Apa yang terjadi pada Minggu pagi itu adalah sebuah perjumpaan yang pelan dan menghangatkan. Srawung Sastra—kegiatan berbagi karya dan cerita yang diinisiasi komunitas sastra Tukar Akar—kembali digelar. Pada 23 November 2025, aku menjadi salah satu yang berangkat untuk ikut merayakan puisi. Kami berangkat berombongan, meninggalkan hiruk pikuk pusat kota Jogja menuju sebuah tempat yang, kata orang, tanahnya begitu subur hingga kata-kata pun bisa tumbuh di sela-sela napasnya.
Perjalanan sekitar dua puluh menit membawa kami tiba di Piwulang Padepokan Sastra dan Seni. Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh Ibu Evi Idawati—penulis, seniman, sekaligus aktor—yang menyapa dengan kelembutan seseorang yang sudah lama bersahabat dengan kata. Ia mengajak kami duduk di pendopo dan seolah mempersilakan kami meletakkan kata-kata di meja tamunya.
Tempat ini ternyata lebih dari yang aku bayangkan. Di sini, di antara kesyahduan yang jauh dari bising kendaraan, di pinggir sebuah sungai kecil udara bergerak lebih pelan. Sementara pohon-pohon menjulang menjaga siapapun yang ada di bawahnya dari panas matahari. Di antara mereka berdiri, sebuah pendopo sederhana, atapnya teduh, lantainya hangat, seperti ruang yang dengan sabar menampung siapa pun yang ingin bercerita.
Tak jauh dari sana ada sebuah pondok kecil yang di dalamnya bersemayam rak-rak buku yang tak hanya berdiri, tapi benar-benar bersemayam, seolah buku-buku itu hidup dan sedang beristirahat menunggu tangan-tangan yang ingin membelainya.
Beberapa kursi kayu tersebar di sudut-sudut halaman, tempat paling tepat untuk singgah, memikirkan sesuatu yang terlewat, atau sekadar membiarkan diri diliputi keheningan yang ramah.
Kami datang bersama teman-teman dari Universitas Atma Jaya, yang pagi itu melakukan liputan kegiatan komunitas sastra di Jogja sebagai tugas ujian mereka. Bersama mereka, kami duduk di pendopo dan dengan khidmat mendengarkan cerita serta pengalaman yang disampaikan oleh Ibu Evi Idawati, sebuah pembukaan yang membuat pagi itu terasa seperti kelas tanpa jadwal, tapi penuh pelajaran.

Ibu Evi membuka cerita pagi itu dengan perkenalan singkat, lalu perlahan membawa kami menyusuri perjalanan panjangnya di dunia sastra—perjalanan yang menuntunnya pada keberanian untuk mendirikan rumah-rumah sastra. Sejak kecil ia sudah berteman akrab dengan puisi bahkan dari puisilah ia pertama kali mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di SD dan SMP.
Persahabatan itu berlanjut hingga bangku kuliah, meski langkahnya sempat berbelok. Ia memilih Teater di ISI Yogyakarta, sebelum akhirnya kembali melanjutkan studi di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan. Namun, rasa haus belajarnya belum tuntas, ia kemudian kembali ke ISI dan mengambil program Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni.
Keaktifannya di dunia teater membawa banyak pencapaian, salah satunya penghargaan sebagai pemeran terbaik yang membuka jalannya ke layar kaca melalui sinetron 1 Kakak 7 Ponakan (1996), sebuah sitkom populer yang ditayangkan RCTI. Dari panggung ke layar, dari ruang latihan ke ruang baca, perjalanan itu mempertemukannya dengan banyak tokoh dan penulis besar. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Bapak Iman Budi Santoso, dari beliaulah Ibu Evi belajar banyak tentang sastra, terutama puisi.
Dengan nada setengah bercanda ia mengaku bahwa hidupnya seperti terkena “kutukan” karena mencintai sastra terlalu dalam. Namun justru dari cinta yang tak pernah padam itulah lahir beragam karya mulai dari puisi, cerpen, novel, naskah drama, hingga antologi bersama para penyair lainnya.
