Di tahun 2025, Biennale Jogja 18 (BJ 18) menawarkan sebuah tema bertajuk “KAWRUH: Tanah Lelaku”. KAWRUH diproyeksikan sebagai langkah ekosistem seni untuk kembali menengok pengetahuan kolektif warga di Indonesia maupun wilayah Global Selatan. Bob Edrian, salah satu kurator BJ 18, menjelaskan bahwa KAWRUH memiliki arti sebagai pengetahuan yang menubuh berdasarkan pengalaman warga selama berabad-abad lampau. Sebagian besar karya yang ditampilkan dalam perhelatan BJ 18 adalah hasil kolaborasi aktif seniman dan masyarakat dalam memanfaatkan potensi kesenian yang muncul di lingkungan sekitar mereka.
“[BJ18] merespons kerja-kerja seniman, misalkan seni rupa, seringkali muncul di kubus putih. Biennale sejak tahun lalu di Equator putaran kedua mengajukan transhistoristas dan translokalitas yang kemudian itu secara ruang pamer, secara cara kerja artistik melibatkan banyak orang, antar seniman, antar pelaku disiplin berbeda, sekaligus warga di desa,” jelas Bob Edrian.
Program residensi menjadi sarana pertemuan antara warga dengan seniman secara intens. Kukuh Ramadhan, salah satu seniman residensi BJ 18 asal Sulawesi Tengah, bermukim di Desa Bangunjiwo dan melakukan kegiatan artistiknya bersama warga.
Melalui catatan reflektif yang terbit di Newsletter Yayasan Biennale Yogyakarta the equator, Kukuh menganggap bahwa praktik kesenian tidak berkutat pada penciptaan suatu karya saja, melainkan interaksi dan dialog bersama warga juga termasuk dalam proses seniman melakukan kerja-kerja artistik. Hasil karya seninya yang berupa patung tanah adalah buah eksperimentasinya setelah mengobrol dan melangsungkan laku kesenian bersama warga Bangunjiwo yang notabene sering membuat gerabah.
Seniman lain yang ikut residensi BJ 18 adalah Nathalie Muchamad. Nathalie, seniman diaspora Jawa yang bermukim di Kaledonia Baru, Kawasan Oseania, bertahun-tahun meneliti buah sukun yang ternyata memiliki kaitannya dengan sejarah resistensi masyarakat adat terhadap kolonialisme. Selama residensi di Lohjinawi Studio, Nathalie sering dikirimkan olahan buah sukun oleh Mbah Muji, warga sekitar Lohjinawi.
Lewat pertemuannya yang berulang kali dengan warga, Nathalie menghasilkan suatu instalasi seni yang menampilkan konstruksi kayu yang menyerupai rumah mini beralaskan samak.
Begitu juga di sekitarnya terdapat banyak ketupat berisi sukun yang nantinya akan dimasak kembali bersama warga. Nathalie mencoba melihat keterhubungan antara makna sukun sebagai simbol perlawanan dengan studi gastronomi di Indonesia yang membuktikan bahwa buah ini bisa menjadi salah satu pangan pokok yang dikonsumsi masyarakat di masa depan.

Karya Seni yang Berakar dari Tradisi
Biennale Jogja 18 dibagi menjadi dua babak: babak I diadakan di Padukuhan Boro, Kulon Progo pada tanggal 19-24 September 2025 lalu, kemudian dilanjutkan babak II di Kota Yogyakarta, Desa Panggungharjo, Desa Bangunjiwo, dan Desa Tirtonirmolo pada 5 Oktober-20 November 2025.
Dalam tulisan Pengantar Para Kurator, dijelaskan mengapa desa dipilih sebagai tempat dipamerkannya banyak karya. Desa menjadi tempat di mana pengetahuan digali dan ditemukan kembali untuk mencapai kedaulatan budaya. Hubungan kesenian dan desa akan menjelma cermin dan jembatan; cermin menyiratkan makna bahwa seniman dan warga desa tenggelam dalam kekayaan budayanya masing-masing dan jembatan menjadi sarana bagi seniman dan warga desa mengetahui pengetahuan mengenai dirinya dan lingkungannya.
Kincia Aia (kincir air) karya Rani Jambak, perempuan komposer eksperimental asal Medan keturunan Minangkabau adalah salah satu contoh produk seni yang menyerap inspirasi dari pengetahuan kolektif masyarakat Minangkabau dalam menggarap lahan pertanian.

