Melihat Photos-Graphos di Pameran Tunggal ‘Solstice’ Vicky Saputra

Dalam pameran ‘Solstice’ Vicky Saputra, saya jadi bertanya jika fotografi tidak lagi menghasilkan imej gambar, apakah ia masih fotografi atau hanya malah justru baru menjadi fotografi?

Cukup lama bagi saya berteman dengan Vicky Saputra yang selalu menyebut dirinya sebagai seniman lukis. Kemarin, tanggal 11 Februari 2026, ia menggelar pameran tunggal untuk pertama kalinya di Sumsum Gallery, Tirtodipuran, Yogyakarta. Ada yang menarik bagi saya melihat karya-karya yang dipamerkannya, bukan pada kanvas yang berisikan lukisan abstraknya, tetapi kanvas-kanvas dan kertas yang berlubang, berwarna hitam, dan sebagian hancur terbakar.

Ucapan saya padanya ketika pembukaan pameran itu adalah, “selamat untuk pameran tunggalnya, ini karya fotografis!”. Tulisan ini saya buat sebagai “hutang” penjelasan dari ucapan saya  pada pembukaan pameran itu. Saya menulis dengan tulisan secara subjektif sebagai seorang yang bergelut dengan fotografi di dalam kesehariannya.

Pameran tunggal pertamanya ini diberi judul Solstice yang menghadirkan seri “penemuan” yang baru dikenalnya beberapa tahun belakangan selama perjalanan berkeseniannya. Pameran ini dikuratori oleh Ibrahim Soetomo di Sumsum Gallery mulai tanggal 11 Februari sampai 5 Maret 2026. Solstice memiliki arti, merujuk pada catatan kuratorialnya: 

“Judul Solstice sendiri merujuk pada momen astronomis ketika matahari mencapai titik ekstremnya dan seolah berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Dalam konteks pameran ini, solstice dipahami sebagai jeda. Ia adalah titik hening di antara dua gerak, antara terang dan redup, pula antara hadir dan lenyap. Karya-karya Vicky bergerak dalam wilayah ini: garis-garis bakar dan lubang-lubang halus yang bukan hasil tekanan ‘langsung’ dari tangan, melainkan hasil dari durasi, panas, dan intensitas cahaya. Waktu bisa dikatakan adalah unit krusial dalam proses berkaryanya, sebab setiap jejak adalah rekaman dari proses yang tidak bisa diulang secara persis.” 

(dok. Vicky Saputra)

Bagi saya, Solstice menjadi cukup fotografis ketika membaca penjelasan mengenai judul pameran tunggalnya di atas, sehingga menjadi gerbang pembuka pada tulisan mengenai pemaknaan saya terhadap fotografi ini. 

Kehadiran fotografi berawal dari pemahaman tentang cahaya sebagai fenomena alam pada zaman Aristoteles; cahaya dapat bergerak, menembus celah kecil dan membentuk sebuah peristiwa optik. Selanjutnya, pada abad ke-18, istilah “photography” diperkenalkan oleh John F.W. Herschel dengan memakai dua kata Yunani kuno, yaitu “photos” dan graphos/graphein. “Photos” yang diartikan sebagai cahaya dan “graphos/graphein” sebagai melukis atau menggoreskan. Herschel ingin mencoba membuktikan bahwa cahaya dapat mengubah material secara langsung pada material kimia.

Pada tahap paling murni ini, photos-graphos menghadirkan cahaya sebagai agen material yang menulis tanpa imej. Berabad berikutnya berbagai eksperimen siluet dan bayangan dilakukan, salah satu contohnya adalah: cahaya dipertemukan dengan permukaan yang peka terhadap cahaya untuk menghasilkan bentuk-bentuk sementara. Bentuknya masih berupa hasil pembakaran medium yang menghitam. 

Perubahan besar berikutnya dilakukan oleh Nicephore Niepce yang berhasil menghasilkan citraan secara permanen pada tahun 1820-an. Cahaya bukan dilihat sebagai jejak tinggalan, tetapi digunakan untuk membentuk gambaran secara nyata melalui bayangan yang dipantulkan oleh cahaya matahari. Pergeseran hasil observasi dan penelitian ini mengubah pemaknaan mengenai photos-graphos yang dijelaskan oleh Herschel pada penemuan pertamanya; pada awalnya sebagai tindakan material, lalu menjadi representasi visual. Kemajuan pesat terus dilakukan ketika Daguerre memperkenalkan temuannya, Daguerreotype, pada tahun 1839. Sejak saat itu, kemajuan mengenai makna dan teknologi fotografi semakin meluas hingga hari ini.

