Daya Bara : Pameran Seni yang Sengaja Dipenjara

Daya Bara : Pameran Seni yang Sengaja Dipenjara / Dok. Awi Nasution

Pameran Daya Bara ini berbeda dengan pameran Aris Manyul sebelumnya. Pameran ini lebih khusus, karena secara tema jelas membahas soal lingkungan hidup, perubahan cuaca, kerusakan alam, dan unsur sosial politik juga ada di dalam ruang pameran yang sengaja dipenjara ini.

“Daya Bara” diartikan sebagai kekuatan atau semangat yang membara. Pameran ini menampilkan 52 karya seni, terdiri dari drawing dan patung, dan semuanya adalah karya baru yang dibuat Aris Prabawa selama kurun waktu di tahun 2021 sampai 2022.

Pemeran yang menggagas persoalan perubahan iklim ini berlangsung dari tanggal 16 sampai 30 September, di Pendapa Ajiyasa, Jogja National Museum.

Beberapa karya didalam pemeran Daya Bara ini merupakan karya yang selamat dari peristiwa banjir bandang di tempat tinggal Aris Prabawa atau sering disapa Manyul di Lismore, New South Wales, Australia pada tanggal 28 Februari 2022.

Menariknya di Australia setiap tahun pasti ada banjir, tapi tidak sebesar seperti banjir bandang. Posisi Aris saat itu sedang di Indonesia untuk mengerjakan patung untuk pameran Daya Bara. Tidak sedikit karya yang hanyut, melainkan ratusan karya disapu oleh banjir. “Bagi saya, pameran ini memberi semangat baru bagi saya dan masyarakat dalam menghadapi bencana alam, seperti banjir akibat dari perubahan iklim”, ujar Aris Prabawa.

Berbeda dengan pameran “Hadap Hidup” yang dipamerkan pada tahun 2019 di tempat yang sama, Aris mengatakan kalau pameran “Hadap Hidup” adalah Pameran Seni Retrospektif. Artinya pemeran tersebut merupakan pameran perjalanan dirinya dalam berkarya selama sembilan belas tahun.

Sedangkan untuk Pameran Daya Bara, persiapan pameran ini kira-kira membutuhkan waktu dua tahun. “Jadi ketika saya sepakat dengan heri pemad untuk membuat pameran ini saya siapkan dua tahun untuk menggarap semua”, kata Aris Prabawa.

 

Perjalanan Berkarya Aris Prabawa

Pengalaman hidup di Indonesia dan Australia membuat Manyul gelisah dan sedih, melihat begitu banyak alam yang dirusak untuk kepentingan bisnis oleh para penguasa. Seperti penggusuran tanah adat untuk eksplorasi tambang. Tidak sedikit masyarakat adat yang dikalahkan oleh korporasi negara dengan menggunakan kekerasan disertai intimidasi.

Sebelum semua hal seperti masuk ke dunia perkuliahan di Institut Seni Indonesia, lalu mengenal banyak teman maupun para seniman, membuat gerakan seni progresif bersama Taring Padi, dan bermusik bersama Black Boots, Manyul sudah lebih dulu mendapatkan ideologinya sejak kecil saat tinggal di Solo.

Melalui banyak peristiwa yang dilihat, dirasakan, dan berbagai cerita yang pernah didapatnya dari saudara dan keluarga, Manyul sadar mengenai kejam dan sewenang-wenangnya sejarah orde baru. Banyak cerita sedih yang Manyul dengar dan dapatkan, sehingga ia pun belajar untuk bagaimana berbicara secara demokrasi dengan menggunakan gaya visual atau karya seninya.

Sejak masih muda, Aris Manyul sudah melatih skill berkeseniannya. Melalui karya-karyanya ia memiliki tujuan untuk berkontribusi secara sosial. Manyul ingin tampil rabel dan membrontak atas kondisi yang sekarang ini masih belum baik-baik saja.

Tepatnya pada tahun 1998 setelah reformasi, banyak teman-teman Aris Manyul memiliki perasaan gelisah. Para seniman, perupa, musisi, aktivis, dan para sastrawan gelisah akan situasi masa itu dan memilih tidak diam menerima simbolis demokrasi tersebut. Mereka membuat komunitas gerakan kebudayan bernama Taring Padi.

Bersama Taring Padi, Aris Manyul tumbuh dan belajar mengenai teori, sejarah, ideologi, filosofi, dan bergerak untuk membuat karya dari apa yang ia yakini dan apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Karya-karya mereka dengan berani menyatakan ketergantungan pada isu-isu sosial politik, yang secara erat menghubungkan politik dengan praktik artistik. Mereka juga bersumpah menggunakan seni sebagai media untuk membela rakyat kecil dan penindasan pemerintah otoriter.

Tidak heran jika karya Manyul ini banyak menggoreskan kejanggalan-kejanggalan yang sebenarnya masih banyak terjadi disekitar kita, dan tentu membukakan mata bahwa jangan diam saja untuk menerima apa yang sudah dirusak serta dirampas apa yang menjadi hak setiap manusia yang hidup di negara yang katanya demokratis.

Proses Aris Prabawa membuat karya untuk pameran Daya Bara / Dok. Awi Nasution

Karya Manyul selalu konsisten membahas soal kritik sosial, politik, dan isu lingkungan. Mencoba mengungkapkan gambaran entitas tentang keberadaan manusia sebagai populasi paling penting dalam unsur menjaga dan merawat ekosistem alam yang sudah ada.

