Harapan Music: Menemukan Harapan Toko Rilisan Fisik Musik di Solo

Di tengah dunia yang penuh layar dan algoritma, toko Harapan Music bertahan mengoleksi rilisan fisik musik.

Tulisan ini ditulis dalam dua perspektif: Brigitta Winasis dan Trisha Alexandra, dua sudut pandang tentang kunjungan mereka ke toko Harapan Music di Solo. Seperti dua sisi kaset—side A dan side B—kisah ini merekam toko rilisan fisik, obrolan dengan pemiliknya, dan renungan kecil tentang apa yang hilang saat musik beralih ke digital.


Side A

Jika musik memiliki aroma, mungkin seperti ini wanginya.

Wangi kertas lama dari sampul album yang mulai memudar terjemur matahari, diiringi sayup sepilihan musik yang menguar dari speaker di sudut ruangan. Toko Harapan Music tak pernah senyap sejak pertama kali beroperasi pada tahun 1980-an, pada babak keduanya yang didirikan di Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo.

Warna dindingnya oranye dan biru cerah, pada satu sisi ruangan menggantung rak kayu berdekorasi sawang menggumpal. Tumpukan kaset dan compact disk yang dipajang di rak kaca mulai mengumpulkan debu. Pak Rizki, pemilik toko rilisan fisik tersebut, sibuk menata kembali tumpukan CD album di rak.

“Ini sudah sepuluh tahun,” kata Pak Rizki saat menyodorkan album Paul Simon berjudul Graceland yang menjadi album monumental dalam karier solois folk-rock tersebut. Sejak pertama kali didapatkan dari distributor sepuluh tahun lalu, Graceland masih bertengger di rak Harapan Music, menunggu pembelinya.

(dok. Trisha Alexandra)

Sama halnya dengan album best collections dari ABBA, Carpenters, hingga Metallica. Sampul-sampulnya hampir menguning meskipun tersegel baru. Pak Rizki mencoba menyediakan beberapa judul album lainnya, tetapi kebanyakan yang tersisa adalah album kumpulan greatest hits dari musisi-musisi tersebut.

“Sekarang kebanyakan orang carinya yang baru. Greenday, Coldplay, Arctic Monkeys. Kalau yang lama-lama begini sudah jarang,” kata Pak Rizki menunjuk album yang digelar di etalase kaca di hadapan kami—tiba-tiba tertarik, “Kok kalian malah sukanya yang lawas-lawas?”

***

“Sekarang di Indonesia—Sony, Aquarius—sudah nggak produksi lagi. Distributor dari luar semua.”

Hal itu menjelaskan bagaimana rilisan fisik menjadi semakin langka, perputaran penjualannya menjadi semakin lama, sementara harganya semakin mahal. Beberapa album yang disodorkan tadi, jika diteliti, adalah produksi Jepang. Namun dengan relasi yang sudah terjalin selama tiga dekade, Pak Rizki punya caranya sendiri mendapatkan rilisan fisik yang makin sulit dicari. Bahkan masih sanggup menawarkan untuk mencari album tertentu yang diminta kolektor.

“Tapi kalau sudah terjual, kita cari lagi, belum tentu akan dapat yang sama. Band yang sama mungkin, tapi belum tentu albumnya sama persis.” Mungkin hal itu yang menjadi adrenalin tersendiri bagi penikmat rilisan fisik. Atas nama nostalgia dan sensasi ‘keberuntungan’, nilai rilisan fisik menjadi lebih dari sekadar harganya yang mencapai ratusan ribu—bahkan jutaan rupiah.

Beberapa album lokal justru lebih langka lagi karena keterbatasan produksi baru. “Sheila on 7 itu sudah habis sama sekali. Itu cepat banget orang carinya. Sekarang yang ori sudah enggak ada. Adanya copy original… ya suaranya 11-12 dengan aslinya, enggak ada bedanya,” katanya mencoba meyakinkan pembeli.

***

Harapan Music menjadi rujukan penting skena musik di Solo, kalau bukan satu-satunya yang bertahan saat ini. Pak Rizki menuturkan hingga awal 2000-an masih ada beberapa toko rilisan fisik serupa, tetapi tinggal tersisa Harapan Music.

“Sekarang coba di mana lagi di Solo, kalau bukan di sini?” kata Pak Rizki, sedikit bangga sambil sedikit berkelakar.

“Kolektor banyak yang dari luar Solo. Dari luar negeri juga ada. Kebanyakan kalau orang asing, carinya langgam jawa, gending, yang musik Barat begini malah enggak cari. Kalau sekarang paling laku banyak orang cari ya, koplo.”

(dok. Trisha Alexandra)

Sementara penikmat rilisan fisik menjadi semakin tersegmentasi dalam kategori kolektor, Pak Rizki merasakan menyusutnya jumlah pembeli. Teringat pada toko pertama Harapan Music di Pasar Pon sebelum pindah ke Slamet Riyadi, Pak Rizki mengalami dari harga kaset pita masih seribu rupiah.

“Sekarang kita nggak berani ambil (rilisan) yang terlalu mahal. Kalau ada yang pesan tapi harganya lima ratus ribu, pasti saya minta DP (down payment). Kalau nggak jadi ‘kan kita rugi. Apalagi dolar makin mahal.”