Collided – 60 x 30cm (dok. Vicky Saputra)

Penting bagi saya menjelaskan bagaimana perkembangan fotografi sebagai gerbang pembuka untuk membaca karya-karya lukis Vicky Saputra pada pameran tunggalnya yang saya sebut menyerupai hasil karya fotografi. 

Saya tidak ingin membahas fotografi yang sudah mapan hari ini, tetapi ingin menjelaskannya bagaimana karya Vicky menghadirkan sesuatu yang dijelaskan oleh Herschel pada pemaknaan awal mengenai fotografi, yaitu melukis dengan cahaya. Secara tidak langsung, Vicky tidak menjelaskan bahwa karyanya membahas bagaimana fotografi bekerja. Ia tidak membicarakan lensa, framing, eksposur atau bahkan representasi realitas. Ia berangkat dari sesuatu yang abstrak dan praktik berkesenian yang telah lama ia kenal, yaitu lukis. 

Alih-alih menjadi eksplorasi medium baru yang menjauh dari praktik lukis yang selama ini saya kenal, Vicky seakan hadir dengan menegaskan bahwa ia mendefinisikannya dengan tetap melukis dengan cahaya itu sendiri. Vicky menjadikan cahaya bukan hadir sebagai medium pencitraan imej, tetapi sebagai daya bakar. Ia mengubah energi panas menjadi alat bakar yang meninggalkan jejak kehitaman hingga taraf tertentu menjadi hancur  pada medium yang dipakainya. Matahari dipakai olehnya sebagai alat penciptaan yang destruktif.

Dalam catatan kuratorial yang ditulis oleh Ibrahim Soetomo, ia menjelaskan bahwa praktik yang dilakukan Vicky pada pameran ini merupakan bagian dari seri sunstroke. Sunstroke ditemukan oleh Vicky ketika dirinya sedang melakukan residensi pada tahun 2024. Seri ini menandai kelahiran pencarian lanjutan setelah 2020-2024 yang membahas tema identitas dan keberadaan manusia dengan memperlihatkan unsur paling dasarnya, yaitu tulang belulang yang ia gambarkan menjadi karya abstrak lukisnya. 

Pada tulisan ini yang belum saya jelaskan secara penuh mengenai fotografi di atas adalah perbedaan mendasar atara jejak dan bayangan. Fotografi dalam pengertian mapan hari ini bekerja melalui perubahan bayangan yang diabadikan melalui proyeksi cahaya yang membentuk sebuah imej gambar represensional. Hari ini fotografi seakan bergantung pada bayangan sebagai ilusi.

Sementara saya melihat karya yang dihadirkan Vicky menolak logika itu, karyanya tidak berusaha menangkap bayangan apapun, melainkan seakan memburu cahaya yang akan meninggalkan bekas. Yang tersajikan di atas medium yang dia pakai adalah jejak destruktif berupa lubang, gor  esan garis, dan warna hitam pekat yang tidak merujuk pada objek di luarnya dan tidak menghadirkan citraan seperti fotografi hari ini. sunstroke bergerak pada tindakan perubahan material pada cahaya. 

(dok. Vicky Saputra)

Peristiwa ini juga tidak bisa dilepaskan dari kehadiran tubuh Vicky di dalam proses penciptaan karya ini, tubuh menjadi alat ukur yang paling penting pada karya yang dihasilkannya. Dengan menghadirkan tubuh tepat berhadapan di bawah sinar matahari langsung, dengan melakukan pembiaran gerak tangannya yang akan mengubahnya menjadi apa yang dikehendakinya dengan bergulat pada waktu cahaya yang cukup untuk membakar, dan juga dengan jauh-dekatnya alat yang dipakai untuk membakar mediumnya.

Bagi saya, durasi waktu paparan cahaya dan alat yang dipakainya tidak bisa menentukan akan menjadi apa bakaran yang dihasilkan dan juga tidak bisa diulang secara persis. Jejak ini juga bergantung pada intensitas cahaya, waktu, cuaca dan posisi matahari menentukan. Jika pada fotografi hal ini menjadi parameter teknis yang bisa dilakukan dan diulang dalam membentuk imej gambar. 

Saya memahami penggunaan medium yang dipakai pada caption karyanya yaitu “Sun on Canvas” diartikan bukan hanya sebatas pada matahari pada kanvas, tetapi kata sifat dari “sun” itu yang ingin ia hadirkan untuk menjelaskan medium yang Vicky pakai. Memang ini terlihat ambigu di awal, tetapi ketika menelusuri lebih dalam kemugkinan makna dari penggunaan kata itu dapat mudah dipahami. 

