Last Living Ceremony (LLC) adalah mereka yang menolak mati—mereka yang masih berdiri di bawah dentum berat riff fuzz dan gema distorsi yang enggan diam di ujung napasnya.
Diinisiasi oleh Sathar Sonaar bersama Wellbeing Record, pertunjukan ini digelar di 1999 Social Bar, Sriwedari, pada 30 Oktober 2025 dan menjadi semacam ritual panjang yang dimulai sejak selepas azan magrib berkumandang hingga pukul 11 malam.
LLC bukan sekadar showcase release party untuk EP perdana dari Sathar Sonaar, Dervishes. Ia adalah seremoni terakhir bagi mereka yang masih percaya pada sakralitas musik stoner, doom, dan psychedelic, tiga genre musik yang hanya dihidupi oleh segelintir komunitas gigs bawah tanah di kota-kota besar, seperti Yogyakarta, Bandung, dan Malang. Musik semacam ini memang bukan gelombang massa, ia lebih berfungsi sebagai ruang alternatif bagi komunitas kecil dengan identitas yang kuat dan daya tahan yang keras kepala.
Pra-Ritual: Membuka Napas yang Panjang
Ritual dimulai dengan obrolan tentang musik rock dan perjalanannya, tentang bagaimana mereka tetap hidup dari tahun ke tahun hingga malam diselenggarakannya Last Living Ceremony.
Dipandu oleh Daffa, diskusi dibuka dengan pertanyaan tentang bagaimana pengalaman mereka masuk dan bertahan di scene rock dan berbagai turunannya. Di sebelahnya duduk Kukuh, gitaris Louis sekaligus vokalis dan gitaris Sathar Sonaar yang nyentrik dengan rambut kriwil. Pukul 18.15, mereka berdua masih duduk menghadap bar, dua kursi di sampingnya belum terisi.
Tak lama kemudian, datanglah Rudi, salah satu penggawa Ngglituk Podcast yang malam itu juga bertugas sebagai MC. Gaya spontan Rudi yang cair dan slengekan, khas gigs underground, mulai dirasakan oleh para penonton. Kursi terakhir diisi oleh Nano, vokalis Louis, yang lebih suka menyebut penampilannya sebagai “atraksi.” Obrolan berkembang menjadi cerita tentang awal mula bermusik, perjalanan mereka di scene lokal, hingga harapan agar napas ini bertahan setidaknya sedikit lebih lama.

Ritus: Dari Gelap Menuju Ekstase
Rudi Agus dan Dwi Prakoso tampil dengan gaya khas Ngglituk Podcast yang cair dan humor khas patrolan kemudian membuka acara secara tidak resmi, memperkenalkan lineup malam itu: SILVERSKY (Solo), Louis (Sukoharjo), Pvrplehaze (Solo), Krisis Nasional Noise, dan tentu saja ritus utama, Sathar Sonaar.
Kesan sihir gelap langsung muncul saat SILVERSKY memulai lagu pertama pada pukul 19.16. Imaji tentang tebing tandus berlatar tanah merah dan langit abu-abu yang mencekam seolah muncul di kepala. Kombinasi tema serius, tempo tegas, dan sesekali ledakan ritmis membuat suasana intens meski venue belum begitu padat. Pertunjukan berakhir pukul 19.50 dan meninggalkan dengung panjang di udara.
Pukul 20.05 Louis menempati panggung. “Seorang vokalis yang terlihat seperti petarung UFC memasuki oktagon dengan gaya layaknya Conor McGregor sesaat sebelum laga dimulai,” seru Rudi dengan nada penuh tenaga. Tepat di lagu kedua, venue mulai padat.
Musik rock yang mereka bawa seperti menghidupkan kembali masa ketika genre ini pernah digandrungi di setiap penjuru, di mana rock masuk dan meluas pada 1970-an–1990-an. Kesan lawas tetapi hidup terasa kuat malam itu. “Moh leren!”, teriakan khas mereka, menjadi semacam pernyataan sikap tak mau berhenti. Lagu-lagu mereka menggambarkan napas tertahan yang terus berjalan—bergairah, berani, dan membakar semangat.
Setelah energi yang meledak dari Louis, panggung beralih pada Pvrplehaze pada pukul 20.51. Memadukan riff gitar stoner-rock yang kental dengan melodi fuzzy dan vokal perempuan yang melayang, mereka menghadirkan suara padat namun atmosferik yang mengajak pendengar masuk ke ruang hipnosis musikal. Rimalia membawa suasana menuju ekstase, suara tinggi yang seolah tak ingin jatuh ke bumi. Pukul 21.10 senar gitar putus. Tak ada yang merencanakan kepunahan, semua memilih bertahan. Gitar milik Kukuh menyelamatkan pertunjukan hingga selesai pada pukul 21.27.

