Zine Dicetak Bersama Surat Lamaran: Kumpulan Puisi Anik Hailaqhari

Kumpulan puisi ini: Zine Dicetak Bersama Surat Lamaran, Kuburan Masuk Google Maps, QRIS di Timbangan Karat, dan Gelar Adat yang Tak Muat di Kolom Pekerjaan. Ditulis oleh Anik Hailaqhari, seorang penyair asal Kerinci, Jambi yang memilih menulis puisi sembari mempelajari sains dan matematika.


Zine Dicetak Bersama
Surat Lamaran

nomor 17 berkedip
mesin menarik lembar terlalu cepat

di sisi pertama:
kota bukan milik pagar seng
upah jangan dipelankan
orang lapar bukan data

di sisi lain:
saya mampu bekerja dalam tekanan
bersedia lembur
tidak keberatan dipindahkan

operator mengembalikan kertas
sambil menunjuk toner di pipiku

aku tertawa
lalu membagi dua tumpukan
: zine ke tas kain
lamaran ke map cokelat

satu lembar tetap salah tempat

siang itu HRD membaca manifestoku
hingga baris terakhir
lalu mencapnya
: berkas tidak lengkap

malamnya lima zine laku
cukup untuk ongkos wawancara
kurang untuk balik //

(Jambi, 2026)

Kuburan Masuk Google Maps

07.42 / titik biru kami bergerak
melewati kebun karet / warung tutup
dan jalan yang dulu dihafal kaki nenek

aplikasi menyuruh belok kanan
paman bersikeras kiri
ibu membuka kaca / mencium tanah basah
seolah hidung lebih tua dari satelit

di pemakaman
pin merah berdiri tepat
di atas batu tanpa huruf

kami membaca lumut
seperti captcha keluarga:
pilih semua kotak
yang berisi leluhur

tak ada yang lolos

sepupu memberi bintang lima
untuk akses mudah dan suasana tenang

malamnya
Google menyimpan kunjungan itu
sebagai tempat yang pernah didatangi

bukan
tempat
kami berasal //

(Jambi,  2026)

QRIS di Timbangan Karat

pagi-pagi nenek menimbang kangkong
timbangan karat itu miring sedikit
ia ganjal dengan kardus rokok

di bibir bakul / kode QR menempel
sudutnya terkelupas kena embun
cucunya bilang uang bisa masuk sendiri

nenek tak paham bagian itu
ia cuma hafal bunyi ting
lalu meraba saku celemek
seperti mencari receh yang
seorang pemuda memotret tangannya
tiga kali / dari sisi berbeda
tak jadi membeli sawi

menjelang zuhur pasar sepi
ponsel pemuda penuh foto
bakul nenek masih penuh
dan saldo itu
katanya masuk //

(Jambi,  2026)

Gelar Adat yang Tak
Muat di Kolom Pekerjaan

semalam penghulu menyampirkan kain adat di bahuku
ibu membetulkan peciku sampai miringnya dianggap sopan
namaku dipanggil panjang / ayam belakang rumah menyahut
PALING KERAS
lalu dikejar bocah-bocah
pagi ini aku membuka formulir lamaran di ponsel retak milik abang sepupu
kolom pekerjaan menyediakan empat nasib / semuanya terasa kekecilan
pelajar / pegawai / wiraswasta / penganggur / gelarku tak masuk
aku mengusap layar sambil meniup semut yang berenang
di kopi / kursor berkedip / seperti ingin ikut rapat kaum
kupilih penganggur agar tombol lanjut hidup
ponsel bergetar / data berhasil disimpan
kain adat masih tidur di kursi tua
ibu bertanya / “sudah dapat?”
“penganggur”
“kerja?”
diam //

(Jambi, 2026)


Penyelaras aksara: Hifzha Aulia Azka
Foto sampul: Akwila Chris Santya Elisandri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

'The Ego and His Loss': (drama) Hubungan Antar Negara-Negara

Related Posts