Sebagai seorang fotografer, saya melihat waktu yang Vicky pakai menjadi keterbalikan dalam proses bekerjanya. Dalam tulisan kuratorial, Vicky bekerja pada pukul 09.00 sampai 12.00, di saat matahari berada di posisi paling keras dan biasanya malah dihindari oleh seorang fotografer. Dipandang dari kacamata medis pun di waktu ini perlu dihindari karena paparan sinar matahari yang buruk bagi kesehatan tubuh. Cahaya yang ideal bagi seorang fotografer disebut sebagai goldenhour antara jam 6.00 sampai jam 09.00 pagi karena cahaya matahari masih lembut dan hangat yang bisa menghasilkan sebuah bayangan yang lembut. Cahaya yang tidak ideal bagi fotografer justru menjadi kondisi utama dalam proses penciptaan karyanya. 

Pada tulisan ini juga saya ingin menegaskan untuk memberi applause atas keberaniannya menghadirkan seri sunstroke yang Vicky lakukan menjadi sebuah pameran tunggal untuk merangkum perjalanan berkesenian sebelumnya. Alih-alih pameran tunggalnya menjadi penegasan atas praktik melukisnya yang sudah mapan, saya mempertanyakan lebih dalam pada praktik yang ia lakukan, apakah masih dipandang sebagai lukisan atau justru ia ia mengkritiknya pada metode yang ia sudah lakukan sebelumnya.

Vicky hadir justru menampilkan metode kekaryaannya yang relative baru ia kenal belakangan tahun ini. Saya perlu bilang bahwa pameran Solstice ini bukan sebagai puncak pertama perjalanan keseniannya, tetapi sebagai titik keberangkatannya atas pernyataan bahwa praktiknya yang ia lakukan hari ini masih terbuka dan mungkin hadir kemungkinan lainnya. 

The Moon Eater – 26,5 x 26,5cm (dok. Vicky Saputra)

Selain itu juga saya melihat kemungkinan lain yang hadir di dalam pameran ini, di atas saya sudah menyentil dari praktik fotografi yang Vicky hadirkan tetapi belum sepenuhnya diliriknya, yaitu soal bayangan. Secara sitematik alamiahnya, jika ada cahaya pasti juga ada bayangan yang dihadirkannya. Sayangnya di dalam pameran ini, Vicky hanya menghadirkan lubang yang dihasilkan dari pembakaran itu menjadi sebuah karya dua dimensi yang tidak menghadirkan bayangan yang dihadirkan lewat cahaya lampu yang menyoroti karyanya itu. Padahal dalam pengamatan saya kemarin, cahaya lampu sorot itu membentuk sebuah bayangan baru di dinding belakangnya, seakan menjadi makna lanjutan untuk meluaskan pembacaan dari karya yang dihadirkannya.

Cahaya kembali bekerja dengan relasi ruang sehingga karya tidak berhenti sebagai objek saja, tetapi sebagai peristiwa visual yang terus bergerak. Karya yang dihadirkan menghasilkan peristiwa kedua, makna tidak hanya selesai pada kanvas, ruang ikut menjadi karyanya, karya Vicky bisa terus bekerja setiap kali dipertemukan dengan cahaya baru

Akhir kata, saya menyebut bahwa karya-karya yang dihadirkan Vicky pada pameran tunggalnya dengan menyebut sebagai seri sunstroke ini cahaya tidak hanya hadir sebagai penerang atau pembentuk imej, melainkan sebagai agen desktuktif sekaligus pencipta utama.

Vicky melukai mediumnya, mengubah struktur materialnya, dan dalam proses itu malah menghadirkan bentuk baru yang tidak bisa dibaca arahnya. dalam kata lain Vicky hadir melampaui dirinya di sepanjang perjalanan kekaryaannya dengan tetap menghadirkan dirinya sendiri yaitu “abstrak” pada kekaryaannya. 

Dari posisi subyektif saya sebagai fotografer inilah mungkin di sini alasan saya menyebut karya Vicky sebagai pameran tunggalnya ini sebagai karya fotografis, bukan hanya sebatas menghasilkan sebuah imej gambar, tetapi seakan kembali pada makna akar dari fotografi itu ditemukan, photos-graphos, melukis dengan cahaya itu sendiri.

Peristiwa tersebut juga menjadi pertanyaan untuk saya, jika fotografi tidak lagi menghasilkan imej gambar, apakah ia masih fotografi atau hanya malah justru baru menjadi fotografi?


Editor: Hifzha Aulia Azka
Foto Sampul: Vicky Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Persepsi: Beban Kontrol Wacana

Related Posts