Malam minggu adalah waktu yang tepat untuk merilis perasaan tak terbendung. Ekspresi yang tertahan selama satu minggu sebelumnya karena proses yang kita sebut sebagai bertahan hidup mesti terlampiaskan. Setiap orang memiliki cara tempuhnya masing-masing untuk bersenang-senang – ketika makna bebas diberikan seutuhnya kepada tubuh. Tak terkecuali bagi mereka yang memilih lewat menikmati musik.
Sejalan dengan itu, kita mudah menemui festival musik di setiap kota di Indonesia. Pelbagai tawaran disodorkan, dan banyak orang membicarakannya. Meski begitu, masih ada pagelaran musik selain festival. Belakangan teman-teman saya menyebutnya sebagai “gigs”. Dulu, sewaktu saya masih SMP-SMA, sebutan lazimnya adalah “acara” atau “event”. Makna masing-masing sama dalam duduk bahasa.
Tahun 2010-2015: “Ngacara sik yok,” atau “Mangkat ngevent nyandi?”
Sekarang: “Ngegigs ke mana?”
Di Kota Surakarta, ada satu gigs yang cukup sering dibicarakan, yaitu Party Program. Helatan ini merupakan hasil aktivasi Solo Rumble Crew (SRC). Party Program sudah memasuki volume ke-48 pada bulan Oktober tahun ini. SRC membiarkan musik tumbuh serupa air yang berarti dapat berada di mana saja, tetap ada sekalipun berada di bawah tanah.
Party Program #48 benar digelar di bawah tanah. Di rubanah salah satu kampus di Surakarta—SRC menyebutnya Gokoku Temple – siapa pun yang datang pasti merasakan kehangatan. Malam itu (4/10/2025), kalimat di dekat pintu masuk menjelma sebuah praktik tanpa gangguan: Music for you and me. Tak ada jarak antara penampil dan penonton. Bebas batas.
Siapa yang menari dia mendapat ruang, siapa yang bersedekap dia juga aman.
Begitulah yang terjadi. Ruang yang berukuran untuk belajar 20-an mahasiswa diubah menjadi tempat pagelaran musik. Siapa pun yang hadir tampak menunjukkan mimik unik: serius, guyonan, marah, tatapan tajam, dan lainnya. Tawar-menawar tidak terjadi dalam bentuk permintaan, tetapi dalam praktik yang baik: siapa jatuh, ditolong.
Artinya, dalam gerak perayaan yang sering disebut warganet dengan two step itu justru merepresentasikan diksi bahasa Indonesia: aman. Saya sama sekali tidak melihat kekerasan di rubanah Gokoku Temple, dibanding pemberitaan di jalanan akhir Agustus hingga awal September lalu. Gerak tari yang ada di Gokoku Temple adalah sesuatu yang mahal bagi tubuh kita yang sering memendam dan sulit melewati pembatas setiap harinya.
Lewat Party Program #48, kita mengetahui bahwa musik hardcore, death metal, dan turunan sejenis masih terus tumbuh. Akar historis subkultur ini sebagai kebudayaan liyan dunia begitu terasa di helatan Party Program. Bermain di ruang yang barangkali tak pernah terbayangkan sebagai tempat helatan musik, senyatanya sangatlah menyenangkan untuk dirayakan.
Dari dalam rubanah itu, batas antara suara fals dan merdu terbebaskan. Ya, sulit mengatakan jika sebuah teriakan dilekatkan dengan batas fals. Teriakan yang berangkat dari ruang yang jarang dibicarakan akan lekat dengan kejujuran atau kebenaran. Dan, di situ rupa bisik-bisik masalah yang biasanya ditemui di pos kamling tergambar apa adanya. Kita bisa belajar dari kalimat-kalimat yang tertulis di bak truk: masalah kadang-kadang tak harus digambarkan secara puitis atau estetis.

Kenyataan lain adalah saya sengaja tak menanyai siapa pun di Party Program #48 tentang bagaimana rasanya datang ke acara tersebut atau apakah teman-teman bahagia atas kehadirannya. Saya datang sendiri dari Mojogedang. Di Gokoku Temple, saya berdiri mepet tembok di barisan paling belakang, dan sesekali bila circle pit berlangsung saya bergeser ke bagian pojok ruangan.
Namun, keputusan saya rasanya sudah pas. Mengingat saya ingin menduga saja apa yang dirasakan teman-teman selama helatan berlangsung. Bisa jadi mereka memendam persoalan yang dirasakan sehari-hari lalu mendapat tempat untuk mengeluarkannya secara penuh, atau sekadar menikmati suguhan. Malam itu, pikiran saya penuh dengan kemungkinan amatan atas orang lain.
Rasanya ada diri saya di setiap ekspresi teman-teman—baik yang presentasi atau yang menikmatinya.
Melalui kemungkinan itu, ruang ekspresi masih dapat diupayakan sekalipun terbatas. Jauh dari ingar-bingar, dari dalam rubanah, mereka menciptakan peristiwa kebudayaan yang memang penting untuk ditinjau: narasi, wacana, hingga alih bentuk gerakan. Gokoku Temple adalah tempat spiritual. Di sana, kita memahami manusia secara apa adanya . Tanpa label ini-itu, serta menampakkan kejujuran kognitifnya.
Malam Minggu: Catatan Sangat Ringkas Sekaligus Lepas
Berbekal tiket kabel ties, kita menuruni tangga dan disambut delapan kugiran tanggal metronom yang membawa refleksi amatan IPOLEKSOSBUDHANKAM atau masalah personal yang akhirnya mengajak kita kembali mengingat serta mempertanyakan kembali lembar demi lembar isi buku RPUL. Inilah bentuk lain belajar yang rutin kita temui: presentasi dan bertanya.

Ragam visual yang menghiasi seisi ruangan Party Program juga layak jadi pemantik belajar – tentang warna yang kontras, tulisan yang ekspresif, serta tabrakan antar ilustrasi adalah sesuatu yang tidak bisa selesai dengan pernyataan bahwa hal itu merusak keindahan. Apa yang terlihat menggambarkan laku hidup setiap orang, dan sulit untuk membayangkannya.
Terakhir, Gokoku Temple, rubanah, atau sebutan lainnya adalah ruang ekspresi selalu menyimpan bahan belajar. Apa yang dapat diserap, seperti apa narasinya, dan bagaimana bentuknya. Belajar ke negeri Tiongkok barangkali terdengar muskil, namun kita bisa menyiasatinya dengan belajar dari bawah tanah. Mungkin kita dengan sengaja enggan mempelajari pengetahuan tertentu, terutama ketika malam minggu berlangsung.
Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto sampul: Rudi Agus Hartanto
