Tujuh orang duduk berjejer di dalam ruangan Modular Space, VRTX Compound Space, menghadap Utara pada Rabu (6/8). Di hadapan mereka, berjejer pula belasan orang yang siap untuk mendengarkan penjelasan dalam sesi temu media. Tujuh orang itu adalah Sanjonas Kristy (Post Party Syndroma), Herbudi Tri Prasetya a.k.a DJ Paws (Jumat Gombrong), Andreas Siagian, Wok The Rock, Leilani Hermasih, Ari Wulu, dan Indra “Menus” Hermawan (Jogja Noise Bombing).
Mereka adalah penggagas dan kolaborator GAUNG, sebuah festival musik elektronik dan eksperimental yang berjalan selama enam bulan, mulai dari Maret—Agustus 2025 di Yogyakarta. Festival tersebut dirancang sebagai wadah dan jaringan kerja yang menghubungkan kolektif, inisiatif, dan proyek musik—elektronik dan eksperimental—yang kemudian dibagi dalam enam program: Ignition, Rumakit, RTFM, Salon, dan Gumaung.
Di bulan Maret, Gaung Rumakit sudah terlaksana sebagai ajang diskusi bersama pelaku skena musik elektronik dan eksperimental untuk mengelola bersama rangkaian program GAUNG. Kemudian, dua bulan setelahnya, tepat tanggal 6-7 Mei, GAUNG RTFM digelar sebagai ajang pengembangan wacana dan diskursus tentang msuik elektronik dan eksperimental dengan konsep diskusi publik.
Selanjutnya, di bulan Agustus ini, dua program lainnya, yakni Salon Gaung dan Gaung Gumaung akan dilaksanakan. Dalam dua program itu, GAUNG melibatkan profesional dalam bidang audio dan suara yang akan mendiseminasikan pengetahuannya kepada pelaku skena melalui lokakarya dan mengajak delapan kolaborator untuk menggelar pagelaran musik.
Salon Gaung, Pengembangan Keterampilan yang Berdampak ke Komunitas
“Di tanggal 7-10 Agustus, kami ada workshop yang berfokus pada pengembangan kapasitas di bidang produksi musik, teknik suara, dan eksplorasi audio,” ucap Andreas Siagian salah satu programer GAUNG kala menjelaskan Salon Gaung.
Andreas Siagian yang sering disapa Ucok, menjelaskan dalam Salon Gaung akan diadakan di tiga tempat: Garasi Performance Institute, Galeri Lorong, dan Komunitas Gayam 16.
“Workshop yang akan dilakukan, pertama adalah tentang audio spasial yang didampingi Gatot Danar Sulistiyanto. Nanti teman-teman akan belajar intensif tentang sistem multikanal dan pengoperasiannya”, ucap Andreas Siagian.
“Kedua, adalah kerjasama GAUNG dengan Liquid Architecture dari Melbourne, Australia. Bersama Lauren Squire, seniman dari Liquid Architecture, teman-teman akan diajari basic audio, hal ini berangkat dari keresahan bahwa teman-teman kolektif ternyata masih membutuhkan keterampilan tersebut untuk meningkatkan kualitas pertunjukkan mereka,” sambungnya.

Khusus yang ketiga, Andreas menjelaskan akan ada lokakarya Budots dari Post Party Syndroma yang mengajak seniman dan peneliti dari Filipina.
Melanjutkan yang dijelaskan Andreas Siagian, Sanjonas Kristy dari Post Party Syndroma menjabarkan tentang workshop yang digarapnya bersama teman-teman.
“Judulnya, Post-Budots Beyond Border: Tracing Gyperlocal Futures in Southeast Asian Dance. Dalam workshop tersebut, bersama Jorge Juan B. Wieneke V akan menelusuri musik elektronik yang terbentuk dari remix culture, meme, dan internet atau teknologi,” jelas Sanjonas.
Pekan Musik Elektronik, Memberdayakan Komunitas
Gaung Gumaung bakal digelar dari tanggal 11-16 Agustus 2025. Selama enam hari, delapan kolektif, inisiatif, dan proyek musik akan menggarap gelaran musik sesuai apa yang biasa mereka lakukan. Para inisiator dan perwakilan kolaborator menjelaskan gambaran pertunjukkan yang akan dilakukan.