Kincir ini akan digerakkan oleh aliran sungai yang akan membantu warga untuk menumbuk padi. Teknologi tradisional ini telah diadapatasi warga di Sumatera Barat selama bertahun-tahun, dan kini terancam punah akibat masifnya penggunaan listrik. Untuk membangkitkan kembali ingatan mengenai kincia aia, ia mengubah kincir air itu menjadi alat musik yang mengeksplorasi ragam bebunyian dari hasil gerak mekanis kincir dan gabungan antara alat musik tradisional Minangkabau Talempong Batu dan Pupuik dengan olahan bunyi digital buah karya Rani.
Pengunjung diajak menciptakan musik sesuka hati dengan memencet tombol sensor yang mengeluarkan berbagai variasi suara, menekan talempong, mengatur berapa jumlah alu-alu yang akan digerakkan oleh kincir air, sehingga mereka mampu menonjolkan insting kreativitas mereka yang tentu saja berbeda antar individu. Karya Rani Jambak bisa ditemukan di The Ratan, Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul.
Selain itu, ada juga seniman asal Papua, Dicky Takndare dan seniman Belanda Kevin Van Braak menghadirkan instalasi mixed media berjudul Another Hidden Faces of Papua yang mempertemukan budaya Jawa, Papua, hingga Belanda untuk memunculkan narasi politik keseharian warga Papua dalam melawan pengaburan sejarah yang dilakukan pihak kolonial Indonesia.
Terdapat tujuh topeng yang dibaluti kulit wayang khas Jawa dan juga dihiasi lukisan dari Desi Baru dan George Reda yang menggambarkan proses menemukan kembali identitas mereka sebagai orang Papua selama merantau di wilayah paling padat Indonesia; Jawa.
“Topeng yang kami sampaikan lebih merujuk ke arah bagaimana situasi di Papua itu coba ditutup, artinya tidak banyak orang mengetahui kondisi sebenarnya di sana itu seperti apa, sehingga berita di Papua seakan-akan ditutup-tutupi secara sistematis,” jelas Dicky Takndre.
Topeng-topeng ini menggaungkan permasalahan yang menyelimuti tanah Papua, seperti sulitnya mencari dan menyebarkan informasi tandingan demi menantang dominasi pemberitaan dari rezim kolonial Indonesia. Salah satu topeng yang dipamerkan di Pendhapa Art Space ini menunjukkan wajah yang kedua mata sekaligus mulutnya dicengkeram oleh tangan raksasa.

Seni Seharusnya Mudah Diakses oleh Banyak Orang
Di Balai Desa Karangkitri, Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, karya-karya seni dari seniman BJ 18 disebar di berbagai sudut. Selama ini, tempat tersebut digunakan warga untuk melakukan kegiatan kesenian.
Saat Kelurahan Panggungharjo dipimpin oleh Wahyudi Anggoro Hadi, ia menginginkan kawasan Karangkitri menjadi pusat kebudayaan Jawa. Ia mengajak masyarakat desa, akademisi, seniman, petani, dan lain-lain untuk menelusuri kembali akar budaya Jawa untuk dimunculkan sebagai pijakan banyak orang menjalani kehidupan. Kebudayaan, begitu pula seni, akhirnya tidak hanya menyesaki ruang-ruang pameran yang sulit disentuh khalayak, tetapi dialami secara langsung dan menjadi laku keseharian.
Seniman tali asal Yogyakarta, Agnes Hansella, membuat karya makrame berjudul Sarang bersama warga Desa Panggungharjo. Karya ini menandakan bahwa kesenian mampu melibatkan banyak pihak dan bisa dilakukan seturut kegiatan sehari-hari. Seniman dan warga didudukkan sebagai subjek aktif dalam menciptakan suatu karya.
Akhirnya, karya tersebut hadir di tengah kehidupan warga tanpa adanya pembatas atau tiket masuk yang begitu mahal.
Semua orang mempunyai kesempatan untuk melihat seni dari jarak yang begitu dekat, bahkan menyentuh, merasakan, hingga taraf mengalami kesenian tersebut.
Begitu pula hasil karya Egga Jaya bertajuk The Strained Trade yang menghadirkan karavan seni yang mencoba menjajaki kembali sejarah gula. Karavan ini menyiarkan kisah pabrik gula yang berkelindan dengan sejarah kolonialisme berdasarkan ingatan kolektif warga. Egga tidak menempatkan karavan seni tersebut di ruang tertutup, tetapi di ruang publik terbuka. Warga sekitar bahkan bisa menaiki karavan tersebut dan melihat sampel gula.

Dalam pengantar kuratorialnya, Bob Edrian mengungkapkan bahwa seniman juga merupakan bagian dari masyarakat yang seharusnya tidak melulu memetik inspirasi dari kisah personal ketika menciptakan karya atau membatasi dirinya melakukan metode-metode kesenian tertentu, tidak terbuka dengan metode lainnya yang sesungguhnya beragam.
Melalui proses interaksi dengan masyarakat dan mengadaptasi pengetahuan lokal sebagai pijakan penciptaan, seniman mengupayakan eksplorasi unik yang mungkin tidak akan muncul jika mereka menutup dirinya. Pada akhirnya, kesenian perlu dirayakan oleh siapa pun.
Editor: Arlingga Hri Nugroho
Foto sampul: Hifzha Aulia Azka
