Sebotol Air Mata Untukmu
Aku, memohonkan pada malam
agar luka yang menaungiku segera sirna.
Seperti air mata yang jatuh menetes,
setiap tetesnya kutampung pada sebuah botol kaca bening.
Terus saja, mengalir hingga kering,
dan kudapatkan kini: sebotol penuh air mata.
Kuberikan padanya, yang setia menanti
dengan penuh harap, berdiri tegar di tepi senja.
Ia terpana saat botol itu kuberikan padanya.
“Apa ini?” Suara lembutnya seakan mengoyak sanubariku.
“Minum saja, segera. Habiskan”
Kubukakan untuknya botol itu.
Cukup sulit, maka kubenturkan saja pada kepalaku.
Sakit. Ada darah sedikit menetes
Ah, tercampur dengan air mata itu…
“Tak apa. Sini biar kuminum”
Lembut bibirnya mengecup botol dan segera ia minum.
Tak butuh waktu lama hingga tandas.
Ia minum segala sedih dan pengorbananku.
Aku terdiam dan kupandangi dia dalam lirih;
“Semoga mampu membasuh luka dan dahagamu, akan rindu”
karena yang luka yang menyembuhkan.
Ia mendekapku erat, Aku terdiam.
Tubuhku yang rapuh ini semakin tak berarti.
Tak ada rasa, Kosong.
Kau lepas secara perlahan
seiring sepi dan dingin yang menyelimuti.
Aku terpaku, hanya memandangmu perlahan menjauh pergi.
Sampai saat ini aku masih terjaga
dalam lamunanku, berharap
Suatu saat kau berhenti melangkah
dan menoleh padaku.
Dengan mata indahmu kau pancarkan pandangan
yang mampu menyadarkanku,
seperti sebotol air mata ini.
(2016)
Ilustrasi: Pinterest

Caci dan maki, seperti sushi hanya akan menenggak habis duit
Seperti air mata air, cuma akan jadi mesin penenun rindu
Pada rasa yang tidak akan pernah tau berpulang pada apa.