Palang Merah Indonesia dan Henry Dunant


Pada suatu siang yang biasa-biasa saja, saya dan seorang teman berjalan turun setelah mengikuti kelas yang bikin ngantuk. Di lantai bawah, bilik-bilik dadakan sekonyong-konyong berdiri, disekat kain lengkap dengan tiang-tiang penyangga. Beberapa orang sedang rebahan main gawai dengan selang terjuntai menuju kantong-kantong berisi darah. Sedang beberapa petugas sibuk dengan jarum, selang, dan kantong darah lainnya menunggu pendonor selanjutnya. Simbol palang merah tegak berdiri di rompi cokelat mereka.  

Kegiatan donor darah tentu lekat citranya dengan Palang Merah Indonesia (PMI). Walau sebenarnya, organisasi ini tidak melulu mengurusi sedot menyedot darah saja. 

Sebagai informasi, Indonesia setiap tahun memeringati Hari Palang Merah Indonesia pada tanggal 17 September. PMI sendiri sudah ada di Indonesia sejak 75 tahun yang lalu.

Baca juga: Douwes Dekker-Douwes Dekker

Mengutip laman pmi.or.id, PMI sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pada saat itu pemerintah Hindia Belanda mendirikan Het Nederland-Indiche Rode Kruis (NIRK) yang tidak lama berubah nama menjadi Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indie (NERKAI) pada 12 Oktober 1873. Namun, badan ini dihapus setelah pendudukan Jepang di Nusantara.

Baru kemudian beberapa waktu setelah kemerdekaan, Presiden Soekarno meminta Menteri Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional.

Lusanya, yakni 5 September 1945, dr. Buntaran langsung mengumpulkan lima kawannya untuk mempersiapkan pembentukan Palang Merah di Indonesia. Tokoh tersebut terdiri dari dr. R. Mochtar, dr. Bahder Johan, dr. Joehana, Dr. Marjuki, dan dr. Sitanala. Mereka menamai dirinya Panitia Lima.

Baru pada tanggal 17 September 1945, Pengurus Besar Palang Merah Indonesia terbentuk. Drs. Mohammad Hatta ditunjuk jadi ketua pertamanya. Peristiwa tersebut yang kemudian diperingati sebagai Hari Palang Merah Indonesia.

Pada tahun 1950, Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 25 tanggal 16 Januari 1950 dan Keppres No. 246 tanggal 29 November 1963. Inti dari dua keputusan tersebut menyatakan PMI mendapat pengakuan penuh dari negara.

Henry Dunant, Bapak Palang Merah Dunia

PMI telah mendapat pengakuan dari Internationaal Committee of the Red Cross (ICRC) pada 15 Juni 1950. ICRC sendiri mulanya adalah sebuah komite yang bertujuan untuk membantu korban perang sekitar tahun 1860-an. Komite ini dibentuk atas keresahan seorang Jean Henry Dunant.

Usahanya ini nantinya membuat Henry Dunant diganjar dengan hadiah Nobel Perdamaian yang pertama bersama dengan Frederic Passy pada tahun 1901. Sedangkan hari ulang tahunnya diperingati sebagai Hari Palang Merah Sedunia.

Pada tahun 1859, di Solferino Italia Utara terjadi perang antara pasukan Prancis dan Italia yang menghadang tentara Austria. Henry muda melihat begitu banyak tentara terkapar tidak mendapat pertolongan medis. Spontan, ia dan beberapa penduduk setempat menghimpun bantuan untuk menolong korban perang itu. 

Sepulangnya ke Swiss, Henry Dunant menulis buku “Kenangan dari Solferino” yang laku 1.600 eksemplar dan dicetak dari koceknya sendiri. Karyanya ini menarik perhatian bangsa Eropa. 

Un Souvenir de Solferino mengajukan pembentukan organisasi penolong prajurit perang yang cedera sekaligus mendesak perjanjian internasional tentang perlindungan terhadap sukarelawan yang memberi pertolongan.

Gagasan ini kemudian berkembang di setiap negara. Oleh karena itu, didirikanlah organisasi sukarelawan yang bertugas membantu medis Angkatan Darat sewaktu perang. 

Meskipun demikian, nyatanya kehidupan Dunant sebagai seorang tokoh tidak mulus-mulus amat. Ia terpaksa membuat pernyataan pailit atas bisnisnya karena obsesinya terhadap perdamaian. Kegiatan filantropinya harus dibayar mahal dengan hidup yang tidak menentu sampai akhir hayatnya. Ia juga didepak dari organisasi yang dibuatnya sendiri, ICRC.

Namanya kembali diingat publik setelah pada tahun 1895 sebuah media Jerman menulis artikel tentang kiprah Dunant dalam mendirikan Palang Merah. Sampai ajalnya, ia hidup di panti jompo dengan mengidap paranoia. Ia ketakutan dikejar utang dan percobaan pembunuhan. Sebuah kalimat yang diucapkan Henry Dunant terakhir kali adalah “Kemana lenyapnya kemanusiaan?”.

Pada 15 Mei 1919, Henry Davidson seorang anggota dewan perang di Palang Merah Amerika mengajukan pendapat untuk mendirikan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC). Badan ini diharapkan dapat menggantikan ICRC yang sudah usang. Badan ini bertugas mengontrol Palang Merah nasional seluruh negara di dunia. PMI merupakan anggota ke-68 dari organisasi ini.

Peran PMI di Masyarakat

Sesuai dengan fitrahnya, PMI awalnya memiliki tugas memberikan bantuan kepada korban bencana alam dan korban perang. Tugas ini merujuk pada isi dari Taklimat Jenewa 1949. Tugas tersebut juga didasarkan pada Keppres RIS.

Peranan itu tentunya bertambah selaras perkembangan zaman. Beberapa tugas lain dari PMI adalah memberikan pelayanan darah sesuai undang-undang. PMI juga membantu memberikan pelayanan kesehatan dan bantuan sosial. PMI juga berkomitmen untuk fokus pada penanganan bencana, penyebaran wabah penyakit, juga peduli pada isu remaja dan manula.

Baca juga: Mengenal 8 Khasiat Kurma untuk Kesehatan Tubuh

Selain itu, kegiatan PMI adalah mengadakan pelatihan P3K dan pelayanan transfusi darah. Jadi, yang saya lihat di paragraf pertama sebenarnya hanyalah salah satu dari tugas PMI. Tidak hanya itu, PMI juga giat melakukan kaderisasi mengenai kepalangmerahan.

Menurut laman resminya, PMI telah hadir di 3.406 kecamatan di Indonesia. Jumlah tersebut melingkupi hampir 1,5 juta sukarelawan yang siap melayani.

Namun tampaknya setelah semua yang terpapar di atas, saya masih akan sedikit gentar ketika harus berurusan dengan jarum dan kantong-kantong darah yang bergelantungan. Meskipun demikian, tentu saya akan tetap mendukung PMI dengan cara yang lain, salah satunya tulisan ini.

Selamat Hari Palang Merah Indonesia. 

 

Editor: Arlingga Hari Nugroho

Foto: Garudanews.id


Leave a Comment