Ketidakadilan, kesewenang-wenangan penguasa, upah di bawah standar, dan nestapa hidup lainnya bukan lagi sekadar kabar buruk, ia adalah keseharian. Negara kerap absen dan tak pernah mau hadir, hanya sibuk melayani kenikmatan segelintir orang. Sementara kehidupan arus pinggir dibiarkan menua dalam ketidakpastian. Dari sana, kemarahan lahir dan menumpuk. Bukan sebagai ledakan sesaat, melainkan sebagai denyut panjang atas ketidakbecusan penguasa dan sistem yang tak pernah benar-benar berpihak pada rakyatnya
Godspeed You! Black Emperor (GY!BE; selanjutnya akan saya sebut GY!BE), telah merumuskan kemarahan-kemarahan ini pada salah satu albumnya yang bertajuk “Luciferian Towers”. Album ini dirilis pada tahun 2017 silam dan akan terus relevan jika revolusi tidak pernah terjadi. Album ini berisi 8 lagu dengan materi matang dan padat sebagai bentuk kritik. Dengan salah satu judul lagunya yang cukup menonjol yaitu “Anthem For No State, Pt.I”. Saya tidak akan membahas teknis sound ataupun instrumen secara mendalam. Namun tulisan ini akan membawamu untuk berimajinasi tentang narasi revolusi yang disajikan oleh Godspeed You! Black Emperor.
“Luciferian Towers” Album yang Monumental
Kalian tidak akan menemukan lirik kritis ataupun puitis dalam album ini. Hanya bebunyian gitar, drum, bas, biola, dan instrumen lainnya yang akan membawa kalian dalam arena kemarahan dan harapan. Sedikit perkenalan; GY!BE merupakan kolektif Post Rock yang terbentuk di Montreal, Kanada pada 1994 silam. Musik GY!BE biasanya berdurasi 15 menit ke atas, dipenuhi sesak instrumen musik yang nir-vokal. Meski begitu, karya-karya yang mereka sampaikan begitu tajam untuk sebuah kritikan. Salah satunya adalah “Luciferian Towers”.
Album “Luciferian Towers” mungkin memiliki durasi tidak sepanjang album milik mereka lainnya. Durasi single terpanjang pada album ini yaitu 8:36 pada judul “Anthem For No State, Pt. III”. Meski tidak sepanjang biasanya, album ini termasuk salah satu karya monumental yang telah GY!BE buat. Secara gamblang, saya akan menafsirkan album “Luciferian Towers” ini sebagai usaha penghancuran pada menara kapitalisme atau cengkeraman kekuasaan iblis (baca: pejabat). Melalui album ini, GY!BE menyadarkan kita bahwa sebagai rakyat harus bangkit untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Album ini akan mengajak kita memasuki area penuh amarah, gelap, mencekam, dan secercah harapan pada sesuatu yang bernama revolusi.

Timbulnya Kesadaran Kolektif pada ‘Undoing Luciferian Towers’
Tembang dibuka dengan tempo lambat dan dinamika rendah mengusung bebunyian repetitif disertai suara noise, untuk membangun suasana mencekam. Musik mereka selalu muncul bak sirene tanda bahaya yang datang dari kejauhan.
Narasi awal revolusi dalam album ini, dimulai ketika kesadaran kolektif masyarakat telah bangkit atas kehidupan yang telah mereka jalani. Saya benar-benar membayangkan pada single pertama ini, perubahan rakyat yang akhirnya telah sadar bahwa selama ini mereka diinjak-injak oleh sistem dan penguasa. Bagaimana susahnya hidup yang mereka jalani bermula dari kebijakan ngawur penguasa. Diksi Undoing apabila dialih bahasa ke bahasa Indonesia, memiliki arti pembongkaran/kehancuran. Dan Luciferian Towers sebagai metafora untuk kekuasaan para iblis (baca: pejabat).
Jika ditafsir dalam konteks single ini arti ‘Undoing Luciferian Towers’ adalah timbulnya kesadaran masyarakat untuk menghancurkan bentuk negara yang telah direka para iblis. Mereka menginginkan kesejahteraan dan keadilan atas hidup yang tidak menentu. Jika divisualkan, saya membayangkan adanya adegan orasi yang dihadiri banyak rakyat. Mereka berseru atas kemarahan; kemarahan yang mempunyai alasan. Kemarahan atas kelaparan yang melanda. Kemarahan atas upah yang tidak sesuai. Kemarahan atas susahnya mencari pekerjaan. Hanya satu pikiran pada massa yang marah ini: Perubahan.
Hancurkan Mereka! pada Trilogi Bosses Hang
Lantas tipikal musik crescendo kembali membuka cerita. Musiknya dibiarkan merayap naik. Nada-nada tipis dibiarkan hidup sendiri lalu lapisan bunyi bertambah menyesakkan telinga. Dibangun secara perlahan, beranjak naik, hingga berakhir gemerlap. Ini adalah rangkuman dari 3 single di atas.
