Tutorial Mengunjungi Pameran Seni untuk Pemula

Simak tutorial mengunjungi pameran seni dan bagaimana cara menikmati karya seni untuk pemula.

“Setiap orang memiliki perbedaan latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang berbeda saat mengunjungi pameran seni.”

Bagi saya, atau mungkin juga Anda, setiap kali mengunjungi pameran seni selalu ada hal menarik untuk diperbincangkan. Demikian juga saat saya mengunjungi ARTJOG MMXXII: Arts in Common – Expanding Awareness 2022 di Jogja National Museum. Ketika memasuki ruang “Babad Disabilitas”, pandangan saya langsung tertuju pada sekawanan muda dan mudi berkumpul di sebuah karya. Setelah diperhatikan ternyata mereka sedang sibuk mengatur pose untuk selfie di depan karya tersebut. Mungkin jika dihitung mereka menghasilkan 10 foto selfie di depan 1 karya.

Dewasa ini, fenomena selfie dengan latar karya seni bukan hanya terjadi di ARTJOG. Banyak galeri, pameran seni, dan museum di dunia mengalaminya. Hal tersebut juga ditemukan dalam penelitian Lisa F. Smith, Jeffery K. Smith, dan Pablo Tinio di The Art Institute of Chicago, Amerika Serikat.

Dalam hasil riset mereka yang berjudul Time Spent Viewing Art and Reading Labels, dari total 356 pengunjung, 123 pengunjung melakukan selfie dengan karya. Ketiga peneliti awalnya melakukan riset sesuai dengan judul penelitian, tetapi setelah 1 hari pengamatan mereka menjumpai banyak pengunjung selfie dengan karya seni, kemudian mereka menyepakati untuk menyorotinya.

Penelitian di atas adalah temuan 7 tahun lalu, kemungkinan besar saat ini jumlah arties semakin meningkat di berbagai belahan dunia. Arties merupakan istilah yang diberikan oleh 3 peneliti tersebut kepada pengunjung yang ber-selfie ria dengan karya. Mereka juga menambahkan penjelasan mengenai arties:

“…that individuals want to quickly ‘consume’ the work without actually engaging (much) in its content.”

Berdasarkan dari fenomena di atas, tulisan sederhana ini mencoba memberikan tutorial bagi arties saat mengunjungi pameran seni. Lebih spesifik yaitu tidak memposisikan karya seni sebagai photobooth dan dapat mengapresiasinya dengan baik.

Jangan khawatir jika setelah mengikuti tutorial ini interpretasi Anda berbeda dengan orang lain. Hal tersebut wajar karena setiap orang memiliki perbedaan latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang berbeda.

1. Baca Wall Text

Ketika memasuki ruang pamer hal pertama yang akan Anda lihat adalah wall text. Bagian wall text ini jangan sampai Anda lewatkan karena memuat informasi tentang pameran yang ditulis oleh kurator, penulis, atau panitia pameran.

Informasi tersebut umumnya memuat tajuk pameran, wacana yang ditawarkan, dan karya yang dihadirkan. Memang, sering kali wall text yang dihadirkan menggunakan istilah-istilah yang merepotkan. Karya seni saja sudah sulit dipahami. Wall text pun tidak kalah rumitnya. Namun, tidak perlu diambil pusing cukup baca dan pahami semampu Anda.

2. Amati Karya

Anda mungkin pernah mendengar kalimat “dari mata turun ke hati”, seperti itu kiranya ketika mengapresiasi karya seni. Tetapi, melihat saja tidak cukup, perlu ditambahkan proses mengamati. Proses tersebut dimaksudkan agar dapat memahami atau menemukan apa yang membuat karya seni menjadi menarik.

Melalui “mengamati”, Anda akan melihat lebih dalam dan rinci sebuah karya. Misal, bagaimana seniman menorehkan kisah dan pengalamannya, mengomposisikan elemen-elemen visual, dan menyematkan simbol-simbol pada karyanya.

Hasil dari tahapan ini akan menempa pengalaman artistik dan penilaian terhadap karya seni. Selain itu, Anda dapat mengetahui kekuatan dan keunggulan dari setiap karya.

3. Dilarang menyentuh karya

Setelah melihat karya dengan seksama, tangan Anda mungkin terasa gatal ingin menyentuhnya. Jika keinginan tersebut muncul sebaiknya diurungkan dan lawan rasa itu! Menyentuh karya seni dan benda-benda koleksi museum sangat tidak diperbolehkan karena dapat mengotori dan merusaknya.

Mengutip dari ncartmuseum.org, tanpa disadari jari dan telapak tangan kita menyimpan endapan minyak, sel kulit, debu dan sebagainya yang dapat mengotori dan berpotensi merusak karya.

Sebagai contoh, karya dengan material logam yang terlihat kuat saja dapat korosi akibat sentuhan tangan manusia yang ternyata menyimpan kandungan mind acid. Maka jangan menyentuh karya!

4. Jaga jarak dan perhatikan langkahmu!

Setelah menemukan karya yang menarik untuk diajak ber-selfie, tolong perhatikan jarak dan langkahmu, Arties!

Beberapa galeri atau pameran seni belum menyediakan freestanding art barrier. Atau, mereka sengaja tidak menggunakanya karena mengganggu tampilan karya. Oleh karena itu, Anda dituntut untuk tidak terlalu dekat dengan karya. Terlebih ketika ingin selfie dengan latar karya. Memasuki ruang pamer seperti masuk ke taman bunga bertabur ranjau. Sedikit saja salah melangkah “taman bunga” akan menjadi rusak dan tidak akan sama lagi.

5. Dilarang foto menggunakan Flash

Jenis larangan ini umum ditemui di berbagai galeri seni dan museum, tetapi banyak juga pengunjung mengabaikannya. Larangan ini bukan karena khawatir figur dalam lukisan akan berkedip karena flash kamera, tetapi dampak buruk yang akan terjadi pada karya atau koleksi.

Terutama pada karya dua dimensi yang sudah berusia tua. Hal ini diperkuat dari sebuah jurnal hasil eksperimen yang dilakukan oleh David Saunder di Galeri Nasional London berjudul Photographic Flash: Threat or Nuisance? pada tahun 1995.

Poin dari eksperimen tersebut adalah flash kamera dapat mengubah warna pigmen pada karya lukisan. Kerusakan pada karya tersebut memang tidak terjadi secara langsung, tetapi jangka panjang. Mungkin analogi sederhananya seperti batu yang berlubang akibat terkena tetesan air terus-menerus.

6. Pulang membawa tanda tanya

Setelah puas mengamati karya seni, mengelilingi ruang pamer, dan memperbanyak stock foto untuk media sosial, adakah sebuah pertanyaan yang muncul di kepala Anda?

Misal, “Padahal cuma lukisan corat-coret doang kok ada yang suka?” atau “Di caption ngomongin politik tapi kok isi karyanya binatang semua?”.

Jika pertanyaan sejenis itu muncul, bisa jadi itu sebagai pertanda bahwa Anda menyimak pameran tersebut dan menyulut rasa keingintahuan tentang seni lebih dalam. Jika tidak, coba periksa lagi tujuan awal Anda datang ke pameran seni.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Solo Exibition Galih Reza Suseno “The Wonderlust” (dok. Sudut Kantin Project)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts