We have to stop asking the question ‘what is art?’, or ‘what is good art?’.
But we have to ask ‘when is art?’ and ‘when does that art matter?’
— Chris Dercon dalam wawancara Kochi-Muziris Biennale
Kami, Kolektif Arungkala, dihubungi Biennale Jogja untuk melakukan residensi di Kendeng dan Lasem pada awal tahun 2025. Kami tinggal, berbincang dengan warga, mencatat kisah, padat arsip dan dokumen, tetapi lebih padat percakapan bersama warga.
Beberapa kali kami mencatat proses residensi, juga sudah menjadi kebiasaan untuk mendokumentasikan pengalaman dan perjumpaan yang kami lalui selepas mengerjakan sebuah proyek kesenian atau riset-riset kewargaan. Kamu bisa membaca trayektori praktik kami melalui platform Sudut Kantin Project, beberapa tahun terakhir kami mencatat proses dan mengarsipkannya pada platform tersebut.
Karya kami dalam Biennale Jogja 18 dibagi menjadi dua karya berbeda, yang pertama adalah “Kios Diorama” di Museum Benteng Vredeburg, sedangkan karya kedua adalah “Omah Samin” yang terletak di Dukuh Sawit, Panggungharjo, Bantul. Kedua karya ini kami posisikan sebagai karya-platform, sebuah inisiasi terbuka yang bergerak dan digerakkan bersama kawan, kolaborator, dan siapa saja yang ingin membuat kerja bersama.
Dengan ide karya-platform, kami membayangkan mampu melampaui karya seni sebagai lelaku object-making, studio sebagai ruang khusyuk dari lahirnya sebuah karya, atau lelaku artist as an individual genius. Karya-platform membuka kemungkinan bagi diri kami sedemikian rupa sehingga bukan kami yang menjadi subjek utama, melainkan warga, kawan, dan subjek yang bahkan jauh dari gegap gempita art scene.
“Omah Samin” berangkat dari temuan dan dokumentasi yang kami lakukan saat tinggal di Kendeng, berkolaborasi dengan kawan-kawan muda Wiji Kendeng serta dalang muda dari wilayah itu bernama Salman Hilal. Melalui “Omah Samin”, kami merancang peristiwa bertajuk Samin Study Club: sebuah forum warga bersama anak-anak, para Ibu, hingga ruang diseminasi pengetahuan alternatif bersama para seniman atau peneliti muda.
Ide ini juga menjadi upaya rekontekstualisasi sejarah gerakan Samin pada realitas kekinian kita bersama, dari isu pangan pada tataran terkecil seperti desa dan rumah tangga, hingga produksi dan reproduksi pengetahuan alternatif.
Sementara, “Kios Diorama” adalah presentasi kami mengenai temuan arsip pemikiran para penulis perempuan yang tinggal di Lasem dan sekitarnya pada awal abad 20. Mereka yang kami baca lantas menggugat semangat kami mencantumkan namanya sebagai Oei Siotjia, Lim Siotjia, Qei Siotjia serta beberapa nama siotjia (nona) lainnya.
Mereka, melalui esai dalam surat kabar, mengkritik keras dominasi patriarki hingga pembatasan akses sosial bagi para perempuan Tionghoa. Tulisan para siotjia ini lebih keras dan radikal dibanding surat-surat Kartini, menggunakan diksi keras yang menunjukkan protes, serta berupaya membongkar siklus patriarki yang merepresi perempuan Tionghoa pada masa itu.
Untuk kamu yang tak sempat datang ke Biennale Jogja dan terlibat dengan apa saja yang kami lakukan, kami merangkumnya dalam catatan proses ini, sebuah esai yang ditulis bersama secara kolektif oleh lima orang awak Arungkala.
Sudah sejak awal kami berkeinginan untuk mencatat proses sebagai bagian dari produksi pengetahuan atas praktik kami di sepanjang bulan Oktober sampai November 2025 di Biennale Jogja 18. Bisa dibilang, dalam helatan Biennale Jogja 18, Arungkala paling banyak mengadakan aktivasi, meski kami sendiri tak sepakat menyebut semua ini semata sebagai “aktivasi”.
Alih-alih “aktivasi”, kami merasa momentum bersama publik ini lebih dari sekadar pelengkap berbentuk program untuk memeriahkan Biennale Jogja. Justru, ia adalah hal yang primer, alih-alih sampingan.
Itulah yang kami bayangkan soal karya-platform, karya yang bukan merupakan alih wahana, juga bukan sebuah pertunjukan teater seperti yang dituliskan Ibrahim Soetomo dalam esainya. Justru, karya-platform ini adalah proses membuka kemungkinan karya seni yang “untuk” dan “bersama” publik—sebuah lelaku yang mungkin tak tampak secara visual, tetapi justru membuka pintu pengetahuan lebar-lebar untuk dirayakan dan dialami bersama.
Mencatat Proses, Menghimpun Jejaring
Semua ini dimulai sejak 19 Oktober, Arungkala menginisiasi anti-tur sebagai bagian dari karya “Kios Diorama”. Dalam anti-tur, kami menggunakan biografi Liem Siotjia, salah satu penulis perempuan Tionghoa dari Jogja yang tengah kami telusuri jejaknya, sebagai titik pangkal untuk menavigasi rute jalan. Dengan moda anti-tur ini kami berusaha menghindari pola-pola umum walking tour dengan seorang pemandu.
Kami hanya membabar temuan yang bahkan sifatnya spekulatif, “Mungkin makanan yang tersaji di meja makan nona Liem berasal dari pasar Beringharjo” atau “barangkali Liem Siotjia beribadah dan membakar dupa di hiolo yang sama di klenteng Fuk Ling Miau”, hanya itu. Kami lebih mirip teman jalan, kami juga berusaha untuk memecah hierarki yang mengelilingi turisme hingga walking tour.

Sejak awal, kami menyadari teramat sedikit arsip yang memberi terang siapa dan bagaimana Liem Siotjia ini. Hanya ada jejak satu tulisan, lainnya tidak. Situasi ini membuat kami lebih banyak menyusun biografi tersebut dari arsip berupa “bangunan” atau “ruas jalan” di pemukiman Ketandan dan sekitarnya.
Kami membayangkan kemungkinan-kemungkinan hidup Liem Siotjia dengan berpancang pada ruang Pecinan yang ada di Jogja: seratus tahun lalu, di mana ia tinggal, bagaimana ia bertetangga, di kelenteng manakah ia beribadah?
Peristiwa bersama publik semacam ini membuka kemungkinan hadirnya percakapan luas untuk setiap partisipan (termasuk kami, juga ruang itu sendiri). Pembayangan terhadap hidup siotjia-siotjia ini juga berlangsung pada 6 November, bersama dengan Nessa Theo, seorang seniman-periset muda.
Proyeknya berbasis permainan papan sebagai inisiasi seni partisipatif, Nessa mengajak setiap partisipan terlibat untuk menelusuri sejarah panjang komunitas Tionghoa di Indonesia dan resiliensinya dalam berbagai turbulensi. Masih seputar kisah para siotjia, pada 26 Oktober dan 31 Oktober, kami mengadakan berbagai lokakarya terbuka bersama publik.

Lokakarya pertama adalah membuat zine bersama Prihandini Nur, kami merespons arsip-arsip para siotjia untuk diolah bersama dalam sebuah zine besar. Semacam collective writing dan collective drawing untuk membicarakan secara rileks berbagai warisan pemikiran radikal dari para penulis perempuan Tionghoa yang hidup lebih dari seratus tahun yang lalu, mereka adalah Oei Siotjia dan para siotjia lainnya.
Peristiwa serupa juga terjadi tanggal 31 Oktober, bersama Taufik Hidayat, kami membuat diorama-diorama dari kisah para siotjia melalui tanah liat. Diorama-diorama ini membuka percakapan lebih jauh, para peserta yang membuat diorama menghubungkan kisah sejarah para siotjia dengan sejarah keluarga, kisah personal, dan ingatan bersama soal sosok-sosok perempuan yang mereka ingat.
Momentum yang hangat, merayakan diorama para perempuan yang berseberangan dengan ruang diorama militeristik di Museum Benteng Vredeburg. Pada momen pembuatan diorama ini, hadir kawan baru kami yang berasal dari Bandung. Ia pelajar kelas 5 SD dan sedang berlibur di Yogyakata, dan bersama Ibunya tak sengaja sedang lewat di Kios Diorama. Kami pun mengajaknya turut serta membuat diorama, lantas hasilnya boleh dibawa pulang!

Pada tanggal yang sama, 31 Oktober, sore hari Joglo Pak Newu berubah menjadi “Omah Samin”—sebuah ruang diseminasi pengetahuan alternatif dan forum warga. Pada bagian depan ruang itu, dipasang peta besar persebaran gerakan Samin, berbahasa Belanda dan Inggris karena dilukis ulang dari dokumen temuan sejarawan Harry Benda, tepatnya arsip dari J. E. Jasper, seorang administrator kolonial pada awal abad 20.
Dalam ruang itu, terselenggara Samin Study Club. Kami berkolaborasi secara perdana, dengan antropolog muda, Rully Andrian Syah. Melalui forum bertajuk “Kerbau yang Mengingat, Manusia yang Lupa“, Rully membawa temuan risetnya tentang perilaku kawanan kerbau yang digembalakan di rawa bekas proyek food estate era Orde Baru, dekat Sungai Barito.
Rully, yang mengamati dari dekat, menjumpai bahwa para penggembala alih-alih menjadi “pengendali”, justru mengikuti ritme dan rute kehidupan kerbau. Mereka bercerita tentang kerbau yang mengingat musim, mengingat tempat teratai makanan mereka, atau mengingat ancaman di rawa. Di sini, hewan bukan “objek riset”, tetapi subjek relasional yang membawa memori ekologisnya sendiri.

Esok harinya, 1 November, ruang “Omah Samin” beralih jadi forum warga, ruang percakapan yang mempertemukan warga desa dari Kulonprogo hingga Bantul. Bersama Ibu Herni dari Petani Karisma Kulonprogo dan Ibu-Ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Sawit RT 05, kami duduk melingkar dalam forum Samin Study Club.
Ibu Herni dengan lugas memaparkan bagaimana kebijakan swasembada pangan justru adalah monopoli yang merusak. Dampaknya masih terasa: kesuburan tanah yang terkikis oleh pupuk kimia dan pestisida, dominasi bibit hibrida, hingga sistem monokultur yang meminggirkan pengetahuan agrikultur berbasis pengetahuan turun temurun warga. Ibu-Ibu Petani Karisma bercerita dengan semangat tentang benih lokal yang dirawat turun-temurun–padi, ketela, jagung, koro, talas, ganyong, dan puluhan yang lain.
Bagi kami, adalah sebuah kebahagiaan dapat memperjumpakan jejaring kewargaan antara para ibu di KWT Sawit dengan ibu-ibu Petani Karisma Kulonprogo.
Pertukaran pengetahuan antarwarga inilah yang kami bayangkan—(re)produksi pengetahuan terjadi sebagai momen hidup, alih-alih sekadar agenda formal.
Puncak dari obrolan sore itu adalah sebuah gestur sederhana yang personal, komunal, juga politis: Ibu-Ibu Petani Karisma membagikan satu kantong yang berisi aneka bibit dan benih. Dalam momen berbagi itulah, “Omah Samin” menjadi platform–medium yang menghubungkan pengetahuan dari warga, oleh warga, dan untuk siapa saja yang terlibat. Sebagai penutup, Ibu Herni berbagi kalimat yang menggetarkan: “Barang siapa merawat benih, ia merawat kehidupan”.

Sehari setelahnya, pada Minggu 2 November, di Omah Samin bersama Alia Ruray kami memulai sebuah peristiwa bersama. Percakapan dibuka dan Ruray mengisahkan Husein al-Jerjawi. Husein, seorang seniman muda yang mukim di Gaza, bertahan di tengah genosida yang semakin mengerikan. Ruray bersama Husein membuat sebuah zine bersama, kamu bisa membelinya guna mendukung Husein dan komunitasnya di Gaza sana.
Meski “Omah Samin” berangkat dari kerja dokumentasi kami bersama Wiji Kendeng dan warga pegunungan Kendeng, kami merasa solidaritas dan perlawanan via estetika bisa melampaui batas-batas geografis, toh state border adalah warisan kolonial dan batas geografis adalah sekat politis kan?
Sore itu, kata kunci “melatih ulang solidaritas” atau rehearsing solidarity jadi kata kerja yang digerakkan bersama. M. Shodik bersama belasan seniman muda mengambil cat dan kami menyediakan bungkus semen, satu material yang mengingatkan kami pada kisah-perjuangan warga Kendeng menolak pabrik semen.
Istifadah Nur Rahmah, seorang kawan, membacakan puisi-puisi Mayar Nateel, seorang penyair muda Gaza, yang juga berkolaborasi dengan Ruray dan Husein dalam zine terbaru mereka. Puisi dibacakan, sementara para seniman muda terus mengisi bungkusan semen dengan respon visualnya, beberapa menitikkan air mata, marah, getir, sedih, tapi pada sisi lain terbakar untuk terus bergandengan tangan melampaui penindasan, batas wilayah, sekat politik, untuk terus bertahan dan mendukung satu sama lain.
Kami mengecek gawai, ada pesan masuk dari Husein, ia bertukar kabar dengan kami melalui pesan di sosial media. Kami tak tahu, kapan bisa bertemu secara langsung untuk membuat karya bersama Husein dan Mayar Nateel. Ya, suatu hari, setelah Palestina merdeka seutuhnya. Kami percaya, kami sangat percaya. Adzan maghrib terdengar dan kami menyelesaikan lukisan besar, collective painting di bungkusan semen.
Batas-batas politik dan geografis tidak menjadi penghalang bagi kerja-kerja solidaritas.
Di Kendeng, di Gaza, di pinggiran Kali Code, di kebun-kebun warga di pesisir Bantul, menyemai solidaritas adalah terus menyemai hidup bersama yang semakin dihimpit penindasan. Memang tak banyak yang bisa kami lakukan, mengajak kawan berkolaborasi lewat Biennale Jogja tak akan serta merta menghentikan penindasan di penjuru dunia, tapi sungguh, dalam berbagai penindasan ini apa yang seni bisa lakukan? Apa yang sebingkai lukisan dengan cat akrilik bisa lakukan? Apa yang kurator, kritikus, dan festival seni mampu lakukan?

Merefleksikan Praktik: Kami (Selalu) Hanya Bagian Kecil
Secara ringkas, ide dasar tentang berbagai giat praktik ini adalah berusaha menjadikan ruang pameran sebagai platform, untuk bertukar pengetahuan yang menubuh dari segala pengalaman, merayakan sejarah alternatif, berkonsolidasi bersama seniman muda, bertukar kisah dengan Ibu-ibu kelompok tani, dan untuk bersenang-senang bersama publik.
Sebagai karya platform, karya ini ingin terus bertumbuh dan bahkan membuka kemungkinan untuk tumbuh dengan sendirinya. Banyak peristiwa yang tak cukup kami jelaskan, diskusi soal historiografi perempuan bersama Hanfa Azzahra, beberapa peristiwa berjalan dengan kerangka ide “anti-tour”, dan forum riset artistik soal monumen bersama temam seniman dari Malaysia: Zulkefli Jais. Semua terjadi dan bergulir di “Kios Diorama” dan “Omah Samin”.