Dari melodi yang terbang tinggi, suasana lalu dihantam oleh Krisis Nasional Noise, gelombang kekacauan dan kebisingan yang menjadi pelengkap ritus. Venue mendadak tenang, banyak yang duduk, menyalakan rokok, dan meneguk minuman. Di tengah kekacauan itu, Sathar Sonaar bersiap untuk ritus utama mereka. Semua terasa jujur, natural, dan apa adanya.
Puncak: Dinosaurus yang Menolak Punah
Hampir tepat pukul 22.00, Sathar Sonaar muncul. Mereka membuka dengan dentuman keras dan efek luar angkasa, imaji yang terasa jauh, hampir tak mungkin dijangkau. Total enam lagu membawa penonton ke dunia lain dengan formasi 4 lagu dari EP Dervishes, satu lagu cover dari Kula Shaker berjudul Mysthical Machine Gun dan satu single baru Sathar Sonaar, yaitu “When All The Jokes Comes To Me”. Efek psychedelic semakin kuat dengan kelap-kelip lampu, delay, dan asap tipis seperti kabut yang membuat ruangan terasa mistik.
“Dervishes” merupakan lagu kedua yang mereka mainkan, sekaligus menjadi judul dari EP yang baru dirilis ini. Mengusung stoner/psychedelic-rock dengan fuzz gitar berat, groove ritmis yang menghanyutkan, dan vokal yang membawa nuansa meditasi gelap, “Dervishes” mengalir seperti tarian batin para sufi, membawa pendengar pada ruang refleksi yang berputar antara kesunyian dan intensitas. “Just let it be even you know things are misery” .

Terdengar seperti nasihat seorang darwis; ajaran untuk menerima penderitaan dengan tenang, sebagaimana seorang sufi memandang kesedihan sebagai bagian dari perjalanan menuju kebebasan batin, menari di dalamnya sampai menjadi cahaya.
Bagi Sathar Sonaar, LLC ini adalah metafora tentang dinosaurus yang menolak punah atau serupa upaya memulai kembali kelahirannya. Sebelum semuanya lenyap, harus ada perayaan terakhir, sebuah kebangkitan di tengah kehancuran. Dalam panggung yang diselimuti kabut dan gema amplifier, LLC menjadi pengalaman ritualistik antara kelahiran dan kematian, antara ekstase dan keheningan. Ini serupa pernyataan: bahkan di ambang hening ada suara yang tetap meraung. Teriakan yang tidak hanya keluar tetapi juga merasuk dalam jiwa.
Lagu “Long Forgotten Sleep” terasa menjadi klimaks ritual, meski bukan penutup. Saat mata terpejam, pendengar seolah terlempar ke dimensi lain. Penampilan mereka ditutup dengan permainan dramatis. Kukuh (vokal + gitar), Irham (bass), Ikuk (additional guitar), dan Arga Gondrong (drum) menutup lagu dengan perlahan, satu per satu meninggalkan panggung. Hanya Arga yang tersisa, sebelum akhirnya membanting stiknya jauh ke samping panggung—akhir yang nyaris, bukan benar-benar selesai.
Selain perihal ritus, gigs ini dapat terlaksana karena ikatan erat dari kawan-kawan jejaring musik yang saling mendukung satu sama lain. Maka tak lupa terlaksananya Last Living Ceremony ini juga berkat sentuhan Agata Sonia selaku manajer Sathar Sonaar dan tentunya Wellbeing Record.
Last Living Ceremony memiliki potensi untuk memulai kembali perbincangan sebagai upaya “kelahiran kembali” atas heningnya skena musik rock, atau mungkin justru diambang kepunahan?
Epilog: Kekhidmatan dalam Kebisingan

Sepanjang malam, tubuh-tubuh di venue nyaris tak banyak bergerak. Tak ada moshing atau headbang dominan. Mereka berdiri, bersedekap, atau menaruh tangan di belakang. Beberapa menutup mata, mungkin karena silau lampu atau karena tenggelam dalam trance.
Apakah pertunjukan ini gagal karena tak banyak tubuh yang menari? Tidak. Justru di situlah letak magisnya: ini bukan pesta, melainkan kekhidmatan musik rock. Semua memilih untuk bebas menentukan tubuhnya seperti menyimak atau pun menyelami. Dervishes lewat Last Living Ceremony menghadirkan renungan di tengah cadasnya permainan musik.
Sebagaimana ritual akhir, Sathar Sonaar menegaskan bahwa mereka tak mau berakhir. Mengutip penggalan lirik yang tegas meski terkesan liris dari Morgue Vanguard dalam Kontra Muerta: “Tapi tidak hari ini / Niscaya terbungkam / Tidak hari ini / Langit pasti menutup / Tapi tidak hari ini.”
Malam itu, mereka benar-benar bertahan sedikit lebih lama.
Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto Sampul: Rohmad

sangar !