“Pada hari pertama, kami Jumat Gobrong akan melakukan Kirab Hip-Hop Nusantara yang akan dilakukan di sepanjang Jalan Malioboro sampai Titik Nol,” terang DJ Paws yang mewakili Jumat Gobrong.
Dalam kirab tersebut, Jumat Gobrong menghadirkan empat performer yang nantinya sepanjang jalan akan tampil di atas mobil pick up dan di Titik Nol
“Sebelumnya, kami pernah melakukan hal serupa. Dulu waktu pembuatan video klip Gaman Cangkem, kami juga jalan ramai-ramai di Jalan Malioboro,” ucapnya menambahkan.
Sehari setelahnya, giliran Tuesday Louder. Tuesday Louder adalah kolektif musik elektronik yang setiap seminggu sekali mengadakan gigs elektronik-eksperimental di pojok Kampung Wijilan.
“Selama satu tahun ini, Tuesday Louder aktif membuat acara rutin setiap seminggu sekali. Dari konsistensi itu kemudian kami perlu mengapresiasi dan mengajak mereka,” ucap Ari Wulu, salah satu inisiator GAUNG.
Pada tanggal 13-nya, Jogja Noise Bombing (JNB) akan mengajak penonton untuk berkeliling kota Yogyakarta sembari mendengarkan noise dari siang sampai sore. JNB akan “membajak” bus kota dan berhenti di beberapa titik untuk menikmati suasana kota dengan musik noise.
“Ini jadi semacam romantisasi bis kota, yang dulu sering dipakai untuk pulang sekolah atau kerja. Meski sekarang jalurnya sudah tidak ada, tapi ternyata bisnya masih beroprasi yang biasanya disewa untuk layatan atau kondangan,” jelas Indra ‘Menus’ Hermawan sebagai perwakilan JNB.

Sedari siang hingga sore menikmati noise di dalam bus kota, malamnya bergeser ke Ruang Pana, Kampung Media untuk perhelatan Yes No Klub. Pada kesempatan itu, Yes No Klub tidak hanya sebagai kolaborator GAUNG, tapi juga menjadi ajang yang disokong festival musik Pestapora.
“Di tanggal 14, akan ada Ambient Evening yang diadadakan di Ruang Melamun. Musiknya cocok untuk nyore sambil nyantai dan menyeruput kopi,” ujar Wok The Rock ketika menjelaskan acara yang digarap Ambient Evening.
Satu hari kemudian, pada tanggal 15 Agustus, area parkir lantai 3 Pasar Beringharjo disulap menjadi venue Gaung Gong. Gaung Gong mengajak Kuntari, Rajak Kirik, Rani Jambak, dan Prontaxan sebagai performer. Masih di hari yang sama, kolektif Post Party Syndroma juga menggelar acara rutinan mereka, bertajuk Introvert Club 19 di Arcadaz.
“Mari menghabiskan hari Jumat, diawali dengan bertemu pedagang pasar di Beringharjo, kemudian dilanjut bertemu bule-bule yang mampir di Arcadaz,” terang Ari Wulu dalam nada bercanda.
Hari terakhir, bakal ada Kombo Mokombo dari Kombo Lab yang dilakukan di Embung Bangeran dan juga Klub Menepi. Wok The Rock menjelaskan bahwa Kombo Lab adalah platfrom bagi musik improvisasi yang mewadahi banyak musisi di Yogyakarta.
Sedangkan Klub Menepi adalah bentuk pertunjukkan musik yang memilih venue jauh dari tempat urban. Wildan, yang mewakilkan Klub Menepi menjabarkan bahwa dalam edisi kolaborasi bersama GAUNG, akan melakukan eksplorasi dengan memainkan bermacam musik, mulai dari funk-kot, techno, hardtechno, hingga psychedelic trance.
Pelaksanaan Gaung Gumaung di berbagai tempat, hampir di seluruh daerah Yogyakarta adalah bentuk metode kerja GAUNG sebagai jaringan, bukan pembuat. Wok The Rock menjelaskan bahwa para kolaborator GAUNG memang diposisikan di tempatnya masing-masing. Jadi, GAUNG layaknya synthesizer modular yang menghubungkan satu sinyal ke sinyal lainnya.
“Alih-alih membuat satu festival baru yang mengumpulkan semuanya dalam satu hari dan satu tempat, kami memilih untuk membangun jejaring dan mengoneksikan, menautkan kerja-kerja musik elektronik yang sudah ada di Yogyakarta,” sambung Wok The Rock.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: dok. GAUNG