Kini kemarahan telah mencapai puncaknya. GY!BE menyajikan perjuangan rakyat untuk menghancurkan monumen iblis ini. Bagaimana saya dapat membayangkan perjuangan untuk merengsek masuk ke dalam bangunan, monumen, dan pertahanan yang selama ini dibanggakan oleh para iblis. Pertempuran melawan prajurit-prajurit yang setia pada para iblis. Setiap peluh, air mata, dan darah yang mengucur hingga jatuh ke aspal tergambar dengan detail pada 3 single ini.
Rakyat yang kini telah tersadarkan memilih untuk bangkit dan melawan bersama, Tangan saling bergandengan tanpa peduli kabut putih di depan menghadang. Hanya satu keinginan di pikiran mereka; “Revolusi Sekarang atau Mati sebagai Pejuang”. Senapan laras panjang telah dikerahkan.
Kami tidak peduli untuk rasa sakit, kemarahan ini telah kami pendam.
Harapan untuk perubahan berpendar di depan.
Hancurkan Mereka! menjadi frasa sakti pada adegan untuk 3 single ini. Setelah orasi yang berkobar membakar semangat di nomor sebelumnya, kini semangat itu telah memberikan secercah harapan cerah di depan.

‘Fam/Famine’: Mari Rayakan ini Semua
Adegan beralih pada kemenangan rakyat yang selama ini terpinggirkan, mereka yang barangkali tak pernah membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang mungkin. Seumur hidupnya, mereka di-plot untuk sekadar bertanya makan apa hari ini, dan dijauhkan dari hak untuk menjadi pintar. Namun perlahan, itu runtuh. Satu per satu, mereka merayakan selesainya pertempuran panjang melawan ketidakadilan, keserakahan, kedok nasionalisme, dan kesewenang-wenangan.
Alunan musik “Fam/Famine” bergerak dramatis, bukan sebagai pesta besar, melainkan sebagai napas panjang setelah bertahan hidup. Ada haru yang muncul—haru atas luka yang tak sepenuhnya sembuh, tapi akhirnya diakui. Jika ditafsir sebagai adegan film, kamera menyorot rakyat dalam gerak lambat. Teriakan menggema ke gedung-gedung parlemen. Bendera diturunkan, dibasuh seadanya, lalu dikibarkan kembali—bukan sebagai simbol kemenangan mutlak, melainkan tanda bahwa kuasa akhirnya berpindah tangan. Pelukan terjadi, sunyi ikut menyusup, dan untuk pertama kalinya, harapan tak lagi terasa seperti larangan.
Puncak Sebuah Revolusi
Narasi akhir dibuka penuh dengan rasa kesedihan melalui petikan gitar menggunakan efek reverb/delay. Gesekan biola yang menyayat turut hadir memberi kesan haru. Sebagai pengingat atas gugurnya para pejuang revolusi—atas nyawa yang mereka korbankan demi sistem yang berbenah. Sebenarnya hilangnya nyawa tidak akan pernah sebanding untuk sebuah perubahan. Kedok nasionalisme di atas manusia dan ketakutan para iblis untuk menjaga kekuasaanlah yang menyebabkan semua ini.
Lantas suasana kembali dibangun secara perlahan. Kini revolusi telah tercapai. Kekuasaan yang selama ini menindas rakyat telah hancur berkeping-keping. Sebagai sebuah judul, 3 single ini memang terasa begitu ‘anarkis’ atau mungkin terlalu ‘provokatif’. Namun, jika itu yang harus dilakukan, kenapa tidak? Cerita kembali bermula dengan alunan musik perlahan mulai berbinar—timbul pula harapan mengais cahaya yang lama padam. Gelap telah usai, harapan kini berpihak pada rakyat.
Setelah kemenangan melawan para iblis, kehidupan mulai menampakkan cahaya, bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai pekerjaan baru. Rakyat kembali berpijak, menata ulang dari puing-puing yang tersisa. Sistem dibiarkan tumbuh perlahan, tanpa tergesa, tanpa tuan. Semua yang dibangun oleh iblis sejak pagi belum menyapa telah diluruhkan. Tatanan yang tak pernah berpihak pada yang kecil dicabut hingga ke akarnya. Revolusi yang dulu hanya hidup di kepala segelintir orang kini menjelma kemungkinan bersama. Luciferian Towers tidak menutup cerita dengan sorak, melainkan dengan keyakinan rapuh bahwa setelah menara runtuh, rakyat akhirnya punya ruang untuk membangun dengan tangannya sendiri.
Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto sampul: The Guardian/Sonja Horsman