Ya, dalam Biennale Jogja tahun ini, kami banyak melakukan kolaborasi, juga melakukan praktik-praktik kolektif secara informal seperti zine-making, collective writing, collective drawing, dan juga tur. Kerja bersama seperti ini memungkinkan pertukaran pengetahuan terjadi, bukan hanya pada para art lovers, tapi juga anak-anak SD, para ibu kelompok tani, kawan-kawan penulis muda, seniman muda, para zinester, juga siapapun yang hadir!
Kami ingat, pada proses pembuatan karya untuk Biennale Jogja, beberapa kali kurator Bob Edrian bicara pada kami, agar tetap mengingat bahwa ini adalah pameran seni rupa. Namun, dalam tataran praktik, kami merasa bahwa disiplin “seni” (atau bukan seni) yang kami jalani sayangnya tak terdapat dalam buku-buku metode penciptaan seni dalam modul sekolah seni.
Sebuah bidang disiplin entah yang tanpa art-form, tanpa pengkondisian selera “tinggi”—eksekusi canggih nan penuh kedigdayaan teknis, pada tata warna, tata letak, atau komposisi visual. Bagaimanapun, proses sejarah dari perkembangan seni di sekitar kami juga masih hidup dalam rezim estetika pendisiplinan.

Meski, kami perlu bilang bahwa art-form, pilihan atas bentuk, keputusan artistik untuk menggarap karya seni, kami rasakan sebagai proses yang melampaui penciptaan seni. Proses ini justru lebih kuat pada aspek-aspek kerja kewargaan, kerja bersama kawan, kerja pencatatan pengetahuan warga di sekitar, dan kerja bersama warga yang tak akan terlihat jika tetap berbatas dalam tataran art-form.
Kami tak ingin membela diri dengan melakukan klaim-klaim gampangan semacam, “Ya, kami melakukan satu upaya dematerialisasi seni melalui karya-platform Kios Diorama atau Omah Samin”. Kami juga tak ingin sibuk mengejar klaim bahwa kami mengundang publik dalam serial anti-tur kami sebagai “medium seni” dan pengalaman mereka kemudian adalah materialnya. Kami merasa klaim-klaim ini tak berguna jika ia hanyalah klaim sepihak, karena toh para pembaca akan merasa kami mencari pembelaan dan dengan demikian tak becus.
Ya, kamu bisa berpikir bahwa kami malas, tak becus, tak rajin membersihkan ruang tempat kami berpameran. Kadang-kadang, beberapa dari kami datang untuk menyapu dan membersihkan Joglo Pak Newu, meski ia akan segera kotor lagi karena ruang terbuka itu dihidupi cicak, dilewati angin yang membawa debu, dan atapnya bocor.
Kamu bisa berpikir bahwa karya kami tak masuk akal, tak rapi, bentuknya tak jelas, tak ada nilai-nilai keindahan yang merasuki jiwa—kamu juga bisa berpikir karya Arungkala sebelum atau setelah Biennale Jogja tak punya pathos, tak fokus, dan sungguh terlampau amatir, juga tak bernilai sedikitpun.
Namun, hari-hari ini, apakah yang indah itu? Siapa yang bisa menjamin mutu artistik dari sebuah karya seni?
Seorang kawan akan bilang bahwa yang meregulasi dan memegang ketuk palu untuk menentukan keindahan hari ini adalah publik—melalui art market, sirkulasi galeri seni, dan museum-museum seni. Namun, siapakah publik itu? Seringkali dalam seni kontemporer di Indonesia, hanyalah para art lovers dan kolektor Jakarta, Surabaya, atau Solo. Atau, pada sisi lain adalah institusi pendidikan seni, institusi seni kontemporer seperti Biennale, komunitas, dan kolektif seni yang established.