Menurut Heri Pemad, Aris Manyul ini seperti kelabang yang menjalar keseluruh tubuh dan membenturkan semua yang terjadi dihadapannya. Mayul juga seperti banaspati yang terbang dan memercikkan apapun kepada semua orang yang ditemuinya.

Apa yang telah Aris Manyul lakukan adalah untuk menyuarakan keadilan dan kesetaraan, bahwa ia ingin menggugah kepada siapa saja untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang sekarang ini tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Ucap Heri Pemad saat pembukaan pameran Daya Bara.

 

Aris Prabawa adalah seorang seniman sekaligus vokalis band punk rock, Black Boots.

Aris selalu tampil young juga rabel. Ia sekarang ini juga merupakan sosok Bapak yang masih cinta dengan musik, dan kerap membuat instrument.

Dalam bermusik, manyul bersikeras untuk memiliki visi menyuarakan kemerdekaan dan ide-idenya bersama Black Boots. Sengaja memilih genre punk rock dan memilih lirik yang kritis, ia dan teman-teman Black Boots ingin menyampaikan pesan dengan teriakan dan kemarahan atas apa yang sudah terjadi di masa orde baru.

Dalam berkarya bersama Black Boots, Manyul selalu serius dan tidak ingin membuat materi bermusiknya hanya untuk bersenang-senang semata. Namun ingin membukakan jendela kehidupan untuk kemajuan anak cucu dan negerinya dimasa depan.

Studio Visit Aris Prabawa / Dok. Awi Nasution

 

Daya Bara adalah Pameran Seni yang Sengaja Dipenjara

Desain pameran dengan mengkonsepsikan penjara adalah untuk mengungkapkan gambaran kompleks tentang suara-suara minoritas Manyul itu sendiri. Ia dengan lantang menyuarakan gagasannya bahwa ekosistem sekarang ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Terlebih untuk para penguasa yang tidak ada habisnya mengeksploitasi kekayaan alam secara besar untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tanpa memperhitungkan dampak yang akan terjadi pada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Bersama jurnalis, Bambang Muryanto, dan organizer pameran, Heri Pemad, Pameran ini semakin memberikan pandangan yang serius tentang persoalan krisis iklim.

Melalui pandangan dan hasil observasinya, Bambang memberikan perspektif yang lebih luas akan pentingnya kesadaran orang untuk merubah gaya hidupnya mencintai lingkungan.

Pameran ini sangat penting dala kondisi sekarang, apalagi soal krisis iklim. Kita mesti sadar untuk merubah ke gaya hidup hijau. Sebab janji-janji yang Pemerintah buat dan dampak oligarki yang berselingkuh sudah membuat rusak lingkungan yang sudah ada. disamping itu, masih banyak krisis iklim yang semakin serius adalah memperkosa alam untuk kepentingannya sendiri.

Apa yang dikatakan Bambang adalah menuntut adanya perbaikan dari apa yang sudah dilakukan oleh para penguasa dan pemerintah yang sudah semena-mena merusak, mengeksploitasi, merampas apa yang sudah menjadi hak alam dan orang-orang kecil. Menurutnya “hidup dalam bumi yang aman dan sehat adalah hak bersama, karena kita tidak memiliki bumi lain untuk ditinggali”, tutup Bambang Muryanto.

Sedangkan untuk proses elaboari pameran bersama Heri Pemad adalah karena secara model dan gagasannya sudah dipahami. Ketika membuat pameran seni, manyul manut, dan yakin soal pamerannya tidak akan keluar dari apa yang dibayangkan.

Semua gagasan berangkat dari Aris Manyul. Heri Pemad melihat dari karya-karyanya dan membicarakan soal karya untuk di display, dan mengemas pameran untuk dibuat. Manyul sendiri sudah tahu dengan apa yang dia mau, dan persiapan pameran Daya Bara ini bukan yang persiapan yang bikin ribut melainkan proses yang biasa saja.

Ketemu, ngobrol, dan rapat cuma sekali, itupun belum lengkap dan kita langsung jalan. Sampai dimana sama-sama menemukan konsep penjara. Sebenarnya suara-suara dari karya Manyul ini kan lebih kritis, yang identik dengan karya yang riskan untuk ditentang oleh mereka sebagai yang di kritik.

Ketika seniman dibebaskan untuk berbicara dia itu semakin luas bahasanya. Makanya penjara ini lebih pada membahasakan berkeseniannya. Menurutku Aris Manyul ini lebih lantang berbicara dari keterbatasan. Dari proses keterbatasan itulah aris akan dikenali, di dengar, dan dilihat. Kata Heri Pemad.

Bencana alam yang serius sering terjadi di berbagai belahan dunia dan dampak dari kerusakkan lingkungan yang dibuat oleh manusia yang tidak bertanggungjawab ini dilihatnya sebagai alasan personal dan faktor pendorong manusia yang membentuk sistem sosial maupun berbagai lembaga, serta konflik yang masih mempengaruhi kita sampai hari ini. Sebab “seni adalah medium untuk membangkitkan kesadaran publik tentang kondisi lingkungannya;” tutup Aris Prabawa.

 

Editor : Tim Editor Sudutkantin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts