Simak Siar volume 27 hadir bertepatan dengan bulan Ramadan. Banyak yang mengira gelaran ini akan berlangsung seperti biasa tapi mungkin lebih kecil, mungkin lebih intim, atau bahkan beberapa orang mengira tidak akan ada Simak Siar kali ini. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Simak Siar menghadirkan sebuah eksperimen yang tak terduga.
Bagi yang mengikuti skena gigs di Jogja, Simak Siar bukan nama baru. Ia rutin digelar tiap bulan, biasanya Kamis di akhir bulan. Simak Siar kini menjadi salah satu gigs yang ditunggu gelarannya. Selalu ada rasa penasaran di setiap edisinya, karena mereka hampir tak pernah mengulang pengalaman yang sama. Edisi kali ini berlangsung pada 26 Februari, tepat delapan hari setelah puasa dimulai, dan mengambil ruang di Lestari Corner Coffee, Sleman.
Nama acara sementara berubah menjadi Simak Sahur. Perubahan nama ini bukan sekadar permainan kata atau gimmick semata, tetapi penyesuaian waktu yang matang. Gigs dimulai pukul 21.30, memberi ruang bagi yang ingin menunaikan tarawih terlebih dahulu dan berakhir menjelang sahur. Jam yang sebenarnya terdengar agak aneh karena jarang ada gigs yang selesai hampir pukul tiga pagi. Tapi karena sedang puasa dan namanya pun Simak Sahur, semuanya mendadak terasa wajar.
Bukan hanya itu, hal menarik lainnya tentu saja adalah konsep silent gigs yang merka usung.
Alih-alih menggunakan pengeras suara terbuka, setiap penonton dibekali headphone. Musik dari panggung langsung terhubung ke telinga masing-masing. Dari luar, ruangan tampak tenang. Orang-orang berdiri, mengangguk, sesekali berdansa kecil tanpa suara yang terdengar jelas. Namun di dalam kepala setiap orang yang menggunakan headphone, konser berlangsung penuh.
Venue malam itu berada di Lestari Corner Coffee, ruang yang tak terlalu besar tapi cukup untuk membuat jarak antarorang terasa akrab. Buat yang cuma lewat atau ngopi biasa, ini mungkin terlihat seperti nongkrong biasa. Padahal di dalam headphone, tiap orang sedang tenggelam di konser versinya sendiri.
Sejak awal, terasa bahwa ini bukan hanya soal pertunjukan musik. Simak Siar juga konsisten membuka ruang kontribusi melalui zine yang mereka rilis setiap edisi. Zine tersebut berisi tulisan-tulisan dari penonton atau siapa saja yang ingin menulis, membaca, atau sekadar membagikan pembacaan mereka terhadap musisi yang tampil. Sebuah bentuk partisipasi yang membuat penonton tidak hanya hadir, tetapi juga ikut membangun arsip kecil skena.

Lalu Simak Siar dibuka oleh Ruzan & Vita, duo suami-istri yang membawa blues dengan nuansa hangat dan bersahaja. Musik mereka tidak tergesa-gesa. Petikan gitar terasa bersih, ritmenya santai, dan vokalnya masuk dengan karakter yang lembut namun tegas. Lewat headphone, detail kecil seperti gesekan senar dan napas sebelum lirik terdengar menjadi lebih intim. Beberapa penonton mulai berdansa pelan, mengayunkan bahu dan kaki tanpa perlu saling bersentuhan. Ada rasa akrab yang tumbuh, seolah musik itu dimainkan khusus untuk masing-masing kepala.
Di tengah penampilan mereka, rasa penasaranku muncul, bagaimana rasanya jika headphone dilepas?
Begitu perangkat itu dilepas, suasana berubah drastis. Yang terdengar hanyalah bunyi alat musik yang mentah dan tipis, mirip seperti latihan band yang alat-alatnya tidak disambungkan ke pengeras suara. Vokal terdengar jauh, drum seperti dipukul setengah tenaga, gitar terlihat hanya seperti senar yang dimainkan tanpa bunyi. Di sisi lain, penonton tetap bergerak, tetap mengangguk, tetap bernyanyi lirih. Dari luar, pemandangan itu memang terasa absurd, orang-orang berdansa tanpa musik yang jelas terdengar. Seolah-olah ada perayaan yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memilih terhubung.
Namun saat headphone dipasang kembali, dunia seperti diaktifkan ulang. Denting gitar kembali utuh, bass terasa penuh, vokal hadir tepat di telinga. Momen itu yang membuat silent gigs terasa berbeda. Dari luar terlihat biasa saja cenderung absurd, tapi begitu terhubung, dunia seolah terasa berbeda.
Di titik itulah konsep ini terasa lebih dari sekadar solusi teknis. Silent gigs menuntut sesuatu yang sederhana namun jarang dilatih yaitu menjadi cukup untuk mendengar. Tidak terdistraksi, tidak saling menenggelamkan suara, tidak berlomba paling keras. Hanya menyimak.
Setelah atmosfer hangat dari Ruzan & Vita, The Bunbury naik panggung dengan lanskap suara yang berbeda. Bagi yang belum mengenal mereka, musik The Bunbury meramu shoegaze, indie rock, dan semacam post-punk dalam satu kabut suara yang dreamy dan penuh nostalgia. Musik mereka terasa mengambang, gitar berlapis, vokal sedikit jauh, ritme yang tidak terburu-buru. Semakin lama mendengarkan lagu-lagu mereka semakin terasa seperti sedang membungkus seluruh kepala. Melalui headphone, lapisan gitar yang biasanya bercampur dalam ruang besar terasa lebih terpisah dan detail. Distorsi tidak lagi menjadi kebisingan, melainkan tekstur.

