Kumpulan puisi ini: Aku, Saya Sudah Pernah Bilang, dan Saksi Bisu ditulis oleh Puspita Bahari. Lebih suka dikenal sebagai seorang pengepul rangkaian jejak rasa.
Aku
Aku ini arang yang terseret angin, hitam, legam, terbakar tak padam.
Merangkak di lorong kegelapan, menadah luka dengan tangan kosong.
Tiap tetes kelabu menyusupi pori, menjalar ke rongga, membatu di dada.
Perjalanan ini panjang, nyeri pun tak mau mati.
Aku ini kawanan serigala tanpa rimba, menggeram di telinga malam.
Puluhan peluru bersarang di kulit, tak lebur, tak juga menyatu.
Kuberi seribu abad rasa, tanpa luka yang sudi luruh.
Aku ini aspal yang diinjak seribu pasang sepatu,
digilas roda janji yang tumpul, yang kosong, yang bisu.
Tempurung kokoh melumat segala sumpah,
menenggelamkanku dalam samudra perjanjian, antah berantah,
lama atau baru, tetaplah semu.
Saya Sudah Pernah Bilang
Saya sudah pernah bilang,
pada tubuh yang remuk di kubangan luka,
bila sirine melolong, itu tanda kematianku,
tanda langit menggulung nyawa tanpa suara.
Saya sudah pernah bilang,
keadilan itu bayang-bayang, bisu di telinga baja,
angin mengangkutnya ke utara, ke tempat yang tak bertuan.
Tak ada jejak, tak ada gema.
Saya sudah pernah bilang,
penegakan bukan sekadar mimpi yang terpangkas fajar,
ia masih ada, mengendap di dada yang hilang,
menyala di bara, terbakar, tak padam.
Saksi Bisu
Petang sebelum malam, langit menyala,
kembang api meledak di gulita, bukan pesta, bukan suka cita,
hanya letupan perlawanan yang memecah udara.
Asap tebal menggulung jalan,
ban-ban terbakar seperti dendam yang tak padam.
Di barisan panjang, ribuan nyawa berdiri—
tangan mereka menggenggam harapan yang terkoyak,
bendera merah putih berkibar di pusaran gas air mata.
Barikade baja menancap di jalan,
tameng-tameng hitam berkilat,
berhadapan dengan dada yang berani menghadang peluru.
Teriakan menggema,
pecah bersama dentuman yang menghujam langit,
sebagian maju, sebagian mundur, sebagian rebah—
harapan luruh dalam nyeri yang tak sempat diteriakkan.
Di sudut jalan, tubuh-tubuh terkulai,
ditopang tangan yang tak henti berseru,
darah meleleh di aspal yang masih hangat,
bercampur air mata dan keringat perjuangan.
Bangunan kokoh berdiri bisu,
menyimpan nyeri yang tak terucap,
malam itu, saksi dari luka yang abadi,
saksi dari nyala yang tak akan padam,
saksi dari harapan yang menolak mati.
Penyelaras aksara: Arlingga Hari Nugroho
Foto sampul: Puspita Bahari
