Sambat Omah

Foto: Aloysius Gonzaga

Memang, di sore itu, menjelang hari raya paskah, seingatku. Aku terakhir kali bersua dengan seluruh mata, raut muka, celoteh, dan cerita dengan keluarga.

Semenjak itu, aku berubah cepat, menjadi orang asing. egois memang, mengejar idealisme menjadi seseorang. Seseorang yang seperti apa entah sampai sekarang hal itu menjadi pisau bermata dua yang memotong urat nadiku sendiri sebagai seseorang manusia.

Semenjak saat itu, aku lupa caranya bersyukur, lupa untuk menerima keadaan, lupa untuk menjadi apa adanya, dan yang pasti aku lupa caranya untuk menjadi manusia yang sungguh manusia. Bahkan, lupa rasanya sambal buatan ibu, atau logat cara ayah berbicara. Satu yang kuingat ialah sebuah pertanyaan tak terjawab, “Aku ini siapa?”.

Tubuh yang terkoyak-koyak keadaan, harapan sederhana yang dipatahkan prasangka orang lain, keinginan baik yang dihantam-ratakan oleh sudut pandang berat sebelah, hati yang tak henti-hentinya elastis untuk tetap menerima keadaan, waktu yang teramat banyak terkuras demi pengabdian, bersembunyi di balik keinginan menghargai orang lain, alih-alih memasuki sepatu oranglain namun malahan dipaksakan tidak bisa keluar memakai sepatu sendiri, pikiran yang kalang-kabut merambah gusar bahwa menanggung semua ini ialah berawal dari diri yang teramat pilu menuturkan realita yang sesungguhnya.

Bahwa latar belakang mengambil luluh lantak semua yang ada di depan mata, semua yang ingin dimuntahkan, terpaksa ditelan sendiri lagi. Bahwasanya, jatuh dalam sangkakala prasangka yang nyatanya bergaung lebih mistis, merasuk alam bawah sadar, terpola dan tergaris dalam cara mata memandang yang terlihat saja, bahwa sesungguhnya yang ada di belakang tembok putih bersih itu ada sesosok jenazah yang terburai semenjak lama.

Kapan terakhir pulang? Hati yg dihantui masa lalu dan waktu yg terburu teramat pilu menerima semuanya saat ini juga tanpa diminta. Ayah dan ibu pasti merasa bersalah, sebab mereka harus menggadaikan salah satu bahkan semua anaknya untuk sesuatu yang disebut sebuah kehidupan.

Memang, hidup itu mahal harganya. Keinginan untuk pulang selalu ada dan menjadi bayangan di bawah matahari malamnya. Paradoksal kehidupan yg harus ditebus demi sebuah definisi sederhana; rumah.

Menjadi seorang manusia, aku sudah lupa caranya. Semua sama saja, bangun pagi pun tak lagi serasa di rumah. Apa saja tersedia, bukan, alasannya hanya satu yaitu aku aman. Ayah memanaskan mesin penyambung hidup dan ibu menumis nafas segar keseharian. Anak-anak menuliskan semburat warna-warna bahagianya mereka. Hanya saja, aku sudah lupa merasakan semua itu.

Senyum ialah wajah palsu kukira. Tidak ada yang sanggup mengobati lagi, hanya terus menuang cuka, mengusap garam, menampar keras, pada luka yang sama. Aku ingin pulang.

Dimana bentangan tangan mampu merengkuh segalanya, dimana kopi manis ibu membuatku merasakan manisnya kasih sayang, dan segaris kumis bapak membuatku menyadari bahwa bahagia itu sederhana. Dan lagi-lagi, aku terus berpura-pura menjadi manusia. Menolak jauh semua itu.

Demi apa? Suatu alasan yang aku bahkan terbawa arus sampai saat ini. Demi apa kamu masih di titik yang sama? Setan yang terus menerus menjegal langkah kakiku. Ayah, Ibu, aku tersesat. Ini dimana? Kapan aku bisa pulang?

Atas segala harapan, berlari terus dan terus dan terus. Lupa bahwa tubuh yang berpatah hati perlu diobati, lupa bahwa nafas semakin pendek, lupa bahwa waktu tidak akan bisa diulang dalam sebuah kebersamaan. Sementara ini, diri masih menipu diri sendiri dengan alibi dan fiksi, mengubah jalannya takdir.

Hidup yang terpikirkan, haruslah agar tak melukai orang lain, lebih memikirkan orang lain, dan lebih memasuki sepatu orang lain, akan tetapi lupa dan selalu lupa menjadi manusia. Melakukan semua untuk orang lain tapi dan itu semua tidak kembali. Bukan pamrih tetapi memposisikan diri sebagaimana memperlakukan diri sendiri. Yang ku dapat? Ialah prasangka. Dan aku mati dirajam awal segala abad prasangka itu.

Apakah ada langit cerah esok hari? Atau sekadar waktu untuk pulang? Hanya saja aku terus berlari dari diriku sendiri, sebab aku telah menjadi buronan pembunuh diriku sendiri dalam menjadi seorang manusia.

Ayah, Ibu, aku ingin pulang. Tanpa harus menebus dosa-dosa yang aku tidak tau kenapa aku harus menanggungnya. Aku ingin menjadi manusia, dan bahagia bersama orang yang aku cintai. Dengan segala realita ini, aku lelah bermain petak umpat dengan takdir, aku bosan menunggu lebih lama lagi, aku tidak bisa bernafas lebih panjang lagi.

Aku hanya ingin bahagia, pulang ke rumah.

 

Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto: Aloysius Gonzaga

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts