Tiga Babak Kehidupan Dewasa dalam ‘Dekap Lekap’ Niskala

Barangkali saya dapat mengumpat untuk sebuah keindahan, maka karya bertajuk “Dekap Lekap” garapan Niskala akan saya sebut sebagai ‘bajingan’.

Barangkali jika saya dapat mengumpat sebuah keindahan, maka karya bertajuk “Dekap Lekap” garapan Niskala akan saya sebut sebagai ‘bajingan’. Umpatan kasar tersebut hadir bukan tanpa alasan. Karya megah milik band Post Rock asal Yogyakarta ini adalah refleksi kehidupan dewasa—karya yang memeluk jiwa-jiwa penat atas rasa bingung ataupun keputusasaan. Namun juga mengajak sosok-sosok dewasa berdiri kembali dan menata ulang harapan yang sempat porak poranda.

“Dekap Lekap” dilahirkan Niskala dalam split album bertajuk Derauantara yang dirilis pada tahun 2025 ini. Band yang beranggotakan Damar (bass), Danar (gitar), Daniel (gitar), Danis (synth), dan Indera (drum) menyumbangkan lagu lain yang bertajuk “Antara Derai”. Surgir, Semiotika, dan Under The Big Bright Yellow Sun turut mencurahkan karya mereka untuk split album ini.

Kembali pada umpatan ‘bajingan’ di atas, karya “Dekap Lekap” ini menyadarkan kita bahwa hidup sebagai sosok dewasa penuh dengan kebingungan, tangis, dan rasa ingin menyerah. Namun, kita perlu bangkit untuk hadapi hidup—yang mana terkadang membuat kita memilih untuk mengeluarkan ungkapan ‘bajingan’ ini. Selama beberapa waktu ke belakang, single ini menjadi heavy rotation saya. Setelah beberapa kali terngiang di kepala, saya membagi lagu ini menjadi 3 babak kehidupan dewasa.

Babak 1 | Rasa Lelah, Bingung, dan Putus Asa

Dalam tulisan kali ini, saya tidak akan panjang lebar menuliskan bagaimana mereka memainkan alat dan efek yang mereka kenakan. 

Babak pertama dimulai semenjak dentingan piano membuka cerita. Lantas muncul bebunyian efek gitar yang membersamai. Babak pertama ini merupakan keluh kesah kehidupan dewasa yang serba melelahkan, serba merelakan, dan rasa untuk menyerah. Setelah 8 jam penuh—dan mungkin lebih—berusaha untuk memenangkan masa depan dan sebagai rutinitas yang tiap hari harus dijalani. Melakukannya hingga tak kenal lagi dengan diksi ‘jenuh’.

Rutinitasnya yang mungkin tidak pernah dia inginkan, dengan penuh kerelaan dijalani. Mengubur mimpi-mimpinya demi memastikan hidup tetap berjalan. Meski sosok dewasa tahu bukan ini yang diinginkan. Keputusasaan untuk terus memupuk mimpinya. Kehidupan dewasa mungkin berarti bentuk merelakan mimpi yang selalu hinggap di angan.

Dalam babak ini sosok dewasa memilih untuk berhenti sejenak. Beranjak sejenak dari rutinitas untuk menepi pada ruang-ruang kosong lamunan. Terbayang begitu melelahkannya perjalanan yang ia pilih—atau mungkin tak pernah ia harapkan jalan kehidupan ini. Perasaan bingung atas kehidupan yang telah dijalani. Sudah benarkah langkah yang ia tuju atau mungkin jalan kecil ini akan membawanya menuju jurang. 

Kini dirinya dihadapkan dengan dua pilihan yang tak mudah. Usai atau bertahan?

Babak 2 | Menepi dan Ingatan Masa Lalu 

Pada menit 1:58 merupakan dimulainya babak kedua dalam single “Dekap Lekap”. Kali ini, suara tuts piano yang ditekan terasa lebih mengiris hati. Selayaknya tembang putus cinta bernada minor. Tiap bunyi not yang dihasilkan membangun suasana damai namun mengiris.

