R-r-r-remox Bersama Prontaxan, Funkot Gila Asal Yogyakarta

dok. Adi Atmayuda

Pergerakan musik koplo di Nusantara memang bisa dibilang sangat masif. Belakangan, lebih sat set sat set ketimbang musik indie yang hari ini masih menjadi perdebatan banyak orang. Para penikmat musik koplo juga sangat beragam. Mulai dari muda-mudi, pensiunan, sopir angkot, kuli bangunan, dan banyak profesi pekerjaan lainnya pasti sudah mendengarkan musik koplo. Meskipun, seseorang mungkin hanya dengar sambi lalu sekali seumur hidup.

Persebaran jenis musik ini seakan sudah digariskan akan menjadi tradisi sedari dulu. Koplo juga tidak pernah terkecualikan saat ada hajatan di kampung sebelah.

Meskipun sering dicap sebagai musik yang kampungan dan norak, nyatanya musik jenis koplo ber-kendang yang dinyanyikan penyanyi misalnya, Via Vallen dan Nela Kharisma tetap laku keras di pasaran. Belakangan, waktu membuktikan, hal itu justru mendorong eksistensi musik koplo meroket. Koplo jadi semakin ramai untuk dinikmati semua kalangan.

Bergeser dari koplo ber-kendang, mari kita simak ke irisan koplo yang lebih rancak bernama funky kota atau karib disebut funkot.  Sebagai gambaran, musik jenis ini memiliki ritme yang lebih cepat. Tempo yang dimainkan sekitar 160 hingga 220 bpm dan biasanya menggunakan triple bass kick, synth dengan pitch yang tinggi.

dok. Adi Atmayuda

Funkot biasanya me-remix musik yang sudah lebih terkenal. Rumus ini nyaris tidak pernah gagal membuat kerumuman berantakan. Musik jenis ini juga kerap dimainkan Disc Jokey (DJ) di panggung-panggung gemerlap dunia malam.

Prontaxan merupakan salah satu dari sekian banyak kolektif yang berkarya dengan menggunakan unsur funkot di dalamnya. Group kolektif asal Yogyakarta yang terdiri dari Uji Hahan, Yahya Dwi Kurniawan, Egha, dan Lana Pranaya ini berkibar sejak tahun 2018 di Indonesian Netaudio Festival.

Prontaxan tentu saja masih aktif sampai sekarang. Kehadiran mereka dalam bermusik menggunakan sentuhan remix funkot akhir-akhir ini justru semakin ramai memeriahkan acara-acara gigs. Atau lebih tepatnya, menciptakan suasana disko darurat di tepi-tepi kota Jogja.

Jiwa-jiwa hipster tampaknya belakangan ini sedang tumbuh dan nge-tren di sini. Meskipun panggung Prontaxan tidak digelar di  diskotik ternama, tapi nuansa panggung joget yang dibawakan Prontaxan tidak kalah gemerlap a la-a la klub berbintang.

Baru-baru ini, ada panggung Prontaxan yang saya sambangi di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu (6/3/2022). Panggung ini bertepatan dengan hari terakhir acara Artsy Exhibition 2022 yang diselenggarakan muda-mudi Jurusan Fotografi dari kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Meskipun pameran ini berlangsung hanya dalam hitungan hari, acara ini tetap menjadi arsip tersendiri untuk teman-teman fotografi dan menjadi ajang bertemunya banyak orang penyuka dunia kesenian.

Sengaja janjian datang untuk bisa bertemu dengan salah satu teman, sore itu saya melihat kondisi di sekitar gedung TBY ramai. Banyak muda-mudi bergerombol dengan teman mereka, beberapa dari mereka terlihat saling sapa dan mungkin saja menemukan teman baru.

dok. Adi Atmayuda

Tim panitia acara, sedang sibuk mempersiapkan beberapa aksesoris panggung untuk acara Sunday Gigs malam hari. Sembari menunggu acara puncak Sunday Gigs, saya mencoba berbaur dengan beberapa orang di sekitar. Bermodalkan rokok dan korek pinjaman, kenekatan itu menjadi ruang tunggu yang baur bersama dengan unek-unek obrolan. Sebuah suasana yang lebih dari cukup untuk siap-siap remoxxx bersama Prontaxan.

