Dalam diskusi bertajuk “Noise as Sound Aspiration” (Noise Sebagai Aspirasi Bunyi) di VRTX Compound Space sebagai salah satu rangkaian program Jogja Noise Bombing (JNB) Fest 2025 pada 11 Mei lalu, Gatot Danar Sulistyanto menyebut satu frasa menarik yang memantik saya untuk mengelaborasi lebih jauh perihal Noise sebagai musik ini, yaitu bone conduction (konduksi tulang).
Selama ini banyak orang mungkin memahami mekanisme penangkapan gelombang bunyi hanya terjadi melalui telinga luar (konduksi udara), padahal telinga luar hanyalah satu dari tiga jalur pendengaran. Bila telinga luar berlaku sebagai jalur pendengaran primer (first auditory pathway), maka masih ada jalur pendengaran sekunder (second auditory pathway) dan bahkan tertier (third auditory pathway).
Konduksi tulang selaku jalur pendengaran sekunder memungkinkan pendengar menangkap bunyi bila saluran telinganya terblokir, atau bila ia mengalami gangguan pendengaran. Bunyi yang “didengar” oleh penerimanya dihantarkan melalui getaran pada tulang tengkorak, bukan melalui kanal telinga yang kemudian menyentuh gendang telinga, diteruskan lagi ke osikel, masuk ke koklea yang mengubah getaran menjadi sinyal listrik, dan berakhir diterjemahkan oleh otak. Sedangkan proses konduksi tulang mentransmisikan getaran bunyi langsung ke telinga bagian dalam melalui tulang tengkorak, tanpa melalui telinga luar atau tengah.

Setelahnya, salah seorang hadirin diskusi melontarkan pertanyaan yang pasti pernah bersemayam di benak banyak orang (awam) terkait musik Noise sebagai pertunjukan. Kira-kira saya parafrasakan begini, apakah musisi Noise tidak memikirkan pendengar ketika menampilkan musiknya? Jadi bisa dikata semacam masturbasi penampilan? Pertanyaan yang mungkin terkesan basi, tapi tetap valid untuk disampaikan.
Dari uraian Gatot tentang konduksi tulang dan pertanyaan tentang masturbasi penampilan ini, saya berpendapat bahwa seseorang tidak bisa berekspektasi datang ke acara Noise hanya untuk mendengar nada, atau melodi. Ada terlalu banyak elemen dalam sebuah pertunjukan musik, bahkan Noise sekalipun, untuk direduksi menjadi hanya sebagai susunan nada. Lagi pula, istilah musik enak didengar (easy listening) saya kira sudah tidak relevan, itu cuma rekaan industri musik semata. Tanpa bermaksud terlalu teoretis yang menjemukan, saya akan menyoroti tiga hal yang cenderung saya nikmati dari sebuah pertunjukan musik Noise dalam konteks JNB Fest; dentuman, tekstur, energi.
Dentuman
Dentuman adalah padanan yang saya pilih untuk kata kick yang rentang frekuensinya mulai dari yang terendah 20-40 Hz (sub-bass) hingga 2.000-5.000 Hz (attack atau click). Bunyi ini belakangan ramai digunakan oleh pelaku musik Noise yang tidak hanya membatasi musiknya pada kerangka Harsh Noise saja, tetapi juga memadu-padankan dengan unsur-unsur bunyi (dari musik) lain.

Pada hari ketiga JNB Fest 2025 tempo hari, HA KYOON (SHAPE+), seniman serbaneka asal Korea Selatan yang berdomisili di Paris, Perancis, menggunakan elemen dentuman yang cukup dominan dalam musiknya. Ia juga menambahkan vokal serta menari sebagai bagian dari pertunjukannya. Sedangkan pada hari sebelumnya di hari kedua, ada Trio Trio yang merupakan penampilan kolaboratif antara Dylan Amirio (Logic Lost) dari Jakarta, Aldo Ahmad Fithra (Sipaningkah) asal Padang yang sudah berdomisili di Jakarta, dan Gilang Damar Setiadi (ASU(USA)) dari Yogyakarta.
Mereka bermain secara semi improvisasi yang musiknya dikoridori oleh Dylan dengan dentuman sekaligus noise-nya, direspons secara proporsional oleh Aldo dengan perkusi buatannya, dan diisi oleh Gilang dengan vokal berefeknya.