Dalam babak kedua ini, adegan menunjukkan titik kilas balik sosok dewasa akan perjalanan hidupnya selama ini. Tatkala dirinya memilih untuk menepi. Melihat kembali perjuangannya untuk bernafas hingga hari ini. Meniti kembali jejak-jejak lamanya yang penuh peluh dan darah. 

Lantas kilas balik beberapa sosok yang turut hadir dalam hidupnya. Adegan dimulai saat tokoh dewasa berjalan menyusuri lorong. Tampak orang-orang di kiri dan kanannya. Beberapa terkasih yang ada dan sudah tiada—bahkan sosok kecil akan dirinya muncul dengan wajah penuh senyum—melihat perjuangan sosok dewasa dalam melangkah. Ingatan akan mimpi-mimpi yang ditulisnya pada dinding Tuhan melalui doa. Suasana haru mulai menyeruak dalam babak 2 ini.

Babak 3 | Dekapan Hangat untuk Sebuah Harapan

Babak ketiga ini dimulai sejak instrumen drum dan gitar menyalak pada menit 2:45. Dalam narasi akhir ini, beberapa sosok terkasih datang untuk memeluk dirinya. Mengingatkan bahwa perjalanan yang tak boleh usai begitu saja. Ia merasakan pelukan dari sosok-sosok yang benar-benar dicintainya.

Begitu dirinya menengok bagian bawah, ia melihat dirinya versi kecil mendekap paling lekap. Yang mengingatkan akan mimpi masa kecilnya untuk kehidupan dewasa yang cerah. Bukankah hidup dewasa adalah cita-cita kita sejak dulu kala?

Segala pelukan ini begitu hangat untuk jiwa. Lantas menit 4:46 saat alunan vokal bercampur dengan dentingan piano, menjadi suara-suara penyemangat. Bisikan dari segalanya. Bisikan akan memori masa lalu yang telah dia lalui begitu heroik. Bisikan ini bak suara gemercik air yang menenangkan, bagai suara halus ibu. Suara-suara ini kembali menumbuhkan rasa percaya diri. Kini sosok dewasa kembali berani menatap masa depan yang serba entah. Hadapi hidup dengan gagah berani.

Sosok Dewasa Mungkin adalah Aku, Kamu, dan Kalian

Dalam meniti perjalanan, kita semua akhirnya tahu bahwa kehidupan dewasa tidak semudah bayangan masa kecil. Tidak akan semudah anak panah yang menancap sempurna saat dilesatkan menuju bullseye. 

Single “Dekap Lekap” ini hadir untuk sosok dewasa—yang mungkin adalah kita. Mungkin kita adalah sosok dewasa yang bingung untuk memulai semuanya dari mana. Yang takut untuk menginjakkan langkah. Yang harus mulai berjalan dari angka 0 bahkan minus. Yang menangisi masa depan—yang benar-benar entah. Yang takut tidak akan jadi sesuatu di kemudian hari. Mungkin yang takut akan sebuah kegagalan.

Namun atas segala prasangka negatif dalam hidup, single ini mengajarkan kita untuk tetap berani melangkah. Juga single ini menghadirkan rasa semangat untuk kita menjalani kehidupan. Selain itu, “Dekap Lekap” turut mengajarkan untuk tetap tersenyum meski pahitnya hidup menyertai, untuk memiliki rasa percaya pada diri sendiri, dan percaya pada nasib baik yang akan menghampiri.

Terima kasih Niskala.


Editor: Arlingga Hri Nugroho
Foto sampul: @kvnavsl

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

api yang diciptakan seorang laki-laki yang pernah terbakar: Kumpulan Puisi Rully Andrian Syah

Next Article

Biennale Jogja 18: Seni sebagai Laku Keseharian, Pengetahuan Lokal sebagai Akar

Related Posts