Atas dorongan banyak pihak dan terutama karena cintanya sendiri yang tak kunjung reda, akhirnya Ibu Evi memutuskan untuk mendirikan sebuah rumah sastra. Dari ruang kecil itulah ia mulai menularkan kecintaannya pada kata-kata mulai dari mengenalkan sastra kepada anak-anak, mendampingi remaja menulis puisi, hingga membimbing proses penciptaan karya pertama mereka. Seiring berjalannya waktu, langkah itu berkembang menjadi Sekolah Puisi Yogyakarta, wadah yang ia dirikan untuk memberi ruang belajar yang lebih luas dan terarah.
Tidak berhenti di situ, rumah sastra pertamanya di Banguntapan rupanya masih menyisakan banyak mimpi. Maka ia kembali melebarkan sayap, mendirikan rumah sastra kedua di Sedayu, Bantul, yang kemudian ia beri nama Piwulang Padepokan Sastra dan Seni—tempat yang pagi itu sedang kami duduki. Sebuah tempat yang bukan hanya berdiri sebagai bangunan, tetapi sebagai pernyataan bahwa sastra selalu membutuhkan rumah untuk tumbuh.
Dari rumah-rumah sastra yang ia dirikan, banyak muridnya yang berhasil menjuarai lomba-lomba sastra. Bahkan, ada anak-anak yang sengaja diantarkan orang tuanya ke sana demi mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional. Namun rumah sastra itu tidak hanya dipenuhi anak-anak, di sana juga ada remaja, mahasiswa, hingga ibu-ibu pejabat yang meminta dibimbing membaca puisi, kadang untuk tampil di depan sesama pejabat, kadang hanya untuk menenangkan hati sendiri.

Setelah Ibu Evi banyak menceritakan pengalamannya, kini ia bersedia untuk mendengarkan, maka sesi diskusi kemudian dibuka. Ibu Evi mempersilakan siapa pun untuk bertanya atau hanya sekadar bercerita, dan hampir semua yang hadir langsung mengangkat tangan. Antusiasme itu seperti menandai bahwa pagi itu kami bukan hanya mendengarkan, tetapi juga mencari arah, menguji keyakinan, dan menyusun mimpi masing-masing. Pertanyaannya beragam mulai dari tentang buku yang membentuknya, tokoh-tokoh yang mempengaruhi proses kreatifnya, hingga tantangan hidup sebagai penulis.
Aku pun tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Ketika tiba giliranya, aku menanyakan hal yang paling dekat dengan hatiku saat itu yaitu rumah sastra dan puisi. Aku menjelaskan bahwa aku memiliki mimpi yang mirip, ingin punya rumah kecil yang ramah bagi siapa saja yang ingin membaca atau merayakan sastra. Namun tantangannya adalah aku tinggal di kabupaten kecil yang tak sebesar Jogja, di mana di daerahku aktivitas sastranya tidak sekuat kota ini. Karena itu aku bertanya tentang bagaimana cara membangun rumah sastra versi kecil di daerahku? Tidak harus sehebat rumah sastra milik Ibu Evi, asal bisa menampung kanan-kiri dan meningkatkan literasi anak-anak di daerahku, maka dari itu, dari mana aku harus memulai?
Ibu Evi menjawab pertanyaan itu dengan cara yang sederhana, namun justru pada kesederhanaannya, aku menemukan sesuatu yang selama ini aku cari. Ia berkata bahwa mendirikan rumah sastra bukanlah perkara mudah, terlebih di Indonesia, di mana sastra sering kali dianggap “asing” dan jauh dari keseharian masyarakat. Tetapi ia menekankan satu hal yaitu percaya.
Ia menyarankan untuk memulai semuanya dari diri sendiri. Ia menganalogikannya dengan api unggun, jika kita mau menyalakan api kecil, merawatnya, menambahkan kayu bakar, dan membiarkannya tumbuh perlahan-lahan, suatu saat api itu akan menjadi besar. Ketika api itu menyala terang, orang-orang akan datang dengan sendirinya, bukan karena dipaksa, tetapi karena mereka butuh kehangatannya.
“Asal dilakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas, semua pasti akan ada jalannya,” katanya dengan yakin. Ia juga membuka ruang konsultasi atau sekadar bercerita lebih tentang ketertarikanku membuat rumah sastra.
Tak berhenti pada pertanyaan tentang rumah sastra, aku pun menambahkan satu pertanyaan lagi, kali ini untuk menanyakan soal puisi. Belakangan ini aku tertarik menggarap sebuah buku kumpulan puisi dengan bahasa yang sengaja kubuat sederhana, karena aku memang ingin membuat puisi dengan bahasa yang akrab di telinga mereka yang hidup di pinggiran, di kelas menengah ke bawah, di tempat kegelisahan sering berbaur dengan kelucuan dan umpatan tampa harus memikirkan diksi dan rima yang njlimet. Karena itu aku bertanya tentang pakem puisi, sejauh apa puisi bisa ditulis sebebas-bebasnya, dan batas mana yang tetap harus dijaga.
Ibu Evi menjawab dengan kelembutan yang membuat seluruh ruangan kembali tenang. Ia berkata bahwa puisi, pada dasarnya, lahir dari momentum, momentum itu tidak harus selalu peristiwa yang besar, cukup dari momentum yang sederhana yang menetap di dalam diri setelah dunia berlalu begitu cepat. Momentum itu kemudian kita olah menjadi kata-kata yang sanggup menggerakkan sesuatu, entah hati, ingatan, atau keberanian seseorang.
Ia juga menekankan pentingnya membaca puisi karya orang lain. Menurutnya, ada banyak sekali nafas dalam puisi. Jika kita hanya membaca dan menulis satu jenis puisi, kita bisa terjebak merasa bahwa gaya itu yang paling benar, padahal dunia puisi jauh lebih luas daripada selera kita sendiri.
Lalu ia juga mengutip pelajaran yang ia dapat dari Pak Iman Budi Santoso, bahwa menulis puisi bukan semata-mata perkara teknik atau rima, melainkan sejauh apa puisi kita dapat menyentuh dan berpengaruh pada hajat hidup orang banyak. Kata-kata harus mencari rumahnya, dan rumah itu adalah hati pembaca.
Pertanyaan dan pembahasan berjalan interaktif dan menyenangkan, membuat hari itu berjalan terasa lebih cepat. Tiba-tiba saja matahari sudah condong ke siang, dan sesi perbincangan pun ditutup dengan penampilan beberapa peserta yang dengan sukarela membacakan puisi mereka—sebuah penutup kecil yang manis.
Kegiatan Srawung Sastra ini sebenarnya dilanjutkan dengan jalan-jalan ke pantai sebagai cara untuk lebih mengakrabkan anggota komunitas Tukar Akar sekaligus berkenalan dengan kawan-kawan dari Universitas Atma Jaya, akan tetapi Jogja punya kemauan lain, ia kembali membasahi tubuhnya dengan hujan yang turun dengan rapat dan lembut.

Alhasil kegiatan itu kami ubah jadi ngobrol santai tetap di Rumah Sastra sambil sekalian menikmati tempat itu diguyur hujan dan ternyata hari itu tak ada tampat yang lebih pas untuk menikmati hujan selain di sana. Gemercik aliran sungai, aroma tanah basah, dan daun-daun yang bergoyang terkena tetesan air menemani kami berbincang satu sama lain.
Kami hanyut dalam suasana itu, percakapan kami justru semakin dalam. Kami mulai saling mengenal lebih jauh, menanyakan bagaimana masing-masing pertama kali berkenalan dengan sastra, penyair mana yang mula-mula menggugah, hingga keresahan kecil yang diam-diam kami bawa dalam perjalanan hidup masing-masing. Hujan membuat kami berteduh, tapi kata-kata membuat kami saling menemukan.
Ketika akhirnya hujan tinggal menjadi rintik-rintik, kami pun pulang dengan hati yang hangat dan kepala yang penuh dengan cerita. Ada yang kembali ke kota, beberapa melanjutkan dengan ngopi bareng, dan aku memilih pulang ke ruang sepi.
Ada satu hal yang pasti ku ingat setelah dari Rumah Sastra itu, aku merasa seakan sedang menulis sekaligus membaca satu halaman baru dari hidupku sendiri, halaman yang mengingatkanku bahwa kata-kata bisa menjadi rumah, pertemuan bisa menjadi doa, dan keberanian mengejar mimpi selalu dimulai dari langkah kecil yang paling jujur. Aku pulang dengan sedikit lebih percaya pada mimpiku sendiri, dan lebih yakin bahwa sastra akan selalu punya tempat, asal nyalanya selalu dijaga, sekecil apa pun itu.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Biwara Nala Seta