Sempat terungkap sekilas, bagaimana toko Harapan Music mungkin akan bertahan sebagai sampingan Pak Rizki dan belum tentu diteruskan putranya. Walaupun sudah bertahan sebagai bisnis keluarga dari warisan ayahnya, kemungkinan-kemungkinan itu pun tetap tak menjadi penyesalan maupun kekesalan Pak Rizki. Toko rilisan fisik ini selalu menemukan orang-orang yang mencarinya, seperti menemukan Harapan.

Side B

Ketika mengunjungi toko kaset Harapan Music, saya mencoba peruntungan dengan menanyakan CD Sade tanpa harapan terlalu tinggi. Namun, saya tidak menyangka Pak Rizki, pemilik toko, menyambut pertanyaan saya dengan pengetahuan yang santai dan penuh percaya diri. Ia langsung mengambil CD yang sudah ia tahu persis letaknya dan menunjukkan The Best of Sade.

Tak lama setelah itu, datanglah pengunjung lain, laki-laki berumur empat puluhan yang mencari kompilasi dangdut. Tanpa perlu waktu lama, Pak Rizki langsung menyerahkan CD yang dicari. Keakraban dan nuansa nostalgia mungkin menjadi alasan mengapa Harapan Music masih bertahan dan dicintai di kota Solo.

(dok. Brigitta Winasis)

Saat berkunjung untuk yang kedua kalinya, antusiasme semakin besar untuk melihat apa saja koleksi yang dimiliki toko ini. Harapan Music adalah sebuah toko kaset keluarga yang sederhana, tetapi punya dedikasi pada dunia musik.

Saya pun bertanya tentang kategori musik apa saja yang dimiliki Pak Rizki. Rilisan dari Fleetwood Mac, The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, hingga musisi Indonesia seperti Candra Darusman, Koes Plus, musik religi seperti Opick dan band Melayu seperti Wali, hingga keroncong klasik, Gesang dan Waldjinah, lengkap dengan langgam klasik, campur sari, dangdut hingga klenengan, lazim ditemukan pada katalog Pak Rizki. Ragam koleksi yang begitu berwarna ini semakin menarik karena banyak musisi yang sudah tidak lagi merilis lagu mereka secara fisik, atau bahkan sudah tidak lagi melakukan rekaman. 

Percakapan dengan Pak Rizki menjadi momen yang menyenangkan, mencerahkan, dan jujur terasa seperti udara segar di tengah hiruk pikuk dunia digital. Pertemuan itu membuat saya merenung, apakah ini yang kita korbankan saat semua hal kita digitalkan? Apakah ini berarti hilangnya interaksi, tawa, obrolan ringan, dan kedekatan personal seperti yang saya alami bersama Pak Rizki?

Pak Rizki berkata bahwa musik yang baik dan buruk bukanlah soal siapa yang kamu dengarkan atau seberapa terkenal artis tersebut atau bahkan genrenya, tetapi soal selera pribadi. Apa itu musik yang bagus? Musik yang kamu suka dengarkan. Kalau nggak suka? Ya itu musik yang jelek buatmu.

Sebuah perspektif yang begitu sederhana tetapi sangat mengena. Mungkinkah Pak Rizki adalah si “skena” sesungguhnya yang menghargai semua selera musik tanpa menghakimi? Siang itu menjadi obrolan yang cukup tulus dari hati penjual ke pembeli, kami tidak merasa dihakimi. Semua jenis musik valid, ada rasa ketulusan saat menanyakan saran atau preferensi dan jenis musik apa yang akan dibeli. 

Tentu, kita bisa menikmati layanan seperti Spotify Wrapped setiap akhir tahun, atau menemukan playlist bagus saat berlangganan platform digital. Namun, interaksi langsung seperti yang dialami saat ke toko Harapan Music tak mudah digantikan.

(dok. Trisha Alexandra)

Rasa yang muncul saat menemukan album favorit kita dirilis dan tersedia di toko, atau sebaliknya, rasa kecewa saat album yang kita cari ternyata sedang kosong. Seperti saat saya mencari album Red Hot Chilli Peppers atau Blur dan tidak ada stoknya. Atau ketika saya sadar bahwa band kesayangan semua umat seperti Sheila on 7 sudah tidak merilis album fisik yang membuat CD mereka kini jadi barang langka. Atau bahkan rasa puas ketika menemukan CD Kekagumanku oleh Candra Darusman. Perasaan seperti itu rasanya sudah tidak lagi relevan ketika kita seratus persen mendengarkan musik di platform digital.

Di tengah dunia yang penuh layar dan algoritma ada sesuatu yang terasa begitu eksklusif dan terkurasi dari rilisan fisik, entah itu kaset atau CD yang menjadikannya terasa sangat klasik dan keren. Pak Rizki dengan pengetahuan musiknya yang serupa tombol search di Spotify, adalah sebentuk algoritma yang dibuat sendiri, sistem kurasi tanpa perhitungan mesin—dibentuk dari selera pribadi dan percakapan langsung seperti ini. Harapan Music mempertemukan kami kembali pada cara menemukan musik yang penuh interaksi, sebuah pengalaman kolektif sekaligus personal.


Editor: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Brigitta Winasis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Brain Motel: Lagu Psikedelik KRONG yang Menghilang dari Dunia Nyata

Next Article

Ketika Warga Merebut Ulang Medan Kontemporer

Related Posts