Entah kenapa algoritma media sosial saya akhir-akhir ini menampilkan kembali potongan-potongan scene film 500 Days of Summer. Siapa sangka film debutan Marc Webb itu mengantar film 500 Days of Summer ke percakapan global dan menjadikannya salah satu karya sinematografi yang berpengaruh di dunia? 500 Days of Summer, singkatnya mengisahkan tentang hubungan antara Tom Hansen dan Summer Finn di mana 500 hari ketika Tom jatuh cinta sampai pada akhirnya ia harus merelakan pahitnya perpisahan yang lalu di-storytelling-kan dengan cara yang tidak konvensional.
Jika 500 Days of Summer membuka kisahnya dengan peringatan bahwa ini bukan cerita cinta, maka tulisan ini pun tidak diniatkan sebagai ulasan tentang cinta. Barangkali saya lebih tertarik membicarakan ekspektasi, ingatan, dan bagaimana sebuah kisah bisa tampak bahagia meski lahir dari ketidaklengkapan, serta bagaimana dengan kenyataan bahwa sesuatu yang tampak lengkap namun tidak benar-benar membahagiakan dengan cara yang sedikit filosofis.
Problematika Jatuh Cinta, Kebahagian, dan Keraguan
Beberapa waktu terakhir saya kembali merasakan jatuh cinta! Tentu bukanlah jatuh cinta yang sinematik seperti halnya pada 500 Days of Summer. Tetapi tentu saja sebagai seorang homo eroticus, situasi ini sungguh membahagiakan. Setiap pertemuan rasanya seperti sebuah berkah ilahi yang tak ingin saya lewatkan. Kendati demikian, muncul rasa janggal atas segala hal yang saya dapatkan. Perasaan pada sesuatu yang rasanya tidak lengkap dan mengganggu pikiran yang jernih. Saya mendapati adanya keraguan yang selalu muncul sejak awal saya memutuskan untuk menjalaninya.
Dalam sebuah potongan video wawancara, seorang sosiolog ternama yakni Slavoj Žižek menyiratkan bahwa konsekuensi filosofis sebuah kebebasan merupakan suatu keraguan yang abadi tentang apakah seseorang bebas atau tidak. Dalam kerangka tersebut, dapat kita pahami juga bahwa ketika seseorang merasa sepenuhnya yakin bahwa ia bebas, justru di titik itulah barangkali ia tidak benar-benar bebas.
Sebagaimana dengan kebebasan, maka dengan logika yang serupa, saya mencoba mengkorelasikannya pada cinta. Pada saat kita tidak lagi meragukan sebuah cinta yang kita miliki, maka di saat yang sama sebenarnya kita seharusnya tahu betul bahwa cinta itu sudah berakhir. Bukan perkara perasaannya sudah sirna, melainkan ruang berbagi rasa serta emosi dalam sebuah hubungan yang kian tertutup. Dalam sudut pandang yang saya yakini, ketika seseorang menilai dirinya sudah yakin dengan apa yang dia genggam saat ini, ia sebenarnya telah meruntuhkan ruang emosional yang telah ia bangun sebelumnya.
Cinta memang tidak bersyarat, namun agaknya keraguan justru jauh lebih tidak bersyarat dan tak terkendali. Ada kalanya ketika seseorang hadir di kehidupan kita namun tidak bisa kita pertahankan. Bukan karena tidak dijaga, namun semata karena nggak match saja. Bukan juga lantas karena perempuan itu jahat dan laki-laki itu bodoh atau sebaliknya. Hanya terkadang kita berada pada satu titik keraguan yang jauh lebih bisa meyakinkan kita dan membuat kita merasa lebih hidup.
Fenomena ini kemudian beresonansi pada suatu pemikiran yang disebut Paradox of Choice, konsep yang dipopulerkan oleh Barry Schwartz (2004) bahwa fakta memiliki beberapa pilihan yang baik tidak serta-merta berarti memiliki lebih banyak pilihan itu lebih baik. Alhasil jika kita tengok di sekitar kita, paradoks ini berdampak pada generasi baru yang kemudian stuck pada dilema salah pilih, takut kehilangan pilihan, dan berujung pada sebuah tren kaum modern yang disebut dengan situationship: menginginkan cinta yang pasti, tapi ragu untuk berkomitmen.
Mari kembali pada makna keraguan! Walau bagaimanapun, dalam suatu keraguan kita tetap dapat menemukan kebahagiaan. Descartes, sebagaimana dikemukakan oleh MacKenzie dan Wienand (2009), menerangkan bahwa kebahagiaan dapat dipahami sebagai kepuasan batin atau kepuasan pikiran atas terpuaskannya hasrat seseorang. Akan tetapi, kebahagiaan menurutnya dibedakan menjadi kebahagiaan sekadarnya (bonheur) dan kebahagiaan sejati (felicitas).
Kebahagiaan sekadarnya merupakan kepuasan yang diperoleh melalui keberuntungan yang kita dapatkan, misalnya kebahagiaan atas kehormatan atau kekayaan. Sementara kebahagiaan sejati dapat dimaknai sebagai kepuasan yang tidak bergantung pada keberuntungan atau sesuatu yang didapatkan, tetapi hadir dari kekuatan akal budi dan kehendak bebas seseorang, misalnya menerima keraguan sebagai sebuah bagian dari hidup.

Refleksi dan Redefinisi
Tentu saja saya tidak menginginkan hidup yang seperti Tom Hansen, lima ratus harinya habis mengejar seseorang yang sudah sejak awal ragu. Meskipun jika dipikir sekali lagi, barangkali kita juga pernah berada dalam situasi yang sama dengan apa yang dialami Tom Hansen kendati variabelnya berbeda-beda.
Betapa pun keraguan itu masih menjadi momok dalam hidup saya, argumen Descartes di atas memberi titik terang pada saya bahwa alih-alih terjebak pada keraguan yang tidak nyaman, agaknya memelihara keraguan itu tetap ada menjadi pilihan yang baik untuk terus mempertanyakan dan meragukan semuanya. Toh pada nantinya masih ada sesuatu yang tidak saya ragukan yang tetap dijalani. Layaknya Descartes bersaksi, dalam sebuah keraguan pasti ada “aku” yang sedang berpikir. Bolehlah saya sedikit mengotak-atik makna Cogito Ergo Sum menjadi Dubito Ergo Amo: saya ragu, maka saya mencintai.
Maka di hari kasih sayang ini, marilah kita merenung dan meragukan sekali lagi landasan kasih mana yang sudah kita sadari dalam memahami kebahagiaan: Apakah Bonheur pada “Aku bahagia karena dia cinta sama aku.” atau Felicitas pada “Aku bahagia karena aku tahu bagaimana mencintainya dengan benar.”.
Rujukan:
- Schwartz, B. (2004). The paradox of choice: Why more is less. Ecco.
- Slavoj Žižek dalam How philosophy got lost | Slavoj Žižek interview | IAI (The Institute of Art and Ideas, 2023), tersedia di YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=06KiOj6gjbs
- Wienand, I. (2009). Discourses and Happiness: A Reading of Descartes and Nietzsche. Ethical Perspectives, 16(1), 103-128.
Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Searchlight Pictures
