Surat Untuk Ambu, Catatan Pementasan Teater Samana

Simak ulasan pementasan Teater Samana bertajuk “Pada Sebuah Pekarangan #2: Gegabah” dalam bentuk sepucuk surat dari anak untuk ibunya.

Ambu, malam minggu ini Ujang mengunjungi pementasan teater kawan di Bandung. 10 Januari 2026, malam minggu Ujang jalan-jalan ke Tjap Sahabat sama Neng Di di Cibadak. Ujang ketemu dengan kawan-kawan lama. Ada juga kawan baru. 

Kawan Ujang, Uta, yang punya acara hari itu, jalannya pakai tongkat. Habis kepeleset katanya. Kasihan. Cerita yang Uta pentaskan pada malam itu juga sangat kasihan, penuh tragedi. 

Ujang sama Neng Di masuk ke ruang pementasan, sudah gelap. Neng Di duduk di kursi sedangkan Ujang duduk di lantai sama kawan. Pementasannya dimulai. 

Ada hajatan ternyata, Mbu! Tokoh-tokohnya baru pada nikah. Alhamdulillah pengantin baru. Kedua pengantin yang diperankan oleh Turmudzi dan Nadia masuk ke rumah langsung ngencuk. Dasar pengantin baru, baru selesai hajat langsung dar der dor.

Posisi Ujang menonton seperti mengintip dari jendela rumah. Tidak banyak yang bisa dilihat awal-awal. Namun, ketika adegan mulai berjalan, semuanya langsung terlihat. 

(dok. Aditya Martin)

Ada tumpukan cucian kering belum disetrika, ada dapur sederhana dan meja makan di tengahnya. Tidak lupa juga motor jadul yang diparkir di tengah-tengah rumah. Tipikal kontrakan pasangan muda yang tinggal di kota, Mbu, tidak ada sekat yang memisahkan ruang-ruang di antaranya.  

Tokoh yang baru nikah tersebut, Ujang sebut di surat ini sebagai Ibu dan Bapak. Mereka berkegiatan seperti bapak pekerja dan ibu rumah tangga pada umumnya bergerak secara repetitif. 

Gerakan yang sama, pola yang sama diulang terus-menerus sampai tempo pergerakannya naik. Suasana pecah ketika pasangan Ibu-Bapak mulai memasak sembarang, menyetrika berantakan, mencuci pakaian bersih, mengendarai motor secara sembarang. Suasana pementasan menjadi berisik.  

Mungkin ini sama seperti apa yang Abah dulu pernah ceritakan ke Ujang, ketika kamu sudah dewasa nanti kamu akan terus melakukan hal yang sama sampai mati. Ujang jadi bertanya-tanya, Mbu. Apakah Ujang dan Neng Di akan menjadi seperti itu nanti ya, Mbu? Kami menikah, punya anak, jadi tua dan membosankan seperti tidak ada kebahagian di dalamnya. 

Sembari pasangan Bapak dan Ibu berkegiatan, ketiga aktor lain mulai bergerak juga. Ketiga aktor ini, terus bermain di kamar mandi. Iya, Mbu. Kamar mandi. Cuman pakai baju renang. Kasihan mereka, Mbu. Kedinginan. Mereka kelihatannya ketakutan bu. 

Anak perempuan yang diperankan oleh Bita bermain dengan bebek karet yang terkadang ketika mendengar suara pecah belah di dapur tubuhnya mengecil, Ada juga anak perempuan lain yang diperankan oleh Gerda sambil menggambar dengan pensil warna ketika suara kaca pecah dari kamar menjadi berantakan gambarnya (tapi karena Ujang hanya menonton dari jendela, sayang posisi anak perempuan ini tidak begitu terlihat), dan Anak yang laki-laki diperankan oleh Bagus, seperti dikejar-kejar hantu.

(dok. Aditya Martin)

Bulak-balik ke kamar mandi hingga memutuskan untuk masuk ke dalam jolang. Mereka bergerak pelan, Mbu. Seperti selalu siaga. Tubuhnya tegang, matanya sayu kelelahan, gerak tubuhnya mengecil tidak pernah membesar. 

Mereka bertiga sepertinya anak kondom bocor, Mbu, tidak diharapkan sama orang tuanya. Ketidaksiapan tokoh Ibu dan Bapak jadi membuat tokoh anak-anak terus berdiam di kamar mandi. Tapi ketika dipikir-pikir kembali, apa jangan-jangan mereka dihukum dimasukkan ke kamar mandi sama orang tuanya ya? 

Suasana makin berantakan. Isi rumah berantakan. Dapur kotor. Kaca di kamar pecah. Air bocor. Setrika masih menyolok, dan motor masih menyala. Tokoh Ibu dan Bapak sudah tidak berfungsi, Mbu. Mereka jadi manekin. Suasana menjadi sepi. Akan tetapi, aktor para anak-anak menyadari sesuatu yang lain. 