Bagi orang yang mengalami gangguan pendengaran, konduksi tulang berperan besar di sini karena bunyi yang ditangkap melalui konduksi udara berbeda dibandingkan bunyi yang diterima melalui konduksi tulang. Bila karakter bunyi melalui konduksi udara cenderung lebih jernih dan kaya frekuensi (tinggi), maka bunyi melalui konduksi tulang cenderung lebih dalam, atau bass-heavy, karena frekuensi rendah lebih dominan.
Sebagai contohnya suara kita sendiri. Ketika bicara, kita merasa suara kita lebih dalam, lebih bass, dan heran ketika mendengar rekaman suara kita tersebut yang ternyata berfrekuensi lebih tinggi, alias lebih cempreng. Itu sebabnya Anda tetap bisa menikmati musik meski menggunakan sumbat telinga karena mekanisme konduksi tulang tersebut, seraya melindungi keutuhan gendang telinga. Hal ini juga menegaskan poin bahwa bukanlah nada yang seharusnya dicari pada acara Noise, melainkan sensasi getaran di tulang tengkorak Anda.
Tekstur
Sebagai pemain gitar yang juga bermain-main dengan sound effect, tekstur adalah panglima. Sejauh pengalaman saya dalam menikmati musik Noise, spektrum-spektrum tekstur bunyi ini menentukan apakah Anda akan menggigil atau merasa hangat ketika mendengarkannya. Saya ingat ketika menyaksikan Patrick Hartono tampil di Kedai Kebun Forum dalam acara Sonic Art Showcase tahun 2015. Itu mungkin pengalaman pertama saya merasakan apa itu namanya tekstur bunyi yang “benar” pada acara musik Noise.
Bunyinya mengingatkan saya akan suara clicker di rentang frekuensi rendah dalam film-film alien; kokoh, rapat, rapi, dan menimbulkan rasa seperti isi dada sedang digaruk. Rully Shabara sering mengeluarkan suara seperti ini dalam sesi-sesi improvisasi vokalnya, meski tidak sama persis. Atau juga ada musik Modular Improvisation-nya Lintang Radittya yang ia rekam pada tahun 2014 menggunakan modular buatannya; kotor, berpasir (gritty), basah, seperti sebuah permukaan kasar yang meminta diampelas, dan terasa analog (bila Anda pernah mendengarkan soundtrack film It Follows [2014] oleh Disasterpeace, tekstur bunyinya ada beberapa yang mirip).
Bagi saya itulah tekstur dalam bunyi, memicu asosiasi terhadap benda yang memiliki profil tekstur sesuai referensi yang kita kenal.
Mungkin belum banyak yang menyadari betapa pentingnya tekstur ini. Dalam obrolan antara saya dengan Lintang pada acara Gaung RTFM tanggal 7 Mei 2025, Lintang berkata ia pernah menolak pesanan synthesizer dari seseorang karena pemesan tersebut tidak tahu tekstur seperti apa yang ia kehendaki. Bila diperhatikan, bisa dibilang faktor penggaet telinga terkuat adalah tekstur. Simak vokalisasi Rully Shabara dan bambu wukirnya Wukir Suryadi dalam Senyawa, gitarisasi Tesla Manaf dan drumisasi Rio Abror di Kuntari, di mana komposisi (secara konvensional) bukanlah hal utama, melainkan tekstur masing-masing instrumen dan bagaimana mereka menata keduanya dalam lagu, secara organik.
Namun tekstur bukan hanya hadir dalam bunyi, tapi juga dalam komposisi musik itu sendiri. Pada hari ketiga, Kumari selaku vokalis dari Bandung menampilkan musik vokalnya yang ia tumpuk-tumpuk secara improvisasi. Lapisan vokal Kumari ini juga termasuk kategori tekstur dalam musik. Atau bila ingin tarik lebih jauh bisa coba amati juga album Glassworks-nya Philip Glass, yang katanya “minimalis” tapi super kaya akan tekstur.

Tanpa bermaksud menggurui, menurut saya membangun tekstur dalam komposisi bukan serta-merta menambahkan banyak instrumen ke dalam lagu. Pernah menyaksikan sebuah grup dengan multiinstrumen, bermain dengan seru, tapi Anda tidak merasakan apa pun yang menggairahkan? Mungkin itu sebabnya. Tekstur yang kuat dapat menciptakan gereget, menstimulasi pancaindera, dan menimbulkan sensasi tertentu pada tubuh. Namun memang tekstur ini tetap perlu diperlengkap dengan unsur ketiga di bawah bila ingin lebih mendalam dampaknya: energi.