Acara yang lebih dulu terisi oleh No Money dan Discocycle  makin ramai seiring berjalannya waktu, kerumunan memadat. Malam yang penuh gemerlap warna-warni dan gerimis di luar gedung TBY membuat panggung  suasana justru semakin semarak. Saling goyang dan berdempetan menjadi pandangan yang lumrah di setiap sisi.

Terlihat,  beberapa rombongan yang baru datang tanpa canggung langsung mendekat untuk berbaur di kerumunan sekitar panggung. Sepertinya beberapa orang sengaja hadir terlambat dan langsung datang di acara puncak hanya untuk merasakan atmosfer panggung Prontaxan.

Setelah Master of Ceremony alias MC acara memberikan sambutan juga aba-aba untuk audience, Prontaxan langsung sigap mempersiapkan beberapa perlengkapan juga amunisi untuk segera naik ke panggung. Dibantu pernak-pernik gemerlap lampu, juga sound system yang nge-bass poll. Panggung rasa pingiran kota Jogja ini sudah pasti bakalan remoxxx bersama Prontaxan.

Adapun hal unik dari Prontaxan yang saya amati adalah gaya remix mereka. Dari setiap performance-nya, Prontaxan biasa membawakan lagu-lagu indie yang nge-top. Sebut saja lagu berjudul Evaluasi dari Hindia.

dok. Adi Atmayuda

Tak hanya itu, Prontaxan juga mengaransemen lagu lainnya seperti Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan dari Payung Teduh, dan salah satu lagu favorit saya dari Efek Rumah Kaca berjudul Cinta Melulu.

Jangan heran kalau di tengah-tengah lagu, terdengar celetukan-celetukan yang mengembangkan senyum di wajah. Misalnya teriakan, “Bos angpaunya dong!” atau “Prontaxan is the best, Prontaxan anti gores!”. Biasanya setelah drop dengan celetukan-celetukan tersebut, lagu akan digeber lagi sampai kecepatan maksimumnya.

Prontaxan seolah ingin menepis eksistensi musik dari kelas tertentu, yang mana sekarang ini rasanya seperti apa-apa serba indie. Musik Prontaxan justru terasa tidak berpihak ke manapun, mereka menjembatani siapa saja yang ingin melepaskan emosionalnya di lantai dansa. Musik Prontaxan menjadi obat hiburan rakyat lebih lagi muda-mudi Jogja yang haus akan acara gigs dan siap merangkul siapa saja tanpa melihat strata sosial yang ada.

Ke-remuxxx-kan lainnya juga dihadirkan lewat beberapa video-video absurd yang diunggah di kanal YouTube Prontaxan. Lagu berjudul Evaluasi, atau Cinta Melulu dari kelas indie ternama digarap dengan visualisasi yang meme-able. Kedua video itu absurd juga nyleneh, tetapi tetap memiliki konsep dan pesan yang asik juga serius.

Malam yang semakin larut seolah bukan halangan bagi siapa saja yang ingin mengeluarkan hasrat bersenang-senang. Panggung lantai dansa di TBY malam itu dan musik yang dibawakan Prontaxan menaikkan adrenalin penonton sampai mentok.

Malam itu, tidak ada yang namanya anak indie, anak metal, anak hippies, anak pop, anak rock, maupun anak layangan. Sebab saat di dalam lantai dansa Protaxan, semuanya sama. Yang jelas, saat Prontaxan bertugas mengambil alih panggung dengan tenaga mitsubishi, orang-orang pasti menggila.

Dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang!

Prontaxan is the best, Prontaxan anti gores!

r-r-r-remoxxx bro!!!

 

Editor: Tim Sudut Kantin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Posts