Titik-Titik: Kumpulan Puisi Faza Nugroho

Kumpulan puisi ini: Titik BalikTitik Tolak, dan Titik Temu ditulis oleh Faza Nugroho. Seseorang yang sedang belajar bahasa di Yogyakarta.


Titik Balik

Sudah lama kita berkawan,
sekian puluh purnama berlalu 
Kita pilih untuk pulih bersama 

Esok pagi kau pergi berlabuh,
tiada lagi cangkir kuseduh
diiringi cerita sedih semalam utuh

Wediombo tinggal rencana
Dieng dan Andong tinggal renjana
Kita pasti bertambah tua
tanpa benar-benar bertumbuh

Sehimpun tawa tak lagi bernyawa
Senandung gitar berubah getir
diiringi getar kaca, tembok, dan pasir

Isi kepala terlalu mentah
untuk muntah selepas bicara
Malam masih panjang,
terlalu dini bicara dana

Sebatang rokok itu
kebutuhan pokok
selagi mampu kuisap
hingga mengepul asap

Segelas air tak lagi kugilas
sebab esok subuh kau sibuk
menata dasi dan sabuk

Beberapa orang sering aku bertemu
Sekadar mampir bertamu jika perlu
Beberapa orang pernah aku percaya
Sebagian datang beserta tipu daya

Deru mesin beradu,
lampu sorot memancar
di tempat kau berada
Lirih saja kuucap: selamat tinggal 

Semarang, 2025

Titik Tolak

Perburuan di luar makin liar
Kalah cepat tentu saja terlambat;
melipat segala kesempatan

Aku gugup tanpa kata
Persis kali pertama coba
sambung hidup di kota

Aku gagap menjawab
cecar tanya seputar amal
dan nominal yang didamba

Nama dicatut masuk catatan hitam
seperti domba di peternakan
: tidur, bangun, makan, rumah jagal

Ingin begini
dibilang begitu
Ingin berbenah,
cita-cita yang dibunuh
Ingin berlaku semestinya
tiada restu dari semesta

Akhir pekan terus berjalan 
di atas jalinan kawat tembaga
Kalau akhir bulan tiba
biasa kuambil imbalan
untuk menambal lunas
tagihan makan satu bulan

Masa depan
terpaku iklan dipan 
pasar swalayan
Kasur tempatku tidur
kini cukup berumur,
mungkin kasar dan berjamur;
esok kucuci, lalu kujemur

Kota ini terlalu perih
Layaknya sapi perah,
tenaga kucurah habis
untuk cerah cahaya 
di hari depan

Yang ada aku berdiri 
di atas jalan berduri
Isi kepala kukuras habis
memaksa diri berpikir keras
Peduli apa halal-haram,
asal untung tetap kuhantam

Barangkali memang
hidup adalah usaha
menjaga nyala api 
tanpa bertanya apa

Yogyakarta, 2025

Titik Temu

Jumat siang—Gejayan panas
hari baik untuk jadi pemalas
Kawan seranjang ajakku beranjak
seolah gempa kembali melanda
Tak tahu aku tengah sibuk
menyimak lakon pulau kapuk

“Ayo berangkat,” katanya.
“Ke mana?”
“Ibadah,”
“Enggak dulu,”
“Kenapa enggak?”

(Hening)

Jika kuingat tadi malam
ibadah berjalan lancar,
ia sendiri merapal doa

“Satu teguk
satu harapan:
Menapak tegak
di atas awan.”

Jika kuingat tadi malam
usai ibadah ia tidur awal
bermuka belang
berbantal beling

Sebelum tidur ia berkata,
“Tuhan benci kita.”
Kutimpali, “benar-benar cinta.”

Siang ini ia sadar—semoga dugaanku benar
setelah semalam dihajar pengar

(Menyambung percakapan.)

“Kamu sendiri kenapa?”

               N      

       a              s

       i       b      u

       n              g

       k      u      s

“Oh, …

(dari siapa?)

sudah pernah dapat?”
“Belum, sih.”
“Ayo ke warung,”
“Gas!”

Yogyakarta, 2025


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Adnan Irshad Arfi Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Spotify, Genosida, dan Kebimbangan Kami sebagai Musisi Kabupaten

Next Article

Copet Itu Berengsek dan Gigs Tak Butuh Sampah Sepertimu!

Related Posts