Waktu: Kumpulan Puisi Angela Ardhika Sinthawati

Kumpulan puisi ini: Terlambat, Terjadi, dan Terhenti ditulis Angela Ardhika Sinthawati.


Terlambat

Satu bahkan tiga atau lima tahun yang akan datang
Mungkin saja kita akan berpikir tentang andai yang tak tersampaikan
Barangkali hari itu kita lakukan, barangkali kita bisa melawan, dan banyak lagi lainnya
Namun semua itu hanya menjadi angan yang tak pernah dilakukan

Tak ada yang tahu perihal kejadian yang akan terjadi
Semua bagai teka teki yang berkamuflase dalam takdir Ilahi
Bahkan gambarnya pun masih abu-abu yang sendu
Lantas mengapa kau enggan mengaku jika kau rindu? 
Kau merindu pada situasi semu yang tak berkesudahan
Menepis angan bila raga rindu segala tentangnya

Lanjutkanlah hidupmu yang mungkin tak akan bisa dijalani dua kali itu
Nikmati saja situasi menyedihkan yang penuh sesak itu
Carilah banyak kebahagiaan yang tidak berasal dari dirinya
Putuskanlah keputusan yang nantinya membuatmu bahagia
Hiduplah meski tak lagi bisa merasakan pelukannya

(Ambang Kehidupan, 31 Juli 2023)

Terjadi

Kehancuran yang menimpamu dan kebahagiaan yang mencekam itu
Kan kupastikan tidak akan berhenti sampai disitu
Bahkan hingga garis keturunan ketujuhmu akan merasakan sakitnya batinku 
Kau pikir aku hanya akan berdiri mematung dan kembali bersekutu

Jika kau sudi menangisi semua yang terjadi pun tak akan ada yang berubah
Karma akan terus menghantuimu hingga kau lengah dan mati ditusuk dosamu
Hidup ini tidak akan seindah negeri dongeng yang kau buat tatkala kau masih bocah 
Rasakan saja ribuan tikaman hukum karma dan akhirnya aku turut bahagia dengan berkabung

Sampai detik ini aku masih melayangkan ratusan ribu doa pemujaan padamu
Memohon kepada semesta agar kau turut merasakan sakit hingga bernanah
Biar saja aku atur sendiri hukumanku padamu karena itu urusanku
Namun kehancuranmu adalah hal membahagaiakan yang paling kutunggu

Kau bermain-main dengan perempuan gila tak berperikemanusiaan 
Khawatirkanlah dirimu sendiri yang akan senantiasa membusuk bersama rasa penyesalan
Barangkali kau lupa berapa puluh tusukan luka yang kau tancapkan pada perempuan itu
Bahkan jika nanti hidup kembali kau akan tersiksa dengan konsekuensi perbuatanmu 

(Karma dari Neraka, 2 Agustus 2023)

Terhenti

Bunyi rintihan air yang turun dari atas sana menyita perhatianku
Ribuan pertanyaan mulai menyerangku kembali seperti malam sebelumnya
Sejenak terbatuk mengingat bayangan sosok pria tua yang terbujur kaku
Entah siapa yang membuangnya di tepi sungai sudut kota

Aroma anyir yang menusuk indera penciuman membuatku berdigik ngeri
Entah apalagi yang akan terjadi jika dendam kesumat ini kembali
Sayangnya ia lagi-lagi terbunuh dengan luka dari belati
Konon katanya ia korban kutukan terakhir yang segera berakhir

Reinkarnasi mungkin akan melukai harga dirinya yang terlalu egois
Benar kata perempuan gila itu bahwasanya ia akan terbakar karma
Mungkin perempuan gila sama dengan tokoh-tokoh antagonis
Hanya saja ia tidak ingar janji dengan dirinya sendiri perihal luka

Bung, sudahi permainan sinting tak bermoralmu itu
Apakah kau akan terus menerus menipu dirimu dengan kenangan gilamu?
Ikhlaskan sesuatu jika hal tersebut memang harus menghilang dari hidupmu
Atau kau akan tersiksa dengan hukum karma perempuan gila itu
Entah siapa yang akan memenangkan pertandingan ego ini 
Kurasa semua pilihannya ada padamu Bung 

(Api Penyucian, 3 Agustus 2023)


Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Asrama Dara (1958): Tenang dalam Tegangan

Next Article

Tidak Ada Jalan Pintas di EP ‘Jalan Pintas’ Yanuar Sastra

Related Posts