Oh, mungkin keindahan itu disepakati dan tidak apa-apa kalau kamu tak sepakat dengan apa yang-indah menurut kami, menurut temanmu, atau orang tuamu.
Dalam medan sosial seni, sepengalaman pendek kami, lebih sulit menentukan mutu kultural ketimbang mutu artistik. Bahkan, festival seni nan prestisius hingga seniman senior sering bimbang dalam dilema, tentang menjamin apa yang-indah itu tak mengandung eksploitasi kreatif, eksploitasi ekonomi, dan eksploitasi kultural.

Hal-hal ini nampaknya lebih terukur dan layak untuk dijadikan jaminan terhadap “mutu”—alih-alih preferensi terhadap warna, komposisi visual, atau keputusan artistik nan teknis dari sebuah karya seni.
Atau mungkin kami sedang berpikir untuk membayangkan keindahan sebagai yang tak berhubungan dengan kedigdayaan teknis artistik, sebab kalau hanya ingin “keindahan” maka kita bisa pergi ke konser orkestra Keraton Yogyakarta.
Apa yang kami bayangkan sebagai keindahan justru hadir sebagai akibat, ketika sebuah proyek seni mampu menjangkar pada subjek-subjek sekitarnya, mampu meruang dalam ruang konkret nan sehari-hari di sekitarnya, juga pada subjek yang terlibat dalam aktivitas seninya—terkait hal ini, seringkali ukuran etis dan mutu kultural semacam ini tak dipermasalahkan, praktik yang nir-empatik dan menerobos common sense dengan semena-mena jarang “diadili” sebagaimana karya seni yang diklaim rendah mutu dari tampilan artistik, komposisi visual, dan segenap printilan art-form.
Seniman dapat uang produksi, membuat karya seni, lalu pergi begitu saja setelah festival usai. Seniman mengolah kisah dan ingatan warga, lalu sekadar mengambil dan menjual karya tentang warga tersebut dengan harga super tinggi.
Kurator dengan klaim soal kerja bersama warga, setelah termin akhir curatorial fee turun lantas segera tuntas segala urusan kerja bersama warga. Atau, juga soal pekerja seni yang diperas tenaga dan pikirannya hanya demi mutu artistik yang tinggi tanpa renumerasi yang masuk akal—siapa yang mau menunjuk masalah-masalah ini, jika masih sibuk mempersoalkan bentuk dan printilan art-form dari sebuah karya seni? Mutu artistik tinggi macam apa yang penting dalam perihal “kerja” estetika semacam ini?
Sayangnya medan sosial seni kita masih sibuk dalam profesionalisme seni, dalam kiat mengoleksi karya seni seniman unggul, dalam komodifikasi terhadap teknik canggih dan temuan estetis terkini dengan alat-alat teknologi kiwari—medan sosial seni yang menubuh dalam acuan terhadap mutu artistik yang parsial, yang sebatas art-form, mengejar printilan artistik.

Namun, apalah arti menjadi indah dalam art-form? Mungkin bagi para kawan seniman, menjadi indah melalui art-form adalah menjadi kecintaan para kolektor, para art lovers, atau para kurator dan direktur festival seni bergengsi.
Biennale, art fair, dan festival seringkali jadi perlombaan untuk menjadi indah, paling mencolok, paling terlihat memiliki pathos—sebuah lomba untuk terus menjadi indah dan mencolok agar dibicarakan oleh skena seni se-Indonesia.
Sedangkan kami, berbahagia untuk terus menjadi bagian kecil dari ibu-ibu Kelompok Wanita Tani, warga Kendeng yang menembang macapat, anak-anak SD yang asyik membuat zine, atau para remaja yang menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di trotoar.
Tentu saja, kami berbahagia untuk menjadi bagian kecil dari keindahan yang ditemukan dalam proses dan perjalanan bersama.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Biennale Jogja 18
