Semua berawal dari celetukan tongkrongan di salah satu kopitiam Jember. Aku bersama kedua kawanku sedang menerka bekas bangunan sebelum berwujud tempat tongkrongan kami. Pelbagai informasi mengatakan konon tempat ini adalah Gedung Freemason (Loge), sebab ada tulisan Villa Arbeid Adelt, nama yang sama dengan Loge di Makassar.
Tanpa dokumentasi memadai tentu kejadian ini hanya menjadi penghangat perbincangan. Untuk membuktikannya, kami mencoba bervakansi ke masa lalu dengan mengacak-acak website arsip digital. Kami diberkati sedikit kemampuan untuk time travel ke belakang karena berkuliah di jurusan Ilmu Sejarah. Perlahan, semua kata kunci yang menyangkut bangunan tersebut telah kami coba telusuri, itapi tidak menemukan hasil memadai. Pada akhirnya, kami hanya berasumsi seperti informasi sebelumnya.
Rasa tak puas terhadap rahasia di masa lampau membawa kami ke sebuah keputusan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang merawat ingatan. Tiga bulan sebelum berganti tahun 2025, kami membangun ruang kolektif berbasis kliping arsip dan dokumentasi ingatan masyarakat lokal. Berbekal kemampuan amatir, kami menyuguhkan hasil riset tersebut melalui kegiatan walking tour. Kami berharap ruang yang kami bangun bisa menjadi medium belajar bersama serta hiburan warga dan teman-teman mahasiswa lainnya. Syukur-syukur bisa mewadahi dan mewakili mereka yang tak terwakili.
Keluh dan Peluh Kerja Meramu Arsip
Berkat ruang kolektif inilah kegiatan meramu arsip seakan menubuh dalam keseharian kita. Dengan penuh kesabaran serta ketelatenan, satu per satu ingatan berhasil kami temukan. Mulai dari asal mula terbentuknya kota hingga kisah perlawanan sehari-hari bumiputera.
Gairah kami semakin membara ketika puing-puing masa lalu telah terajut menjadi cerita. Melalui kerja ini, rasanya kami sedang berjalan-jalan melintasi ruang dan waktu. Kami membayangkan peristiwa sendu nenek moyang karena dekapan dominasi Belanda. Dari sini lah kerangka Orientalisme milik Edward Said tampak nyata. Melalui lukisan eksotis bentang alam Hindia hingga kesan biadab bumiputera, semua kami temukan di titik perjumpaan zaman – arsip kolonial.
Kerja ini memang tidak mudah untuk kami yang dapat dibilang amatir dan mencoba merealisasikan hasil belajar di kampus dalam bentuk praktek. Berjam-jam kami mengorek-ngorek pusat dokumentasi arsip walau hasilnya mengecewakan. Kami tidak menemukan dokumen dan foto yang dicari.
Meski begitu, kami berusaha untuk menjebol kebuntuan ini dengan menjumpai satu per satu orang yang lebih berpengalaman. Terkadang, kami sharing dengan dosen di luar mata kuliah atau pergi keluar kota untuk menemui kenalan yang memiliki ruang serta semangat serupa. Akhirnya, kami berhasil mendobrak satu persatu kata kunci. Hasilnya, arsip dokumen dan foto kolonial pun telah berada di tangan kami.

Arsip dan Perjumpaan Dua Zaman
Dari kerja-kerja meramu arsip, kami menyadari satu hal: arsip tidak hanya soal catatan administratif. Di baliknya, ada berbagai kisah manusia-manusia yang hidup di bawah lentera kolonial. Dari kuli kebun hingga babu kota, semua bertemu dalam lingkaran yang sama: dominasi Belanda. Meski kisah mereka tak begitu heroik daripada narasi sejarah pada umumnya, kehidupan sehari-hari mereka adalah pelajaran luar biasa.
Kami menjumpai salah satu dari ribuan kisah bumiputera yang berserakan dalam laporan kolonial. Dari dokumen “Kort Overzicht van Oprichting, Bestaan en Bedrijf der Onderneming Oud Djember”, wajah dominasi tampak nyata di ujung timur Pulau Jawa. Kekayaan hanya berpusar pada orang Belanda beserta kerabat dan keturunannya. Sedangkan nasib bumiputera berada di ujung telunjuk mereka; hidup sebagai kuli perkebunan untuk menyulam nasib kedepannya.
Ketika membaca halaman berikutnya, kami menemukan sebuah akumulasi kekayaan milik salah satu perusahaan perkebunan ternama di Jember bernama Landbouw Maatschappij Oud Djember. Akhir 1908, perusahaan ini menyimpan berbagai aset berupa 80 gedung penimbun tembakau, 60 rumah untuk tempat tinggal pegawainya yang berkebangsaan Belanda, 1 perusahaan transportasi bernama Panaroekan Maatschappij dan 440 gudang pengeringan tembakau.
Lalu seperti apa nasib bumiputera? Mereka bekerja sebagai kuli untuk perusahaan ini. Laki-laki bekerja di ladang, sedangkan perempuan dan anak-anak berada di gudang. Nasib mereka tidak semegah orang Belanda meski tampak baik-baik saja karena lapangan pekerjaan sebagai narasi citra beradab mereka.
Bagi sejarawan konvensional, fenomena ini tampak normal karena menerima dengan lapang seluruh isi arsip kolonial dengan dalil “no document no history”. Padahal, dokumen tersebut seharusnya menjadi jalan terjal untuk memahami kemanusiaan, seperti melihat tetes keringat nenek moyang yang berada di bawah bayang-bayang kekuasaan kolonial. Jika narasi pada umumnya menunjukkan hidup sejahtera bumiputera, kenapa mereka tidak memiliki kekayaan serupa?
Siasat Kami Hari Ini dan Selamanya
Setelah beberapa kali meneropong catatan hidup bumiputera di selembaran arsip Belanda, kami menyadari fenomena historiografi negeri ini. Garis masa lalu hanya melukiskan orang-orang besar dan menerima dengan lapang hasil catatan kolonial tanpa analisis struktural. Begitu ironis wujud dominasi; ia tidak hanya tampak di reruntuhan pembangunan namun juga telah merongrong pikiran.
Sebabnya, kami memilih jalan alternatif dengan membangun cerita dengan menentang pikiran konvensional. Kami ingin menciptakan turbulensi historiografi yang mengekang sumbu-sumbu pembebasan. Melalui tumpukan berkas dokumen lama hingga catatan sehari-hari rumah tangga, kami belajar satu hal krusial: meramu dan membaca arsip adalah bagian dari memahami kemanusiaan.
Pada akhirnya, kerja ini menuntun kami ke lorong terdalam kisah moyang. Kami belajar arti penting kemanusiaan dengan menapaki perjalanan imajinasi. Kami bercita-cita merajut cerita masa lalu dengan nuansa kejujuran. Nasib bangsa tidak pernah benar-benar sejahtera, entah oleh Belanda atau Indonesia.
Kini kerja meramu arsip bukan lagi sekedar menubuh atau menjadi kebiasaan semata. Kerja ini membara menjadi siasat kami untuk senantiasa merawat ingatan mereka yang disingkirkan. Jika sejarah adalah medan pertarungan, maka kami akan berperang untuk merebut nasib manusia marjinal di masa lalu, hari ini dan masa depan. Untuk kemanusiaan.
Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto Sampul: Facebook/Jrenx Jbr
