dunia yang terus-menerus meminggirkannya.
Di tengah maraknya diskriminasi dan teror pada kita yang melawan, semoga film ini bisa menjadi cerminan kritis untuk kita lebih berkolektif dan melawan lebih keras lagi pada ketidakadilan. La haine attire la haine!
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Les Productions Lazennec
