Menyelami Condongcatur Melalui Pameran Seni ‘Tur Berbisik’

Belajar mengenal sejarah Condongcatur, Yogyakarta melalui praktik kolaborasi di pameran seni rupa ‘Tur Berbisik’ di Rumah DAS.

Kegiatan seni rupa memiliki banyak manfaat, yaitu melestarikan seni rupa, meningkatkan kreativitas, dan menjadi sarana penyaluran hobi. Seni rupa juga berpotensi untuk memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu, kreativitas dalam bidang seni rupa perlu terus dikembangkan dan difasilitasi.

Pameran seni rupa bisa jadi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan dan memfasilitasi kreativitas seni rupa. Selain itu, pameran seni rupa juga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kekayaan seni budaya kepada masyarakat.

Pameran seni rupa Tur Berbisik adalah program seni dan budaya yang diinisiasi oleh Rumah DAS (Dyan Art Studio) untuk mengeksplorasi ruang-ruang sosial dan budaya di Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. Berangkat dari sebuah keresahan yang dimiliki sang pemilik Rumah DAS, Dyan Anggraini; untuk mencari tahu dan melihat dinamika yang terjadi, baik itu sejarah ataupun cerita-cerita yang tersimpan di tanah Condongcatur.

Program ini sudah berlangsung selama lima bulan, dari bulan Juni hingga Oktober 2023. Hasil riset dan residensi mini dari eksplorasi yang sudah berjalan, ditampilkan dalam bentuk pameran di galeri Rumah DAS mulai tanggal 5 November sampai 5 Desember 2023.

Tur Berbisik sudah direncanakan hampir setengah tahun yang berangkat dari keresahan Dyan, sebagai pemilik DAS. Puluhan tahun berada di wilayah tersebut, Dyan merasa tidak mengetahui sejarah secara geografis ataupun secara cerita tentang Condongcatur itu seperti apa.

“Dari situlah Dian mulai menelisik bagaimana tumbuh kembang Condongcatur,” ujar Karen salah satu kurator dalam pembukaan Tur Berbisik.

Pameran Tur Berbisik di Rumah DAS Condongcatur (dok. Gilbert Natanael Pardosi)

Pameran ini dapat dimaknai ke dalam beberapa pengertian. Kata “Tur” merujuk pada potongan akhir dari suku kata “Condongcatur”. Namun lebih dari itu, kata itu memiliki arti yang lebih luas dari sekadar nama sebuah tempat.

“Tur” juga mengacu pada banyak hal di sekitar kita, seperti pitutur; nasihat, tur (keliling), teratur, literatur, matur, berbisik pelan mencari informasi, gestur, kostur, lentur, multikultur, struktur, agrikultur, guntur, hatur, dst.  Kata-kata tersebut hadir bukan saja sebagai kata-kata, tetapi membungkus lanskap dari “Kultur Urban” di wilayah ini.

Sedangkan kata “Berbisik” adalah aktivitas yang dilakukan dengan perlahan, hati-hati, dan penuh perhatian. Aktivitas ini dapat berupa berbicara pelan, melakukan sesuatu dengan gerakan halus, atau berjalan dengan hati-hati. Berbisik juga merupakan upaya untuk memahami dan merespon situasi dan fenomena pergerakan urban yang semakin cepat. Pergerakan ini dapat mengubah geografi dan pola masyarakat pedesaan menuju kota masa depan.

Penyelenggaraan kegiatan ini mencoba membangun kolaborasi pentahelix, yakni melibatkan sektor pemerintah, swasta, akademisi, media massa, dan masyarakat atau komunitas, untuk pemberdayaan seniman dan masyarakat, untuk membaca ruang dan waktu, serta mempresentasikan imajinasi dalam satu karya seni. Hal ini dibuktikan dengan adanya dukungan dari Dinas Kebudayaan DIY, kolaborasi dengan beberapa perupa, dan masyarakat sekitar sebagai pendukung proses riset dan pemilihan beberapa wilayah.

Dalam Tur Berbisik, transformasi fenomena budaya tersebut diusung melalui proses yang dimatangkan selama hampir 6 bulan yakni periode kelas pendek, periode hunian (residensi mini), proses pembuatan karya, presentasi karya, dan pembuatan buku pada akhir tahun ini. Pada proses ini Rumah DAS melibatkan secara berkala lima seniman yang berkolaborasi dengan beberapa dusun dan pemuda di sekitar Condongcatur.

Para seniman dipetakan untuk melakukan riset secara mandiri, yaitu mendatangi dan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat atau membaca penelitian-penelitian dari tim kurator dan tim peneliti yang telah mengumpulkan data mulai dari mitos, kebudayaan dan keseniannya selama enam bulan, di wilayah Condongcatur. Pada hasil akhirnya, para perupa akan menerjemahkan temuan-temuan tersebut secara artistik.

Lima seniman yang terlibat yaitu, Citrus Studio, Bawayang Production (kelompok inklusi), Utami Atasia Ishii dan Nani Nurhayati, Novi Kristinawati, dan Moelyono.

Kolektif Citrus Studio memulai riset di dua dusun yaitu Kayen dan Pondok dengan Turonggo dan Bambu sebagai ide dasar temuannya.  Kemudian Bawayang Production, komunitas inklusi hadir dengan wayang dan bayangan yang pada prosesnya bertemu serta melakukan proses edukasi tentang tanaman Bunga Gambir yang dipertunjukan di hadapan para pemuda sekitar Dusun Tiyasan.

Utami Atasia Ishii dan Nani Nurhayati mengeksekusi temuannya tentang Dusun Joho yakni membicarakan sungai dan pasar sebagai trayektori ruang pertemuan, persinggungan, pergeseran, dan distribusi kultural. Sedangkan Novi Kristinawati hadir dengan menyodorkan fenomena sosial antara yang Utara dan Selatan Ringroad dari wilayah Condongcatur.

Melalui instalasi bambunya ia merespons tangga sebagai bentuk dari ruang transisi tidak di atas dan di bawah. Selalu ada batas yang jelas antara urban dan rural, atas dan bawah, perbedaan status sosial. Novi mencermati karakteristik dua sisi tentang bagaimana perkembangan secara geografis dan signifikansi pembangunan yang nampak sebagai fenomena urbanisasi yang cepat.

Sementara Moelyono hadir dengan presentasi yang konseptual tentang kehidupan Rusunawa di Dusun Dabag. Bersama Yina Iswati (Ayin) seorang koordinator Posyandu Rusunawa, Moelyono membicarakan konteks kemanusiaan atas konsep ruang rusunawa yang modernism. 

Melalui arsip, artefak, dan proses riset bersama tentang praktik-praktik Ayin yang memilih tinggal di rusunawa, juga memilih untuk setia mengupayakan hak dasar hidup anak melalui posyandu yang memiliki fungsi mendeteksi keberlangsungan hidup sebagai tugas kemanusiaan di tengah dinamika kultural yang terjadi.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Gilbert Natanel Pardosi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts