Di Negeri yang Takut pada Lagu dan Buku, Bob Marley dan Pram Masih Terus Hidup

Belajar dari Bob Marley dan Pramoedya Ananta Toer, netral sering kali cuma nama lain dari ikut membiarkan.

Di Indonesia hari ini, semua orang boleh bicara. Asal tidak terlalu keras. Semua orang boleh kritik. Asal tidak terlalu viral. Semua orang boleh berpikir. Asal tidak mengajak orang lain ikut berpikir.

Kebebasan berekspresi kita mirip Wi-Fi kafe: gratis, kelihatannya terbuka, tapi sinyal langsung melemah begitu dipakai untuk hal-hal serius. Dalam situasi “aman-aman saja” yang terus diproduksi lewat narasi optimisme dan konten motivasi, tanggal 6 Februari datang sebagai gangguan kecil yang tidak sopan.

Tanggal itu mempertemukan dua nama yang seharusnya sudah jinak karena sama-sama wafat: Bob Marley dan Pramoedya Ananta Toer. Namun entah kenapa, sampai hari ini, mereka masih terasa merepotkan.

Bob Marley lahir 6 Februari 1945 di Jamaika. Pram lahir 6 Februari 1925 di Blora. Yang satu musisi reggae dengan rambut gimbal dan suara malas tapi tegas. Yang satu penulis dengan kalimat panjang, berat, dan tidak ramah pembaca yang ingin serba cepat. Sekilas, keduanya tampak seperti dua tokoh yang tak ada hubungannya dengan Indonesia hari ini—negeri yang lebih sibuk mengatur persepsi ketimbang memperbaiki keadaan.

Masalahnya, justru di situlah relevansinya. Bob Marley bicara tentang Babylon: sebuah sistem yang menindas tanpa harus selalu marah, yang menekan sambil tersenyum, dan selalu punya alasan moral untuk membenarkan ketimpangan. Di Indonesia, Babylon jarang datang dengan senjata. Ia datang lewat buzzer, regulasi abu-abu, dan kalimat klasik yang selalu terdengar bijak: demi ketertiban bersama.

Pram tidak pernah menyebut Babylon, tapi membedah isinya sampai ke tulang. Ia menulis tentang kolonialisme yang tak benar-benar pergi, feodalisme yang hanya ganti kostum, dan kekuasaan yang gemar mengatur ingatan rakyat. Tentang sejarah yang dipoles agar rapi, tentang suara yang dilemahkan bukan hanya dengan penjara, tapi dengan stigma: tidak sopan, tidak nasionalis, terlalu kiri, terlalu ribet.

Kalau dibaca hari ini, Pram tidak terasa seperti penulis masa lalu. Ia terasa seperti seseorang yang unggahannya rawan dilaporkan. Bob Marley pun sama. Lagu-lagunya aman diputar di kafe, festival, bahkan acara-acara bertema “kebebasan”. Namun semua itu menjadi tidak aman jika benar-benar dipahami. Get Up, Stand Up (1973) sering dianggap lagu santai anak pantai. Padahal itu ajakan politis yang kalau dihayati bisa bikin orang berhenti nrimo. Negara mana pun, termasuk Indonesia, selalu lebih takut pada rakyat yang berhenti nrimo daripada rakyat yang marah sebentar lalu lupa.

Hari-hari ini, kritik tidak perlu dipenjara untuk dilumpuhkan. Cukup ditenggelamkan oleh algoritma. Atau dibalas dengan komentar penuh kebijaksanaan palsu: “fokus ke diri sendiri saja”, “ngapain mikirin negara”, “hidup jangan ribet”. Bob Marley dan Pram jelas orang-orang yang hidupnya ribet dan mereka tidak pernah meminta maaf soal itu.

Bob Marley ditembak karena dianggap terlalu berpengaruh. Ironisnya, setelah ditembak, ia justru diminta tetap tampil demi stabilitas politik. Pram dipenjara, dibuang ke Pulau Buru, dipisahkan dari hak paling dasar: menulis dengan bebas. Ironisnya, setelah wafat, namanya dipajang sebagai ikon sastra nasional, asal gagasannya tidak dihidupkan terlalu jauh.

Inilah pola yang terus berulang sampai sekarang: merayakan simbol, mensterilkan isi.

Kita bangga punya Pram, tapi gugup ketika ada penulis muda bicara dengan kemarahan yang sama. Kita mengenakan kaos Bob Marley, tapi gelisah ketika musisi bicara terlalu terang tentang ketimpangan.

Di negeri ini, berbeda pendapat boleh, asal tidak mengganggu stabilitas perasaan mayoritas.

Bob Marley tidak menawarkan solusi instan. Pram juga tidak. Mereka menawarkan sesuatu yang jauh lebih merepotkan: kesadaran. Kesadaran selalu mahal. Ia bisa bikin kehilangan panggung, kehilangan teman, bahkan kehilangan rasa aman. Maka tidak heran kalau netral jadi posisi paling populer hari ini. Netral terdengar dewasa, rasional, dan aman.

Padahal, seperti yang ditunjukkan Bob Marley dan Pram, netral sering kali cuma nama lain dari ikut membiarkan.

Tanggal 6 Februari seharusnya tidak dirayakan sebagai nostalgia. Ini bukan soal mengenang orang besar. Ini soal bercermin. Apakah hari ini kita membaca buku untuk memahami atau sekadar agar terlihat peduli? Apakah kita mendengar musik sebagai perlawanan atau cuma sebagai latar konten? Apakah kita masih percaya kata-kata bisa mengubah sesuatu atau sudah menyerah pada logika “percuma”?

Bob Marley dan Pram lahir di zaman yang lebih kasar. Namun justru karena itu, mereka paham satu hal penting: kekuasaan jarang runtuh karena diserang. Ia lebih sering goyah karena terus dipertanyakan. Hari ini, pertanyaan sering dianggap gangguan.

Mungkin itu masalahnya.

Di negeri yang gemar mengatakan “kondisi sedang tidak baik-baik saja, tapi tetap harus optimis”, Bob Marley dan Pram hadir sebagai pengingat yang menyebalkan: bahwa optimisme tanpa keadilan cuma candu. Bahwa damai tanpa kejujuran hanyalah sunyi yang dipaksakan.

Tanggal 6 Februari bukan sekadar hari lahir dua legenda. Ia adalah hari ketika kita diingatkan bahwa lagu dan buku bisa lebih subversif daripada teriakan. Bahwa sampai hari ini, negara, dalam bentuk apa pun, masih belum benar-benar siap menghadapi orang yang bernyanyi dan menulis terlalu jujur.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Creative Commons License

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Dubito Ergo Amo: Saya Ragu, Maka Saya Mencintai

Related Posts