Anak-anak itu mengambil alih rumah tangga yang sudah tidak berfungsi itu. Mereka membereskan rumah tanpa bisa membereskan isi kepalanya sendiri. Mereka merapalkan mantra, Mbu. 

Mantranya seperti:

Seharusnya ada yang mengajariku untuk memakai baju”,
Seharusnya ada yang mengajariku membaca buku”,
Seharusnya ada yang menyirami tanaman”, dan
Seharusnya ada yang mengajariku berdoa.”

Anak-anak memosisikan diri mereka di tengah kekacauan rumah yang seharusnya menjadi tempat aman untuk mereka. Mereka bahkan memosisikan tubuh orang tua mereka. Namun karena sepertinya kedua orang tuanya berat, tokoh anak-anak kelihatannya kebingungan untuk memosisikan orang tuanya dan atau mungkin mereka juga tidak tahu bagaimana memosisikan diri sebagai orang dewasa. Anak-anak juga sepertinya agak kesulitan berartikulasi karena mungkin tidak pernah diajarkan oleh orang tuanya untuk menyampaikan suaranya dengan lantang. 

Situasi makin datar, makin menurun. Setelah anak-anak membereskan dalam rumah dan memosisikan kedua orang tuanya duduk di kursi, mereka akhirnya memosisikan diri mereka di antara kedua orang tuanya. 

Agak lama tenang, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke rumah membawa kamera, memotret ke arah rumah, memotret ke arah Ujang yang ada di bagian penonton, dan akhirnya memotret anggota keluarga yang paling tidak harmonis yang Ujang pernah lihat. Jepretan demi Jepretan habis merekam manusia dalam rumah yang paling kacau dengan manusia-manusia yang paling kacau juga. 

Pertunjukkan selesai. Semua bersorak-sorai, ada yang menyalami para tim pertunjukkan, ada yang berkumpul dengan kawannya, ada juga yang pergi ke pojokkan untuk menyalakan barang satu batang rokok. Pertunjukkan berakhir, Mbu. Ujang coba berkeliling melihat sisa-sisa artistik yang ditinggalkan oleh para aktor. 

(dok. Aditya Martin)

Apakah gundukan pakaian yang belum disetrika, jolang berisi air yang tumpah, kemudian kaca yang pecah di sudut ruang ini memberikan arti setelah mereka ditinggalkan ya, Mbu? Barang-barang tersebut ditinggalkan sama seperti cerita semua tokoh Mbu. Mereka seperti dipaksa bersatu untuk menjadi satu cerita utuh, untuk bisa penonton bawa dalam saku bajunya. 

Semua orang, Ujang kira akan pulang dengan membawa pertanyaan, refleksi, kritik atau mungkin malah hanya membawa data foto yang akan diarsipkan sampai memori telepon penuh. Ujang kira Samana berhasil menyampaikan pesan dari ceritanya, meskipun tentu dengan beberapa catatan. 

Seperti yang Ambu bilang yang masih Ujang ingat sampai sekarang, ketika kamu berhadapan dengan suatu fenomena, catatlah. Baik itu hal baik atau buruk, catat. Jangan semua telan bulat-bulat. Barangkali itu akan menjadi bekal pikiranmu di masa depan. Ujang rasa banyak situasi ganjil Mbu, sama seperti ketika menulis tulisan ini untuk Mbu. Tapi Ujang berharap surat ini juga bisa menjadi bekal masa depan Ujang. 

Pertunjukkan memang sudah selesai, Mbu. Namun Ujang tidak merasa selesai. Setelah selesai bercengkerama dengan kawan-kawan, juga dengan para aktor dan Uta si yang punya hajat, Ujang jadi bertanya-tanya, Mbu. 

Apakah kita akan benar-benar siap untuk menjadi orang dewasa yang seharusnya bertanggungjawab terhadap cerita yang kita buat? Kita melanjutkan hidup, bertemu dengan pasangan, menikah, kemudian mempunyai anak dan mungkin akan hidup dengan terus bekerja sampai mati.

Apakah kita sebenarnya bisa memilih hidup kita, Mbu? Apakah Ujang juga bisa memilih hidup Ujang yang tidak ditinggalkan Abah karena lari dengan perempuan lain? Apakah Ambu bisa memilih untuk tidak kawin dengan Abah dan pergi ke Taiwan untuk jadi TKI dan mungkin bisa bermimpi lagi, Mbu? Sungguh, Ujang tidak mengerti, Mbu. Pertunjukkan Teater Samana malam itu membuat Ujang mengopek luka lama dalam hati.

Ujang akan pulang ke rumah, bertemu Ambu. 

Semoga Ambu terus sehat. 


Editor: Agustinus Rangga Respati
Foto Sampul: Aditya Martin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Pasar Pagi: Kumpulan Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

Related Posts