Sambat Bapak

Sore itu bersama Bapak, Bapak tampak lebih muda dari biasanya, Ia terkekeh dan melempar pandang ke langit-langit sore itu. Namun masih saja, aku melamunkan ini-itu dan mantra-mantra profanatik tak berpijak pada tanah, angan-angan tinggi akan keindahan-keindahan semu di dunia ini. Pada akhirnya menyerah dan mengeluh pada sebuah frasa “tidak adil”. Inilah lamunan yang terbuyarkan pesannya … Read moreSambat Bapak

Sambat Omah

Memang, di sore itu, menjelang hari raya paskah, seingatku. Aku terakhir kali bersua dengan seluruh mata, raut muka, celoteh, dan cerita dengan keluarga. Semenjak itu, aku berubah cepat, menjadi orang asing. egois memang, mengejar idealisme menjadi seseorang. Seseorang yang seperti apa entah sampai sekarang hal itu menjadi pisau bermata dua yang memotong urat nadiku sendiri … Read moreSambat Omah