Energi
Ini merupakan bagian dari bersenang-senang dalam memainkan musik Noise, akan tetapi tidak lebih kecil nilainya. Anda mungkin pernah menyaksikan para penonton headbang di acara musik Harsh Noise yang saya kira aspek energilah yang bisa menggerakkannya. Musikalitas bisa rapi, bunyi bisa paripurna, akan tetapi energi mampu menegasikan itu semua bila memang yang dituju adalah bersenang-senang dan bergila-gila, sebab nada bukan yang utama.
Energi ini biasanya paralel dengan warna musik yang dibawakan. Apakah ia loncat-loncat, berlari, jalan mondar-mandir, membenturkan mikrofon ke kepala, menjerit, menunduk, atau membelalakkan mata. Ukuran “berhasil” atau tidak biasanya ditentukan oleh apakah memang aksinya tersebut hakiki (genuine) atau tidak, tidak ada pakem apa pun di situ. Ia bisa saja cuma bergeming karena energi yang kuat itu dapat bersifat mikro yang tak kasat mata, tapi dengan dampak emosi yang tetap intens.
Kembali coba menjawab pertanyaan di atas, maka sah saja bila musikus Noise tersebut terkesan masturbasi penampilan, berupaya menikmati sendiri permainannya. Hanya saja, meski ia bermain tunggal, apa yang orang saksikan dan dengarkan merupakan hasil kerja kolektif yang memadukan berbagai elemen eksternal si musikusnya. Ada pengaturan bunyi oleh sound operator, ada proyeksi visual secara digital, ada pencahayaan, ada properti latar belakang, ada pemosisian penampil-penonton, ada penonton yang berguncang, bergoyang, menari, berteriak.

Sedangkan dari sisi penampil di luar bunyi, ada dramaturgi, membangun suasana sedemikian rupa sesuai warna musik yang hendak ia tampilkan. Persoalan enak, bagus, keren, menghibur atau tidak ditentukan oleh berbagai elemen yang melengkapi suatu pertunjukan musik Noise tersebut. Namun saya juga ingin berasas bahwa hadirin sudah seharusnya tahu kalau acara yang akan dihadiri adalah acara musik Noise, bukan konser Taylor Swift atau Coldplay, di mana nada dan melodi bukanlah pertimbangan utama untuk dibunyikan. Kalaupun ada, bentuknya tidak seperti yang kita kenali secara tradisional.
Tim JNB paham betul perihal ini. Itu sebabnya mereka selalu bereksperimen mengenai format festival yang mereka selenggarakan setiap tahun. Bahkan penentuan kurator pun tidak melulu dari kalangan musikus, seperti JNB Fest tahun ini yang dikuratori oleh Ignatia Nilu, kurator seni rupa, yang bertandem dengan musisi non-Noise, Tesla Manaf.
Lagi-lagi saya lantas ingat acara JNB–saat itu tajuknya hanya Jogja Noise Bombing, bukan JNB Fest–yang pernah saya dokumentasikan pada 9 November 2013 di Kedai Kebun Forum. Acara tersebut mengandung unsur dramaturgi yang terbangun dari pemosisian serta urutan penampilnya. Dibuka oleh Arpappel (Hendra Adytiawan dan Rangga Nashrullah) dan ditutup oleh penampilan teatrikal (aksi memecahkan piring ke kepala berhelm) Bonne Humeur Provisoire dari Perancis yang berkolaborasi secara improvisatif dengan Fredian Bintar dari Semarang. Pemosisian penampil dibuat memutar dengan urutan searah jarum jam, dan penonton menyaksikan dari level yang sama tanpa pembatas, benar-benar berdiri di hadapan penampil. Ini salah satu acara JNB yang saya sukai.
Cara baru dalam membuat musik dengan sendirinya selaras dengan cara baru dalam mendengarkannya. Memandang ini sebagai evolusi atau devolusi dalam kerangka musikalitas menurut saya bukanlah wacana yang produktif. Memang harapannya si individu pembuat musiknya terus menjelajahi segala unsur yang membangun musik tersebut, entah karakter bunyinya, komposisinya, bahkan konsep penampilannya. Namun bagi pendengar, penonton, penyimak, khususnya yang datang ke acara JNB, terimalah fakta bahwa ada jenis musik yang namanya Noise, dan itu memang bising tiada rupa, tapi sekaligus mendorong batas-batas yang berbeda daripada jenis-jenis musik yang sudah ada, dan itu asyik.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: Bima Chrisanto
