Jurang Lebar antara Guru dan Murid

Touchstone Photograph

Salahkah jika guru keluar dari pakem–pakem mengajar yang sudah dibuat oleh pemerintah? Mungkinkah siswa akan menyukainya atau malah menganggap itu salah? Mungkin beberapa dari kita pernah punya guru yang seperti itu atau sama sekali tidak pernah merasakannya. Sebut saja salah satu film lawas Dead Poets Society (1989).

Apa yang terjadi di sekolah memang sesuatu yang jujur. Orang bisa mengetahui tentang alam sekitarnya, bagaimana cara menambah keturunan, hingga cara mendapatkan uang hanya dengan duduk santai di rumah juga bisa. Indonesia menggunakan semboyan pendidikan yang diciptakan oleh Ki Hajar Dewantara, Tut Wuri Handayani yang artinya dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan.

Seperti itulah besar peran guru dalam dunia pendidikan. Mulai dari proses yang harus dilalui sebelum menjadi seorang guru dan pernah menjadi siswa, akan sedikit menambah pengalaman seperti apa cara mengahadapi siswa.

Bicara tentang pendidikan di Indonesia juga tidak lepas dari pendidikan yang dibawa Belanda. Bedanya hanya orang–orang tertentu yang bisa mendapatkan pendidikan tersebut jika sekarang semua orang bisa mendapatkan pendidikan. Apalagi dengan adanya program wajib belajar sembilan tahun lalu setelah itu wajib sekolah lagi tapi dengan biaya sendiri.

Biasanya seseorang yang tidak melanjutkan pendidikannya mendapatkan sanksi moral atau sosial dari kawan ataupun keluarganya.

“Kuliah aja lagi. Nanggung nilainya bagus. Lumayan bisa kerja di perusahaan,” kata guru sebelum siswanya berjabat tangan dan mengambil ijazah sekolahnya. Apakah yang akan dialami siswa itu sama ketika dia masih SMA dan guru itu mendampinginya ketika ia merasa kesulitan? Siapa yang berani jamin ketika kuliah siswa itu akan mengikuti apa yang dikatakan gurunya waktu itu? Dan kenapa pesan guru terkadang mematahkan cita–cita muridnya dengan berkata nanti bisa kerja di perusahaan besar, padahal keinginannya menjadi bos dari perusahaan barunya.

Menjadikan siswa sebagai anak ataupun teman memberikan cara berperilaku yang berbeda dibandingkan guru yang tetap memegang teguh perbedaan antara guru dengan muridnya. Kadang menimbulkan beberapa penyimpangan yang sering terjadi di Indonesia. Dari pengalaman itu saja kita bisa mengatakan sekolah punya peran untuk membentuk siswa menjadi apa nantinya.

Mulai dari melihat bagaimana seorang guru menghukum muridnya hanya gara–gara tidak membawa pensil warna misalnya. Iya kalau guru itu menghukum dengan cara yang keren, kalau menghukum dengan cara membuat malu muridnya di depan murid lainnya, apa yang akan dirasakan murid itu? Akankah besok dia akan membawa pensil warna atau memutuskan untuk tidak datang saat mata pelajaran guru itu? Semua akan terjawab dari cara guru menjawab pertanyaan muridnya.

Pengalaman sekolah yang saya dapat sewaktu SMA mungkin agak berbeda dengan yang dilakukan oleh Mr.Keating (Robin Williams) dalam film Dead Poets Society. Ada satu atau dua guru yang mengerti dengan siswanya. Tetapi, cara mengajarnya tetap sama seperti kurikulum. Hanya saja yang membedakan guru itu dengan lainnya, mereka mengerti psikologi siswa dan karakter siswa di umur seperti ini. Misalnya, dengan lawakan agar tidak membuat siswanya mengantuk atau bisa dengan memberikan kebebasan cara belajar di kelas tetapi tetap mengerti apa yang diajarkan.

Akankah jurang antara guru dan murid semakin lebar? Bisakah guru memilih cara lain dalam mengajar atau guru memang sudah dicetak oleh sistem pendidikan sejak dari kecil?

 

Editor: Arlingga Hari Nugroho

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts