Memilih Tanpa Rencana di Cherrypop 2026 dan Jatuh Hati pada Band Bantul: Bleeedrz

Di antara puluhan penampil Cherrypop 2026, aku menyukai penampilan Bleeedrz sejak Ristiani muncul di atas panggung dan mengibaskan rambutnya dengan centil.

Senin pagi, 24 Agustus, tepat 07.00 WIB alarmku berbunyi. Aku harus bangun dari tidurku meski baru memejamkan mata pukul 01.00 WIB. Mataku masih berat, pinggangku cekit-cekit, dan pergelangan kaki pun terasa pegal-pegal akibat semalam lompat-lompat kegirangan. Meski begitu, aku harus tetap berangkat kerja. Sebab, seperti lagu yang ku dengar tadi malam: Roda nasib telah ditentukan oleh tuan. 

Hari sebelumnya, Minggu 23 Agustus, aku menyambangi Cherrypop Festival 2026 di Candi Prambanan. Meski pengetahuanku tentang lagu dan band yang tampil tidak begitu banyak, tapi kesempatan untuk mengunjungi ‘Lebaran Skena’ sebagai pengalaman baru tidak boleh dilewatkan begitu saja, bukan?  

“Habis ini mau nonton apa?” tanya seorang teman, saat kami beristirahat sejenak di depan Chilli Stage setelah mondar-mandir di venue sedari sore. Sebelum itu, aku habis keliling mencari makanan di area FnB, dan sedikit kesal karena terlambat menonton band yang katanya keren abis, Passive Income. 

Waktu menunjukkan pukul 18.50 WIB, aku memperhatikan rundown penampil yang ada di zine milik temanku. Penampil berikutnya akan dimulai jam 19.10 WIB. Tidak banyak yang aku tahu dari band-band yang tampil, hanya Perunggu dan The Adams. Itu pun baru akan mulai 2 jam berikutnya. 

Untuk menjawab pertanyaan temanku, aku berpikir dan menimbang-nimbang dengan tidak begitu serius. Lalu sebuah ide muncul, “Aku mau nonton yang belum pernah aku tonton. Menurutmu aku mending nonton apa?” aku balik bertanya. 

Temanku itu, membuka zine-nya lagi dan memperhatikan jadwal penampil. Ia menggumam sembari telapak tangannya memangku dagu. Aku menunggu dengan sabar, sebagai anak skena amatiran, tentu saja rekomendasinya sangat berarti bagiku. 

Zine kolaborasi Whiteboardjournal dan Cherrypop 2026 (dok. pribadi)

Salam Gondez Mendes

“Bleeedrz bagus sih, kalau mau pengalaman baru, kamu bisa coba nonton Bleeedrz.”

Rekomendasi itu yang membuatku berjalan menuju Yayapa Stage, tepat jam 19.10 WIB. Suara gitar yang berisik (noise) dan lampu-lampu berwarna merah menyambutku. Tak lama, sang vokalis berjalan ke tengah panggung menuju mic-nya. Lagu pertama mulai dinyanyikan. 

Aku menikmati ritme dan melodi yang muncul dari setiap instrumen yang dimainkan, telingaku menerimanya dengan baik, terdengar asik dan familiar. “Kok aku dengernya kayak band pop Indonesia era 2000-an ya? Tapi vibes-nya kayak Utopia,” aku berbisik pada temanku. “Haha, emang mirip band pop jaman dulu, ciri khas musik mereka ada di gitarnya yang berisik itu,” jawabnya.  

(dok. @gluemannnn)

Aku hanya bisa menggoyangkan badanku dan bertepuk tangan selama menikmati penampilan Bleeedrz. Sesekali aku memperhatikan penonton lain yang juga sedang bersenang-senang di depan Yayapa Stage. Meski lagunya tentang cinta-cintaan, tapi ada penonton yang melakukan crowd surfing di depan sana. Seorang laki-laki berambut gondrong, melayang di atas sepasang tangan menuju sepasang tangan lainnya. Ia telentang seperti menikmati gelombang, sampai satu bait terakhir selesai. 

“Halo teman-teman, di sini ada yang dari kabupaten?” sapa vokalis Bleeedrz. Beberapa penonton mengangkat tangan, termasuk temanku. “Salam gondes mendes teman-teman. Kami Bleeedrz, band asal Bantul. Kita bersenang-senang ya malam ini,” Ia melanjutkan sambil membuka jaket kulitnya. 

Selain permainan musiknya, aku cukup terpukau dengan pembawaan vokalis Bleeedrz ini. Aku sudah biasa melihat Nadin Amizah dengan kecentilannya yang anggun seperti Ibu Peri, atau Fathia Izzati yang imut dan playfull. Namun Mbak R. Ristiani, vokalis Bleeedrz, sepertinya punya magis yang berbeda. Bersama personil lainnya R. Triwibowo (gitar), YH. Sagala (drum), dan HM. Setiawan (bass) aku menyukai penampilan Bleeedrz sejak Ristiani muncul di atas panggung dan mengibaskan rambutnya dengan centil. Aksi panggungnya energik dan sedikit nakal, mengingatkanku pada lagu Monkey Boots berjudul “Liar dan Mempesona”. 

(dok. @gluemannnn)

Tetap Bercinta, Tetap Bersenang-Bersenang, Tetap Menggerutu 

Aku suka dan aku penasaran. Dua hal itu yang membuatku berselancar di internet guna mencari tahu tentang Bleeedrz saat jam makan siang.  

Bleeedrz (dibaca: bliders) adalah band Bantul, Yogyakarta yang mengusung musik noise pop. Tema di lagu-lagunya meliputi cinta, humor, dan sedikit satir tentang pengalaman hidup. Pada 9 April 2026, Bleeedrz baru saja merilis album baru bertajuk, Empat Kali Empat Enam Belas, Sempat Tidak Sempat Harap Dibalas. Album ini berisi 10 lagu yang bising dan menggugah selera. 

“Ini semua hanya lagu cinta. Tapi jika kamu menemukan hal lain di dalamnya, simpan dan jadikanlah sebagai harta untuk dirimu sendiri,” begitulah yang tertulis di liner note laman bandcamp Bleeedrz. 

Album “Empat Kali Empat Enam Belas Sempat Tidak Sempat Harap Dibalas” Bleeedrz

Seperti saran di liner note, aku mendengarkan albumnya 2-3 kali untuk menemukan harta di antara gelombang suara bising di setiap track. Lirik-lirik cinta Bleeedrz terdengar lebih jelas saat aku mendengarkannya menggunakan earphone. Aku teringat ucapan temanku waktu kami sama-sama menonton Bleeedrz di Yayapa Stage, “Lagu-lagunya simple, tentang cinta-cintaan, tapi tetep ada kritiknya dikit.”

Aku membenarkan ucapannya begitu mendengarkan lagu yang paling aku suka berjudul Lagu Patah Hati”. Betapa dunia kerja tidak ramah untuk orang-orang patah hati. Kita dituntut untuk selalu performa tinggi dan cerah ceria dengan dalih profesionalisme. Padahal, patah hati yang lebih besar justru disebabkan oleh tempat kerja itu sendiri, dengan upah yang rendah, dengan beban kerja yang menggunung, dan kemauan bos yang berganti-ganti sesuai mood-nya sendiri. 

“Mereka berebut kuasa. Mereka menenteng senjata.
Mereka menembak rakyat. Tapi kemudian bersembunyi di bawah ketek kekuasaan”

Seketika, aku hentikan aktivitas sejenak waktu suara itu terdengar pertama kali. Itu suara Munir Said Thalib, penggalan dari orasi beliau beberapa minggu sebelum meninggal.  

“Lagu apa ini?” gumamku. Aku kembali mengecek barisan judul lagu Bleeedrz. Rupanya lagu “Budi (Tak Mau Jatuh Cinta Lagi)”. Ketika dibawakan di Yayapa Stage, rekaman suara Munir itu tidak ada. Namun di track albumnya, rekaman itu menjadi pembuka lagu. 

Munculnya rekaman suara Munir Said Thalib, memberikan sensasi lain dari pertama kali aku mendengar lagu ini di panggung. Ada sensasi merinding yang membakar semangat dan kemarahan pada penguasa yang semakin lama semakin dzolim. Berita-berita buruk berkelebat di kepala, tentang bencana, kebijakan yang menyusahkan rakyat kecil, dan pidato-pidato menyebalkan. 

Ingatanku kembali pada malam terakhir Cherrypop 2026, saat Ristiani membacakan poster salah satu penonton, “Masnya yang bawa tulisan, coba diangkat tulisannya! Don’t stop talking about Palestine, Kanjuruhan, NTT, Kalimantan.”

Y.H. Sagala, sang drummer lalu maju dan meminjam mic, “Terima kasih yang udah bawa tulisan ini, terima kasih sudah mengingatkan. Bener banget teman-teman, kondisi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kirimkan doa terbaik untuk teman-teman yang terdampak, dan tetap berisik, tetap bersuara! Palestina belum merdeka!”

(dok. @gluemannnn)

Barangkali, rekaman Munir memang cocok mengawali lagu “Budi (Tak Mau Jatuh Cinta Lagi)” sebagai contoh hati nurani yang terus memperjuangkan hak sesama manusia. Barangkali juga, bisa memotivasi para ‘Budi’ yang sedang berkontemplasi dan akhirnya nanti akan jatuh cinta lagi. 

Aku percaya bahwa setiap lagu akan mempunyai makna yang bisa saja berbeda di setiap telinga pendengarnya. Bagiku, lagu-lagu Bleeedrz seperti mewakili gerutuanku setiap hari. Kadang kita hanya misuh dengan satu kata, tapi banyak emosi yang tersimpan di dalamnya. Begitu juga lagu-lagu Bleeedrz ini, dikemas dengan kisah cinta, tapi banyak pemaknaan cinta yang sarat emosi di dalamnya. 

Seperti judul track pertama, “Biarkan Kami Bercinta”. Tak ada waktu bertemu karena lembur, tak cukup tabungan untuk menikah, dan banyak lagi rintangan di negara yang sakit. Lalu ada “Ketika Cinta Telah Berlalu” track terakhir di album ini, biar ku putar lagi album ini kembali pada track pertama. 

Seru Juga Jadi Anak Skena 

Beruntung sekali aku berkesempatan menonton Cherrypop 2026. Setidaknya, alasan bertahan hidup jadi bertambah: mendengarkan lagu-lagu Bleeedrz dan nonton Cherrypop tahun depan. Pengalaman menonton dan mengulik band-band skena yang sebelumnya belum pernah aku tahu, menjadi pengalaman berkesan bagiku. 

Selain Bleeedrz, aku juga berkenalan dengan band lain yang juga tampil di hari kedua Cherrypop: Rokaroke, Noire, Pandai Besi, dan OVN (baru tahu kalau ini proyek gabungan Jenny dan FSTVLST). Tentu saja aku juga menikmati band dan penyanyi lain yang sudah aku tahu sebelumnya, seperti The Adams, Perunggu, Olski, Reality Club, Nadin Amizah, dan lainnya. Setiap penampilan mempunyai kesan tersendiri yang menyenangkan. 

Aku tahu, pasti masih banyak band-band skena lain yang keren-keren. Sebagai anak skena amatiran, tentunya aku akan sangat senang untuk mendapat rekomendasi. Barangkali, mengulik tentang band-band skena akan menjadi hobi baruku setelah ini. Barangkali, aku bisa nonton Cherrypop lagi tahun depan dengan pengetahuan lagu-lagu yang lebih banyak, dan ikutan moshing!


Editor: Zhafran Naufal Hilmy
Foto Sampul: @gluemannnn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Toko Buku: Kumpulan Puisi Rizqy Saiful Amar

Related Posts