Ketika Noire tampil, intensitas meningkat. Scream yang biasanya terasa liar justru terdengar sangat dekat melalui headphone, nyaris seperti suara yang sengaja diarahkan langsung ke kepala. Pada lagu Forbid U Die!, beberapa penonton memejamkan mata, membiarkan narasi dan teriakan membangun ketegangan yang terasa personal.
Saat headphone dilepas, yang tersisa hanya suara alat musik yang mentah dan gema ruang yang memantul tipis. Namun di tengah semua itu, scream dari Noire tetap menembus. Ia tidak lagi terdengar utuh seperti di dalam headphone, tapi justru lebih kasar, lebih telanjang dan anehnya, tetap sampai. Sejenak saya mengamati vokalis Noire untuk sekadar mendengarkan teriakannya memantul di tempat ini.
Begitu headphone dipasang kembali, sensasinya berbeda lagi. Teriakan itu tidak hanya terdengar, tapi seperti menyeret masuk. Lapisan gitar, dentuman ritme, dan suara yang tadi terasa jauh mendadak menyatu dan membangun dunia yang lebih kompleks. Noire bukan sekadar membawakan lagu, mereka juga menyeret paksa pendengarnya untuk masuk ke dalam dunia yang mereka ceritakan.
Lalu hujan turun saat Paulus Neo memainkan piano. Mic yang tak terpakai namun dibiarkan nyala tak sengaja menangkap suara rintik yang justru menambah lapisan atmosfer di dalam headphone. Suara piano dan hujan berpadu tanpa saling mengganggu, momen yang terasa hampir sinematik.

Menjelang dini hari, panitia membagikan nasi dan es teh untuk sahur. Nammara menutup malam dengan britpop mereka, sementara sebagian penonton menyantap makanan sambil mendengarkan Nammara memainkan lagu mereka.
Gigs dan sahur berlangsung berdampingan tanpa terasa janggal. Di situlah mungkin letak keberhasilan Simak Siar Vol. 27. Silent gigs bukan sekadar cara agar suara tidak mengganggu sekitar di bulan Ramadan.
Silent gigs menjadi pernyataan bahwa menikmati musik tidak selalu harus keras. Dalam senyap yang terkontrol, justru muncul riuh yang lebih personal.
Karena konsep seperti ini masih jarang ditemui dalam skena lokal, pengalaman itu terasa lebih membekas. Ada kesadaran bahwa yang sedang terjadi bukan hanya pertunjukan, melainkan cara kecil agar skena ini tetap hidup dengan caranya sendiri.
Malam itu, ketika acara selesai dan hujan tinggal gerimis, aku tetap memilih pulang dengan kepala yang belum benar-benar tenang. Aspal basah seperti menyimpan gema, dan anehnya, yang paling ribut justru pikiranku sendiri. Musiknya sudah berhenti, tapi lapis-lapis bunyinya masih berputar di kepala.
Aku baru sadar, mungkin selama ini aku terlalu sering mengira konser harus selalu dirayakan dengan suara yang lantang. Harus ikut menyanyi sampai tenggorokan serak, harus sing along di setiap reff, harus melompat, harus berteriak seolah-olah diam adalah tanda tidak menikmati. Seolah-olah sesuatu baru sah disebut nikmat kalau ia memekakkan.
Tapi malam itu tidak ada kewajiban semacam itu. Tidak ada yang memaksa untuk lebih keras dari suara gitar, tidak ada yang merasa perlu membuktikan diri sebagai penikmat paling total. Cukup duduk dan sesekali mengangguk, membiarkan lirik lewat tanpa harus kuteriakkan ulang. Anehnya, justru di situ rasanya lebih masuk, lebih menetap, seperti menemukan jalannya sendiri ke dalam kepala.

Namun justru di situ letak kegelisahannya. Karena aku seperti dihadapkan pada kenyataan kecil bahwa tidak semua pengalaman perlu dirayakan dengan keras-kerasan suara. Tidak semua momen harus diabadikan buru-buru, tidak semua lagu harus dilawan dengan teriakan. Kadang kita cukup menjadi pendengar yang baik, yang tidak sibuk merekam, tidak tergesa membagikan, tidak merasa harus lebih tahu dari yang tampil di depan. Cukup diam, cukup menyerap, cukup membiarkan bunyi bekerja pelan-pelan.
Barangkali aku baru sadar, menikmati tidak selalu berarti menandingi. Kadang cukup memberi ruang. Kadang cukup jadi pendengar yang baik, tanpa perlu memastikan dunia tahu bahwa kita sedang menikmati.
Aku pulang dengan hati yang hangat. Rasanya seperti baru saja mengikuti sesuatu yang berbeda. Sebuah perayaan yang mengajarkan bahwa dalam dunia yang terlalu sering ingin didengar, memilih untuk menyimak dan mendengarkan bisa menjadi sikap yang paling radikal.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Biwara Nala Seta
